Hati-hati memberi nama anak !

Sebagai pengajar, saya terbiasa melihat daftar nama peserta didik di lembar presensi (daftar hadir). Pada pertemuan pertama, saya pasti memanggil satu demi satu sesuai nomor urut daftar presensi sambil berusaha mengenal, menghafalkan wajah dan nama siswa. Masa perkenalan-lah.

Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, saya menyebut nama mereka dengan hati-hati dan saya edit terlebih dahulu dalam hati. Apa pasal? Karena, tak jarang saya temukan nama yang menurut saya ‘agak gimana gitu’, kalau saya sebut/baca apa adanya tentu akan menimbulkan ‘kernyitan dahi’ bagi pendengar, bahkan mungkin bisa menimbulkan rasa malu bagi pemiliknya.

Contoh, sekali lagi contoh nih, bukan benar-benar terjadi. Ada mahasiswi bernama “Slamet Fatihah”, maka saya hanya membaca kata kedua “Fatihah” saja. Begitu seterusnya.

Memang memberi nama anak, harus amat sangat hati-hati. Nama akan melekat sampai mati, jarang ada anak yang ingin mengubah namanya sendiri, meskipun dimungkinkan.

Ada kalangan tertentu memberi nama anak yang mengandung arti ‘cita-cita’ atau ‘harapan’ kelak sang anak menjadi orang yang sesuai dengan namanya. Misalnya diberi nama “Sugiharto”, dengan harapan nantinya jadi “kaya raya”, atau misalnya “Budiwan”, agar menjadi orang laki-laki yang berbudi. (kalau perempuan Budiwati kali ya). Ada juga “Melody Violin” supaya jadi pemusik. Tetapi kenyataannya bisa jadi si Sugiharto malah melarat, si Budiwan jadi perampok, si “Melody Violin” bukan ahli musik, tapi lulusan termuda Universitas Indonesia ini dari FIB. Tak sesuai namanya.

Yang lebih tragis lagi kalau si pemilik nama “Cantik Jelita” ternyata wajahnya di bawah rata-rata, si “Bagus” ternyata jerawatan kayak saya. Wah…, kasihan kan tuh anak. Makin besar dia akan makin ’sadar kondisi diri’, bisa membuatnya kurang atau tidak PD. Itu sangat mengganggu perkembangan jiwa.

Memberi nama anak dengan membawa arti harapan, cita-cita, sebetulnya baik, agar si pemilik nama ‘terbebani’ dengan namanya, dengan harapan si pemilik nama berusaha menyesuaikan sikapnya dengan ‘namanya’. Si Budiman berusaha menjadi orang yang budiman, dst.

Menurut saya yang harus dihindari adalah memberi nama anak dengan kata sifat yang menunjukkan ciri fisik, misalnya kata “Cantik Jelita”, “Ayu”, “Bagus”, “Kukuh”, “Gagah Perkasa” dlsb yang serupa itu. Sebab, pertumbuhan fisik si anak belum tentu sesuai dengan namanya. Nah !

Jika sulit menemukan nama yang mengandung harapan positif, mungkin baik juga jika nama anak adalah netral, agar dia bisa berkembang natural, normal sesuai talenta yang dimilikinya, tanpa batasan apapun, memilki kebebasan bertindak/memilih, tanpa beban nama. Misalnya nama saya he he he he, saya cari-cari di kamus tidak ada artinya, dan tidak berafiliasi pada partai atau OS apapun. (Ndak tau dapat ilham darimana tuh nyokap n bokap gue)

Ada suku-suku tertentu yang memberi nama anak sesuai dengan situasi ketika sang anak dilahirkan, misalnya diberi nama “Guntur”, “Guruh”, “Taufan”, “Bayu Sumilir”, “Samber Geledek”, “Angin Ribut” dlsb. Ingat suku Indian? Nah lebih hebat lagi memberi nama anak, misalnya “Srigala bersahutan di tengah padang pasir” , “Gerhana matahari total” … Nama-nama itu tidak membebani mental pemiliknya.

Ada juga nama dari beberapa suku di Indonesia, yang hanya terdiri dari dua kata, nama depan dan nama belakang. Nama belakang biasanya family name (fam atau marga), misalnya Ronald Sihombing, Riesta Simanjuntak (wah ini keponakan saya), Dennis Mewengkang (ponakan juga). Panus Korwa (pemain bola yg handal). Menurut saya malah aman! Tanpa tendensi apa-apa.

Oh ya perlu dipertimbangkan, memberi nama anak dengan format Internasional atau amrik-style, ada first name, middle name dan last name. Dan biasanya middle name cuman ditulis initialnya saja, misalnya John F. Keneddy. Dan panjangnya jangan melebihi kotak yang tersedia di paspor. Jangan terlalu panjang. Orang Jawa yang biasanya memberi nama anak kadang pendek kadang panjang sekali tanpa format.

Satu lagi, perlu pertimbangkan faktor ’sex’. Tak mungkin kan anak perempuan kita beri nama “Bambang” atau “Bowo” sedang yang lelaki kita beri nama “Wati” atau “Henny”. Nanti bisa membingungkan masyarakat, dan itu dosa lho!

Kalau mau aman pilih nama yang unisex, utk lelaki atau perempuan bisa dipakai dan sudah biasa, misalnya…. nama saya, he he he.

Nah, bagaimana dengan nama anda?
Anda kurang suka dengan nama anda?
silahkan ke pengadilan negri untuk ganti nama.

boleh koq.

One Response to “Hati-hati memberi nama anak !”

  1. Andy Rudhito Says:

    O, kaya kuwe ya pakdhe. Lha nek inyong iki dijening RUDHITO. Mbarang takon karo biyunge inyong, kuwe artine “SUSAH”. Wong jarene pas kuwi tahun pitung puluh siji jamane pailit, metu anak nomer telu. Jan susahe pol pokoke jarene jaman nbingene. Lha nek kaya kuwe kepriben ? Apa inyong yo kon dadi uwong susah terus? Apa perlu diruwat apa keriben apike, Pakdhe?

    NB. TOEFL MBANYUMASAN INYONG WIS 550, Pakde wis pernah tes durung jare?

Leave a Reply