
Ini di Mallaca atau orang Melayu bilang Melaka.
Ke kota bersejarah warisan dunia ini, jangan lupa mampir ke Sate Celup Capitol, letaknya di dekat Gereja Katolik St. Francis. Dari gereja tsb jalan saja ke selatan, lalu ada pertigaan belok kiri, nah rumah makan sate celup ada di sana. Tetapi jangan salah masuk, di jalan tersebut ada dua Sate Celup, ambil yang paling ujung.
Sate Celup Capitol ini ramai dikunjungi orang terutama pada saat ‘week-end’, so kalau ke sana pas week-end, maka harus antri dengan sabar, sebab kapasitas meja hanya 8 biji, yang antri bisa 30-an orang. Parkirpun sulit, maka sebaiknya parkir saja di dekat gereja tadi, lalu jalan kaki! Kemarin saya ke sana pas hari Kamis, tidak ramai.

Apa istimewanya?
Di tengah meja bundar itu ada bolongannya, ada kompor gasnya, nah di atas kompor itu diletakkan ‘kuah utk mencelup sate’, yang berbumbu macam-macam. Entah apa saja, katanya itu bumbu ’sulit’ (maksudnya rahasia). Yang jelas, terasa seperti bumbu kacang. (ingat bumbu gado-gado atau bumbu siomay Bandung). Nah, sateya berupa rebusan setengah matang segala macam jenis makanan yang telah ditusuk dalam bentuk sate. Ada kerang, udang, tahu, jamur, kangkung, fish-ball, dan entah apa lagi, kulit sapi (rambak orang Jawa bilang) juga ada. Satu tusuk harganya 70 sen.
Silahkan anda pilih satenya, lalu masukkan ke dalam kuah tadi dan tunggu hingga matang. Harus tahu kapan matang atau masih mentah atau bahkan over-cooking. (saya ingat sewaktu makan yakiniku, nggak tahu kalau masih mentah, saya makan saja, dan akhirnya sakit tenggorokan dua bulan).
Rasanya? Hmmmmm … kata teman saya sih sedap banget. Tapi kata saya sih biasa saja, nggak ada istimewanya, yah soal selera boleh beda kan? he he he he. Saya masih lebih memilih makan di XO Tunjungan Plasa.
‘
Ada yang menarik di sana, yaitu jika anda wanita dan mampu menghabiskan 81 tusuk sate, maka tidak usah bayar, alias gratis!
Hmm, aneh aneh saja promosinya.
Satu lagi, waitress-nya orang Indonesia, saya panggil ‘mbak …mbak ..tolong ambilkan degan’, eh dia noleh dan ngerti, jebul wong Tulungagung!

