Dress Code

Ouggghhhhh, mata ini tak bisa menghindar, ketika melewati sekelompok mahasiswi yang duduk-duduk di tepi taman. Kebetulan mereka duduk membelakangi jalan – di mana saya lewat -, sehingga nampak oleh saya punggung mereka yang mulus-mulus, sampai celana dalamnya- yang aneka warna – juga kelihatan, mengintip dari ujung atas celana jean. T-shirt yang dikenakan kependekan, sehingga mau tidak mau (opsss mau ding …), itu sebagian punggung dan sebagian CD nongol. “Ini mode …Om, jangan ketinggalan mode, kunoooo”, sebagian hati berbisik begitu.

Saya amati, sebagian besar, mahasiswi di sini (universitas ‘XYZ’ tidak saya sebutkan ya, japri aja kalo mo tahu) berpakaian model begitu. Celana jean, dan T-shirt ketat yg (agak) kekecilan. Sehingga body-body yang aduhai semlohay itu semakin mantap dilihat. Wow… Saya tunggu-tunggu kok belum ada ya mahasiswi yang pakai bikini ke kampus, he he heh, atau minimal pakai rok mini atau hotpant, atau tank-top atau ‘you can see everything’. Belum ada …belum nemu…. (kalau di OZ atau UK bagaimana Bu Soe Tjen?)

Belum ada penelitian, berpakaian seperti itu (jean + T-Shirt tadi) apakah akan menimbulkan gangguan poleksosbudhankamnas. Tetapi ada beberapa universitas yang menuliskan aturan cara berpakaian di kampusnya. Ini contohnya (http://library.utem.edu.my/index.php?option=com_content&task=view&id=24&Itemid=63).

Saya pernah diundang oleh perusahaan gede, dalam rangka peluncuran produknya (saya lupa Intel atau Microsoft) waktu itu. Dalam undangan disebutkan ‘dress code’ – nya, yaitu pakai pakaian tradisional. Wah …celaka tiga belas setengah nih. Betapa tidak …..masak saya harus pakai koteka? bisa ditangkap satpol pepe ntar. Saya telpon panitianya dan saya menawar, akhirnya saya datang berbaju batik! Beres dah …

–ooOOoo–

Ke TP atau ke GM, wah …cuci mata nih. Bisa lihat dan mengamati perkembangan mode di Surabaya. Yang saya harapkan tadi terlihat di kampus, sebagian bisa dilihat di sini. Berbagai macam gaya berbusana bisa ditemui di sini, tapi tetap yang berbikini tak ada bahkan tank-top pun tak kutemukan. Edan po, ke mall pakai bikini? he he hehe.

Ternyata, saya menemukan cewek-2 berpakaian seksi, tak jauh-jauh dari apartemen tempat saya tinggal. He he he … tiwas mencari kemana-mana. Jebulnya (opo iki rek?), setiap malam ketika saya pulang sekitar pukul 12.00 tengah malam, mereka baru keluar rumah he he he, seksi semua. Biasanya berpapasan di gate depan, saya masuk mereka keluar jalan kaki. FYI, apartemen saya terletak di tengah kota, dikelilingi oleh berbagai tempat hiburan malam, tak kurang dari 8 buah bar dan diskotik, yang berjarak selemparan granat dari apartemen saya.

–ooOOoo–

Bu Megawati, beberapa hari lalu mengatakan, “saya tidak akan latah memakai jilbab, saya akan menunjukkan jati diri saya sesuai dengan kemauan saya sendiri”. Nah !!! (http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/29/08160377/Megawati.Tak.Ingin.Latah.Berjilbab). Selama ini saya lihat, Bu Mega sudah berpakaian sopan dan bagus. Nggak pernah terlihat pakai UcanC, he he he. Sementara teman saya yang dulu di seberang meja saya si Farah (hallo ayo cepetan S3-nya, ntar disalib anak saya lho heheh), yang berjilbab itu, menurut saya juga cantik dan modis. Memang susah kalau dress-code dihubungkan dengan politik dan kampanye. Bisa kalah telak tuh pasangan Ono-Ono wae dibanding pasangan KLA-WIR. Opsss kok ngomong politik …

–ooOOoo–

Menurut saya sih, orang berpakaian itu memang untuk menunjukkan jati dirinya, untuk menegaskan siapa dia. Jangan sampai ngajar di depan kelas pakai baju yang bolong-bolong, bersandal, tidak sikat gigi lagi, wahhhh. Mestinya kan ya mandi dulu, sikat gigi, sedikit wangi (jangan berlebihan kayak bu Guru SMA 8 itu, bikin pilek), pakai baju yang rapih dan bersih. Jangan yang habis ketumpahan tinta pulpen! … harus tampil prima …supaya menarik perhatian siswa, tampil menyenangkan dan menyegarkan !

Para siswa/i (mahasiswa/i) juga begitu, harus rapi dan bersih, jangan bersandal jepit, rambut gondrong tak terurus penuh kutu dan bau. Saya pernah kaget ketika ke jogja dulu (10 tahun yg lalu), lha kok para mahasiswa tampilannya lusuh, baju dekil, sandalan, rambut gondrong. Mending kalau prestasinya bagus, jeblok lagi. wah wis jan nggilani tenan!

Kalau ke mall, pakai baju sing ketok wudel-e, ya terserahlah, tapi kalau ke kampus kayaknya kok belum sesuai, nanti mengganggu keamanan lingkungan belajar. Maklum para cowok ‘belum terbiasa’ dengan pemandangan spt itu. Prestasi mereka bisa merosot (he he he, ayo diteliti para pengamat soksial . betul nggak nih.)

Jadi, berpakaian dapat mencitrakan kita seperti apa dan harus lihat-lihat mau kemana. Kalau pakai hot-pant dan tank top kayak tetangga saya tadi, ya sudah jelaslah, wong kerjanya di bar n diskotik. Pergi ke kampus tentu harus beda dengan pergi ke mall atau ke pantai. Apalagi ke gereja, atau tempat ibadah lainnya. Teman saya yang pastor itu, mati-matian harus konsentrasi ketika membagikan hosti, kalau umatnya cewek cakep berpakaian leher rendaaahhh.

Wis, mikir DWDW, gimana kita harus berpakaian !!!

Leave a Reply