Hilangnya ‘R’ di Malaysia.

Anak-anak balita di Jawa, ketika belajar mengucapkan huruf ‘R’, kadang diminta mengucapkan sepotong kalimat ini “laler menclok rel”. Lalu ulangi dengan cepat “laler menclok rel”, “laler menclok rel” …gitu. Kalau sudah lancar tentu tidak akan ‘terpeleset’, dan kalau terpeleset, maka diangap kejadian yang lucu dan menggembirakan. Di balik itu tutuntutan untuk dapat mengucapkan/melafalkan huruf ‘R’ ini cukup tinggi, sehingga hanya sebagian kecil orang Indonesia yang tidak dapat mengucapkan ‘Rrrrrrrr’.

Saya sering memperhatikan bahwa orang Malaysia, benar-benar telah kehilangan ‘R’ itupun seandainya dulu mereka punya ‘R’. Orang Malaysia, akan menghilangkan huruf R di akhir kata atau suku kata. Misalnya kata ‘tidur’ mereka akan mengucapkan dengan ‘tidu’, benar-benar tanpa ‘R’. Demikian juga kata-kata yang lain yang berakhir dengan ‘R’. Misalnya ‘benar’, ‘besar’, ‘lapor’, ‘wajar’, ‘lancar’, ‘kejar’, ‘Selangor’, ‘Kuala Lumpur’, semua diucapkan benar-benar tanpa ‘R’ bukan sedikit ‘R’. Kata ‘kerja’ juga diucapkan ‘keje’ gitu aja, bukan hanya ‘R’ yang hilang, namun ‘A’ pun berubah jadi ‘e (pepet)’. (Masih ingat Pak Harto dulu mengucapakan akhiran ‘kan’ dengan ‘ken’? nah ini mirip)

Sedangkan kata-kata yang di tengahnya mengandung ‘R’ maka akan diucapkan sedikit ‘R’, seperti anak kecil yang sedang belajar mengucapkan ‘R’, atau orang bilang agak ‘celat’ begitu. Misalnya kata ‘berita’, ‘hari’, ‘kereta’ dll, coba tengok di TV kalau ada iklan surat kabar “BERITA HARIAN”, bisa kita cermati pengucapan ‘R’ yang unik di sana.

Sejak kapan ‘R’ hilang? dan apa sebabnya?

Wah, saya tidak tahu, saya bukan pakar Bahasa Melayu. Nilai Bahasa Indonesia sayapun tidak sebagus nilai matematika saya. Tetapi saya duga, ini semua gara-gara Inggris yang menjajah Malaysia, sehingga bahasa Inggris benar-benar sangat mempengaruhi Bahasa Melayu terutama dalam wacana lisan (bukan tulisan). Seperti kita tahu, dalam bahasa Inggris, ‘R’ memang tidak kentara, hanya sayup-sayup saja. Nah, makin lama hal ini berlaku turun-temurun di Malaysia. Sehingga alat artikulasi utama mereka tidak terlatih untuk mengucapkan ‘R’. Saya amati, anak-anak kecil sekarang (usia TK, SD), di Malaysia, sudah tanpa ‘R’, dan tidak berusaha mengucapkan ‘RRRR’ yang benar-benar bunyi ‘RRRRR’.

Rico, anak teman saya, ketika di Indonesia sering diolok-olok temannya karena belum bisa mengucapakan ‘R’, ketika pindah di Malaysia, senangnya bukan main. Karena semua teman-temannya sama celatnya dengan dia.

Nah, coba ucapkan ‘laler menclok rel’ (ini bahasa Jawa lho).

Leave a Reply