Pesawat Hercules milik skuadron udara 31 Halim TNI AU dilaporkan jatuh di Desa Geplak, Kecamatan Karas, Kabupaten Magetan, Rabu pukul 06.30.
Saya turut berduka cita atas meninggalnya para penumpang pesawat tersebut, semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan YME.
—ooOoo–
Dengan mengantongi ijazah SMA, plus sertifikat Pelajar Teladan, dan selembar surat penerimaan dari UGM lewat jalur PP-II (sekarang PMDK), maka saya siap berangkat merantau ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan, dengan semangat yang berkobar-kobar.
Tetapi, naik apa? bawaan banyak ..bedol kamar sih.
Masih belum terpikir, kala itu transportasi tidak sebaik sekarang, penerbangan mungkin hanya beberapa kali seminggu, kapal laut bahkan dua minggu sekali, itupun penerbangan dan kapal perintis. Disebut perintis, karena memang dalam rangka membuka isolasi daerah, dan masih disubsidi pemerintah, begitu belakangan saya ketahui.
Tiap hari, berkumpul dengan teman-2 membicarakan masa depan, rencana kami masing-2, sambil menanti hari keberangkatan yang tidak begitu jelas bila tiba. Ada yang berencana ikut test PPI (SNMPTN sekarang), ada yang mau ikut PP III atau PP IV. Ada yang ‘pokoknya ke Jawa, sekolah di sana’. Ada juga yang langsung kawin. Macam-macam rencana masa depan kami.
Suatu pagi, sekitar pukul 10, sedang asyik-2nya bercengkerama dengan teman-2, sahabat-2 saya se-genk (hallo genksorong@yahoogroups.com) tiba-tiba saya ditelpon dari rumah. “Haris segera pulang, nanti siang jam 12.00 harus sampai bandara, ada pesawat Hercules ke Jakarta, bisa bawa barang banyak”.
Weeeitttssss. Bagai diuber lebah, saya segera ngebut dengan CB-100 saya, pulang! Sampai rumah bersiap-siap secepatnya, pokoknya terbawa yang penting-2, tak ketinggalan gitar Yamaha G-225 kesayangan saya. Akhirnya saya lihat cukup banyak juga bawaan saya, dua koper besar, satu koper kecil, satu tas punggung dan gitar tadi itu. Bisa bayangkan? hue he he he .. repot bener.
Kenapa kok buru-buru amat?
Karena, bandara itu letaknya di pulau lain, Pulau Jeffman, bandara bekas milik tentara Jepun waktu Perang Dunia II dan jaraknya, wuiiihhhh 1,5 jam naik kapal ikan (kapal nelayan). Sebetulnya ada kapal yang bolak-balik ke bandara, KM. Mangi-Mangi namanya, tetapi waktunya tidak pas, sudah tertinggal. Dan ada juga speedboat (kami menyebutnya Johnson, padahal ini nama mesinnya). Saya tidak mau naik Johnson, karena saya tidak bisa berenang, he he he. Kejadian Johnson terbalik bukan hal yang langka di tengah samudera Pasifik yang ganas.
Singkat cerita, saya sampai di bandara Jeffman. Ternyata saya bertemu dengan teman-teman yang lain yang juga akan berangkat ke Jawa. Dan pesawat yang ada ternyata dua buah milik TNI, Hercules C-130. Persis sama dengan pesawat yang jatuh tadi pagi di Magetan!
Naik pesawat, cuma di absen sama Pak Tentara, “haris ada?” . “Ada”. “OK naik, berikutnya …Dani ada .. Buce ada ” dst. Saya tidak tahu bgmana nama saya bisa ada dalam daftar, ini pasti hasil kerja bapak saya.
Masuk pesawat, waaaaaaaa, kaget setengah mati saya ….., ini pesawat besar tapi tidak ada isinya sama sekali, alias kosong melompong, seperti pesawat yang belum jadi, cuma rangka dan dinding doang tanpa finishing. He he he he… Inilah pertama kali saya naik Hercules TNI. Untunglah Pak tentara membantu kami, “ini lho tempat duduknya”, wah ternyata yg dikatakan tempat duduk adalah, cuma anyaman tali pita plastik, duduknya pun berhadap-hadapan, seperti mau terjun itu lho, (maka nya model begini utk minibus disebut trooper, adu dengkul).
Barang-barang diletakkan di belakang, masih satu ruangan lho, jadi ya kelihatan tumpukan barang-2 penumpang, cuma dijaring dengan tali supaya tidak berserakan. Hercules ini adalah pesawat angkut, biasanya utk mengangkut peralatan perang, termasuk tank, jeep willys, maupun pesawat tempur. (pesawat tempur dinaikkan ke perut Hercules ini lho). Pesawat bermesin baling-baling (turbo-prop) empat biji ini sangat handal (menurut specnya lho), bisa terbang dengan mesin mati dua, take off dan landing hanya memerlukan landasan yg pendek dan seadanya, dan daya angkutnya besar. Info lengkap silahkan baca di http://en.wikipedia.org/wiki/C-130_Hercules.
Hercules tersebut, ternyata baru saja dipakai untuk mengangkut peserta transmigrasi. Kala itu program transmigrasi sedang seru-serunya. (sekarang tak terdengar ….., mentrinya ada nggak ya? kerja apa sih dia?). Padahal menurut saya bagus lho, bukan hanya pemerataan penduduk, tapi juga penyebaran budaya/ketrampilan, dan bisa memajukan daerah/masyarakat tujuan.
Kami terbang, hanya mampir di Ambon isi BBM, lalu lanjut terbang non-stop ke Halim Perdanakusuma, bayangkan begitu jauh dan lama, sangat membosankan, dengan suara mesin yg bising, tidak bisa menengok jendela, jendelanya tinggi, jadi harus manjat-manjat dulu kalau mau lihat luar. Lagi pula, kami tak bawa bekal, hausnya setengah mati, he he he. Awak pesawat cuma pak tentara empat orang, di cockpit semua, nggak pernah ke belakang lihat kami.
Malam, kami tiba di Halim. Begitulah ceritanya, pengalaman saya naik Lockheed Hercules C-130, milik TNI. Pesawat serupa ini jatuh, remuk, dan terbakar pagi ini. Jenis pesawat ini punya arti sangat khusus bagi saya. Yaitu mengantarkan saya, menapaki dunia perguruan tinggi, meraih cita-cita ….
Terimakasih Hercules C-130, terimakasih TNI. Semoga TNI, ke depan, dapat memperbaharui alutistanya. Dan sekali lagi saya turut berduka cita atas jatuhnya para korban.


