Musim cari sekolah telah tiba, awal Maret mulailah para siswa kelas akhir (dan orang tuanya) berburu informasi tentang sekolah yang favorit.  Orang tua mana yang tak ingin anaknya masuk sekolah bagus!!!  Yang SD kelas 6 mencari SMP, yang SMP kelas 3 mencari SMA.  Yang SMA kelas 3 mungkin malah sudah diterima di Perguruan TInggi. 

 Segala macam cara dilakukan baik yang legal, ilegal atau mbuh legal apa tidak.  Data-data nilai UAN tahun-2 sebelumnya laris-manis (tahun lalu saya mengumpulkan ribuan kunjungan di blog ini).  Saling mengintip dan bermain-main statistik sampai lupa bahwa ada anomali juga terjadi.  Masih ingatkah tahun lalu, SMAN 1 teladan Jogja memporakporandakan prediksi ?

 Perlukan kita berlomba-lomba cari sekolah favorit?

Mbuh yo, terserah saja.  Kalau menurut pengamatan saya, yang diterima di sekolah favorit adalah siswa-2 yang sudah hebat.  Bayangkan saja misalnya SMAN 3 Jogja, NUAN > 29.  Bukan main, itu berarti siswa-siswa yang sudah terpilih, sudah hebat.  Lha mbok ora usah diajar, mesti wis padha isa.  Bahkan kadang lebih hebat dari gurunya.  (Isa-isa malah ngenyek gurune).  Apalagi biasanya sang siswa sudah terbiasa belajar mandiri (biasanya dari SMP favorit, SD favorit juga).   Tentu sajalah lulusan SMA fav dgn mudah masuk di PT favorit pula.   Apakah kepandaian mereka sepenuhnya diperoleh dari sekolah favorit?  Coba amati saja, apakah siswa-siswa tersebut masih les di luar sekolah? neutron, primagama, ssi, elti, hana, doel, unyil lsp.   Coba saling tanya kepada teman-2, ortu teman, teman ortu, dan hitung sendiri.  Silahkan diteliti para pakar ilmu sos! Hipotesa saya (kayak ilmuwan saja) pasti banyak yg ikut les, walau sudah pinter-ter.  Mengapa? lha mesti takut kalah bersaing dengan temannya.

 Soal lain.

Teman saya, dari keluarga tak punya, IQ ya pas-pasan, sekolah di sekolah tak favorit, SMA pinggir rel-sepur dekat gendeng sana.  Masuk PT ya yang S alias swasta, untung diterima karena prestasi di SMA nya bagus (lha wong saingannya juga pas-pasan).  Tak macem-2 bisa lulus nilai baik, lalu jadi dosen di alamamaternya, lalu S2 ke luar negri, lalu S3 juga di luar negri.  Sekarang rumahnya ya bueesarrr, nyambi jadi dosen di luar negri, bolak-balik naik airasia (untung lagi di jogja dah ada) tiap minggu.  Seperti saya bolak-balik paingan-mrican saja.

Sama spt anak asuh saya, SMA di ndesoooo, nilainya bagus, masuk PTS, nilainya bagus lagi, minggu depan dah mau pendadaran, dan siap dapat beasiswa s2, mau jadi dosen tampaknya, kalau terus bisa-bisa saya dikalahkannya, he he he he.

 OK semua, ini cuma obrolan tak tentu ujungnya, karena saya sedang pusing maka nulis saja di blog ini, silahkan deh dikomentari kalau bersedia.

Kepareng, saya harus ngejar bis nih, paling malam jam 9, habis itu tak ada bis di sini.