Quo Vadis FK

Masuk FK di Indo cukup sulit, hanya tersedia 18% via SNMPTN. Dengan berbagai ‘dalih’, prosentase ’sisa’ nya dijual sangat mahal. Al hasil, hanya orang kaya yang sanggup masuk FK.

Untuk orang miskin, ada jatah juga, masalahnya, banyak orang yang tidak masuk kategori miskin, tapi memang benar-2 tak sanggup membiayai, jadi ya ‘forget it’, lupakan mimpi jadi dokter.

Angka 18% tadi, jadi persaingan yang sangat sengit.

Di sisi lain, katanya Indonesia butuh dokter banyak. Di sisi lain lagi, ternyata 30% daya tampung diisi oleh mahasiswa asing. Dus orang Indo jadi dokter tambah sulit saja.

Karena mbayar mahal, maka logikanya, nanti kalau jadi dokter juga harus balik modal. Ngitung untung-rugi. Pasien diperas. Ini sudah rahasia umum, rumah sakitpun jadi bidang bisnis, bukan sosial lagi, info ini dari dokter sendiri lho. Belum ngomong soal obat, wisss jangan ke sana deh, ini dunia lain yang tak kalah mencengangkan.

Soal ‘pendidikan kedokteran’ ini kalau kita naikkan ke pendidikan spesialis, wowww lebih ‘edan’ lagi. Tanya menteri kesehatan deh, beliau pasti tahu, nggak mungkin tidak.

Bagaimana kondisi kesehatan masyarakat Indonesia di tahun-tahun (katakanlah 10 tahun) mendatang? Mbuh bayangkan sendiri saja.

Dokter langka, ke rumah sakit or ke dokter mahal, mending ke dukun atau terkun saja (baca: “pengobatan alternatif”). Makanya di Surabaya di buka sekolah utk jadi ‘dukun’. Laris manis.

(ingat lho dukun yang saya maksud bukan dalam arti negatif lho, tapi orang yg mampu mengobati dgn cara alternatif, contoh: Romo Loogman)

Kalau saya jadi Presiden, saya akan ‘cetak’ dokter sebanyak-banyaknya, anak-2 yang nilai UANnya ‘10′ saya beri kesempatan utk jadi dokter secara gratis. Masyarakat ke puskesmas gratis, tidak bayar sepeserpun.

(* ssstttt ini ide nyontek dari negri jiran *)

!@#$%^&*(*&*()*%#$&

wis ah pusing … (mikirin gimana caranya bisa jadi presiden)

One Response to “Quo Vadis FK”

  1. haery Says:

    Lha pusing- pusing juga masih punya temen ngobrol, kan?
    Mungkin agak diubah sedikit maksudnya, pak.
    Jangan pusing untuk mikirin jadi Presiden, karena sudah banyak orang- orang ‘ambisius’ untuk ke arah sana.
    Tapi mikirin, gimana supaya Presiden agar mau dengan ikhlas pusing dan memberikan solusi. Jangan kerjanya hanya ‘pusing- pusing’ (red. jalan- jalan) saja yah…. he he he

Leave a Reply