Ramai Cerita Tidak Ilmiah

Dengan terpaksa selama seminggu saya menonton RCTI tanpa bisa mengubah channel, maklum numpang tidur di rumah kakak tertua saya. Sebenarnya sih, saya sudah dapat fasilitas akomodasi termasuk hotel, dalam rangka tugas. Tapi demi meningkatkan rasa kekeluargaan dan silaturahmi maka jadilah saya menginap di rumah kakak saya, di ujung timur Indonesia.

Setiap malam, sepulang kerja kirra-kira pukul 21.00 WIT, saya melakukan ritual rutin, yaitu makan malam dengan menu yang bukan main banyaknya, lalu mandi air dingin, kemudian mulailah nongkrong di depan TV sembari ngobrol ngalor-ngidul dengan keluarga kakak saya. Sambil ngobrol, mata ini juga tak lepas dari layar TV, yang kebetulan selalu nancep di channel RCTI. Sebagai tamu, saya harus menjaga diri utk tidak mengubah channel TV. Karena ngobrol sampai lewat tengah malam, dan berlangsung beberapa malam, maka saya sempat mengamati acara-acara TV tersebut.

Ternyata hampir setiap malam RCTI memutar cerita-cerita aneh yang tak masuk akal dan sama sekali tidak mendidik. Mulai dari “Tarzan cilik”, lalu “Lia”, kemudian “Sekar”, dilanjutkan dengan “Alisa” , dan berikutnya “Rafika”. Biasanya cerita seputar percintaan, perselingkuhan, perkelahian, kecelakaan, rumah sakit, polisi, pengadilan dan seputar itu. Para pemirsa disuguhi hidangan yang tidak realistis, pameran lifestyle yang hedonistik, dan jauh dari kesan religius. Dan tidak sedikit yang menggambarkan kekerasan, baik kekerasan fisik maupun kekerasan psikis yang penuh caci-maki. Silahkan coba hitung sendiri di setiap episode ada berapa makian yang keluar dari mulut bintang-bintang sinetron yang ganteng-2 dan cantik-2 itu. (bisa utk penelitian nih, teman-2 yang butuh judul skripsi dari sini banyak ide lho).

Pemirsa disuguhi mimpi-2, mungkin karena realitanya masyarakat memang ‘menderita’, maka pelariannya adalah RCTI yang ternyata memang bersemboyan “mewujudkan mimpi Indonesia”. Entah mimpi seperti apa yang ingin diwujudkan oleh RCTI terhadap Indonesia, dan apa ya bisa? Yang terjadi, masyarakat terhanyut pada kenikmatan semu, dan membuang waktu (tidak produktif), serta yang lebih parah menjadi ‘kecanduan’ acara TV yang tidak mutu itu.

RCTI yang merupakan stasiun TV swasta pertama di Indonesia ini ternyata sudah mulai kehilangan orientasi, sudah kehabisan akal, dan tinggal menunggu mati saja. Dengan kehadiran TV-TV hebat macam metro dan tv-one, yang tampil ilmiah dan mendidik masyarakat, maka RCTI bagai kehilangan kendali, kehilangan pegangan. Tunggu saja pasti nanti hasil survey SRI akan mengatakan ‘jatuhnya’ RCTI.

Harus dicermati kembali, dengan membuat acara seperti itu, RCTI akan membentuk segmen pasar pemirsa yang khusus. Dan bisa diteliti lebih jauh, orang seperti apakah yang akan menonton acara TV Ramai Cerita Tidak Ilmiah itu. Apakah segmen yang berdaya beli tinggi? yang akan membelanjakan uangnya sesuai tuntutan iklan-nya? Saya punya hipotesis, pemirsa yang suka nonton acara-acara seperti itu, adalah pemirsa yang ‘kurang kerjaan’ dan ‘tidak butuh’ informasi aktual (apalagi ttg bursa saham, politik, keuangan, dan pendidikan).

Jadi iklan yang ditayangkan ditengah acara-acara seperti itu, tidak akan berdampak pada pemasang iklan, justru malah dispromotion. Masak sih produk sehebat ‘X’ kok masang iklan di acara yang tidak mutu begini?

Ok ok…… sebentar, apa saya anti sinetron? tunggu dulu, tidak begitu. Ada sinetron yang sangat menarik, yang banyak disukai pemirsa, saya ambil contoh misalnya “Kiamat Sudah Dekat” atau “SI Doel” , ini sinetron mendidik, bermutu dan religius. Ada juga sinetron-2 luar negri yang bagus, misalnya China, Jepang, Korea, Taiwan pernah saya tonton juga dan ternyata menarik serta mendidik dan tidak ada kekerasan maupun seks.

Menurut saya RCTI harus segera berbenah, atau akan ‘koma’ dalam waktu dekat di antara menjamurnya TV-TV swasta (dan daerah).

Sekian dulu.

KL – LCCT medio maret 2009.

Leave a Reply