Hari Kartini, simbol emansipasi perempuan Jawa eh Indonesia. Tapi, coba perhatikan, bagaimana kebanyakan orang atau instansi memperingatinya. Taruhan deh, pasti paling banyak adalah acara berpakaian ‘kebaya nasional’ yang tidak begitu jelas apa arti kata nasional tersebut. Mungkin ada banyak jenis kebaya, setahu saya sih cuman ada dua besar yaitu yang ber ‘kuthubaru’ dan yang tidak. Nah loooo, nggak ngerti kan?
Biasanya bukan hanya para perempuan yang pada hari Kartini ini berkebaya, para laki-lakipun ikut-ikutan berpakaian tradisional, soalnya kapan lagi, nggak ada hari Kartono sih. Kalo ulang tahun Pak St. Kartono guru beken dari JB sih ada. (halo Pak, masih jaga UNAS yg pesertanya cuman 4 orang yach?). Para laki-laki cuman nebeng doang di hari Kartini.
Yang saya herankan, mengapa harus pakai kebaya yach? bukankah hari Kartini mencerminkan emansipasi wanita? persamaan derajat dengan para laki-laki? Kalau saya artikan sendiri sih, emansipasi perempuan adalah meluasnya lingkup arena kiprah perempuan sehingga tidak lagi terbatas pada dinding kerja domestik. Wuihhh, cek angel-e, istilah opo kuwi. Wis, pokoknya, menurut saya emansipasi perempuan membuat perempuan bisa bekerja dan dapat duit, gitu aja. Kembali ke kebaya tadi, saya kira kok kurang pas memperingati hari Kartini dengan berpakaian kebaya. Ini bukannya saya tidak suka lho, saya justru sangat suka lihat istri saya tampil pakai kebaya, tambah cantik, he he he he, habis tiap hari pakai celana panjang mlulu, mboseni.
Kenapa memperingati hari Kartini harus pakai kebaya? kok nggak pakai celana jean plus T-shirt polo, sepatu kets aja? Bukankah pakai kebaya itu ribet? dan lagi bisa kesrimpet-srimpet (hmmm bhs jawa lagi nih sorry). Kesrimpet itu artinya jalan terhambat karena memakai kain panjang (jarit? jarik? or what?). Berjalan menjadi tidak leluasa, langkah menjadi terbatas, apalagi wiron-nya harus dijaga agar tidak buyar.
Jadi?
Menurut saya tidak cocok, kalau memperingati hari kartini dengan memakai kebaya, itu justru simbol ‘kesrimpet’, bukan simbol emansipasi. nah, kalo gitu apa ya simbol emansipasi? lha ini pertanyaan sulit, sesulit yang dihadapi golkar he he he. Bingung juga saya, sampai sekarang tidak punya usulan. Lha masak pada hari Kartini semua wanita diminta memakai jean dan kaos tadi?
kan nggak lucu.
Kegiatan yg positif yg bisa dilaksanakan mungkin ya seminar hasil penelitian, misalnya apa betul Kartini itu pahlawan emansipasi?
Kenapa Kartini dimadu kok mau saja, kok tidak menolak. Bu Tien malah menghasilkan PP.10. Atau dengan mencari Kartini-Kartini lain di Indonesia, kita ungkap kelebihannya, kita tulis sejarahnya. Saya yakin tidak hanya Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien, tentu masih ada wanita lain yang hebat.
Atau kegiatan lain berupa pemberdayaan wanita. Menurut saya banyak sekali wanita hebat di Indonesia ini, tapi karena satu dan dua puluh tujuh hal mereka hanya jadi house-wife saja. Padahal kemampuan mereka (baik akademik maupun non akademik) hebat. Coba, saudara-saudara sekalian melihat di lingkup keluarga atau tetangga atau kenalan, banyak bukan wanita seperti itu? Menurut saya, itu kerugian nasional. Banyak wanita yang bisa diBerdayakan, tapi tidak termanfaatkan, atau manfatnya hanya minimal, hanya dikeluarganya, padahal mestinya bisa meluas. Bgmana caranya? wah saya tidak mau usul, nanti malah saya jadi mentri urusan peranan perempuan.
—ooo—
Beberapa hari di rumah, tanpa istri, saya melakukan pekerjaan domestik. Bangun pagi, masak air, bikin minum dan sarapan untuk anak. Lalu ngantar sekolah. Pulangnya mampir pasar Setan (padahal saya belum pernah bertemu setan di sana, nggak tahu kenapa namanya setan). Belanja di pasar, tampaknya suatu yang sepele, tapi ternyata berat buat saya. Saya harus bisa memutuskan mau masak apa, harus belanja apa, dengan berbagai batasan yang ada, harus bisa dioptimasi. Jadi ada Objective functionnya, ada constraintnya maka decision harus dibuat yang optimal, gitu kalau di genetic algorithm. Nah semua itu harus saya lakukan dengan waktu yg terbatas. Hmmm baru terasa sulitnya belanja di pasar. Beberapa hari saya lakukan, ternyata saya hanya menguasai 4 jenis masakan saja, dari belanja sampai memasak. Hari kelima sudah berputar menunya. Dan anak-anak sudah komplen, ayam lagi ayam lagi …. padahal ayam juga mahal 22 rebu per kilo.
Itu soal belanja, soal memasak. Wah … ini dia, kalau salah prosedur bisa gaswat. Ada proses-2 yang sekuensial, ada yg bisa paralel, ada pula yang irreversibel (jemur dulu baru goreng, jangan dibalik), kalau tidak menguasai itu semua, bisa kacau, lama dan rasanya ‘aneh’. Belum lagi, kadang ada interrupt, maka address pointer harus dicatat supaya tidak lupa kalau interrupt sudah selesai, kadang ada pula nested interrupt, tengah-tengah masak bel pintu berbunyi, keluar ehhh ada sales nawarin macam-macam, lha waktu sibuk menolak sales, Bu Ijal tetangga sebelah muncul, ngobrol soal macam-macam. Weleh-weleh, soft skill bener-2 harus dipakai.
Soal membersihkan rumah, mencuci setrika huhhhh, bener-bener menyita waktu dan tenaga, pantesan banyak bisnis laundry menjamur, 3 rb per kilo 3 jam jadi.
So what?
Jangan sepelekan peran ibu rumah tangga.
Kalau Ibu keluar rumah, bekerja, jadi Doktor Fisika, mengajar di PT ternama, punya penelitian tingkat internasional, jadi pejabat PT, …. weleh weleh ….. terus siapa ya yang mengerjakan pekerjaan domestik?
yup betul … pembantu rumah tangga …atau suami?
jadi jangan sepelekan pembatu rumah tangga or suami.
jadi?
suami = pembantu rumah tangga.
wis wis wis .. ngelantur kemana-mana. …
—000—
saya cuma mau bilang, emansipasi itu kadang juga harus dibayar mahal,
maka harus itung-2 an, dan jangan lupa bagian yg intangible !!!
Selamat hari Kartini !!
NB.
heran eh, hari ini kok nggak ada berita ttg hari Kartini yach?
apa kalah sama caleg gendheng?

