Anda tahu di mana kota Sorong? Iya benar … Sorong ada di Papua, tepatnya di daerah kepala burung, silahkan lihat peta atau google earth utk memastikan. Bagi anda yang sering ke Sorong, tentu hafal benar bagaimana bandara Sorong ini. Sebenarnya, bandara Sorong dulu terletak di sebuah pulau kecil, Pulau Jefman namanya. Ini bandara bekas perang jaman Jepun dulu. Tapi sejak sekitar delapan tahun terakhir Sorong sudah punya bandara sendiri, di daratan, bukan di pulau. Nama resminya bandara “Domino Edward Osok”. Terakhir saya ke sana, bulan lalu, kondisi bandara sudah lumayan dibanding tahun 2004. Sudah ada tempat parkir yang luas. Sudah ada gedung ruang tunggu. Walaupun kecil namun sudah lumayanlah. Daripada dulu, cuma ada atap seng saja, utk kitorang tunggu pesawat, terlalu sederhana.
Yang menarik, di bandara Sorong ‘Eduard Domino Osok’ ini adalah, adanya dua buah bus, yang mondar-mandir mengantar penumpang dari ruang tunggu ke pesawat atau sebaliknya. Dan anda tahu berapa jarak dari ruang tunggu ke pesawat? tak lebih dari 100 meter saja. he he he, saya pernah ketinggalan bus ini, dan saya jalan kaki saja sampai di pintu pesawat, dan saya tidak tertinggal.
Nah bandingkan sekarang dengan bandara Svarnabhumi, Bangkok atau LCCT Kuala Lumpur. Jumat kemarin, saya di Svarnbhumi, bener-2 merasa dikerjain oleh bandara, bayangkan turun dari taxi, harus berjalan arah balik sekitar 200 meteran ke tempat check-in, setelah check-in, balik lagi ke arah imigrasi, sama jauhnya, lalu ke ruang tunggu, kira-2 ada kalau 1 km, jalan kaki bung, ke ruang tunggu E7 ! Sebagian memang ada eskalator-datarnya. Dengan menyeret dua koper besar, sakit rasanya bahu dan kaki ini. Saya jadi teringat bandara Osok di Sorong tadi yang begitu nyaman, naik bus utk jarak 100 meter saja.
Ehhhh penderitaan belum berakhir, mendarat di LCCT (Kuala Lumpur), entah apa sebabnya atau memang aturannya, itu pesawat parkir di pojok yang paling jauh dari pintu keluar. Dan kembali saya berjalan kaki, kira-2 hampir 1 km juga tuh. Belum pernah saya jalan di bandara sejauh ini. Dari pintu keluar, ke arah bus, ehhh jauh juga, 250 an meterlah. Kembali saya teringat bandara ‘Osok’ di kampung halamanku di Sorong sana.
Enak betul lho di ‘Osok’, turun pesawat langsung naik bus, di atas bus tak sampai 2 menit, masuk di ruang pengambilan bagasi, ambil bagasi langung keluar, dan mobil penjemput sudah terlihat di depan hidung. Kalau mau naik ojeg, yach tinggal melambaikan tangan saja. Beres deh.
Jadi, ternyata bandara ‘Osok’ lebih sip deh ketimbang ‘LCCT’ di KL maupun Svarnabhumi di Bangkok.
(* cuman yaitu, pilotnya harus ekstra hati2, kadang-2 ojeg juga melintas di run-way, dan tampaknya ruang tunggu sudah tak muat, harus dibesarkan lagi … heheheheh *)
Salam utk Pak Walikota Sorong (mantan teman SMA-ku).


28/10/2009 at 9:32 am
Seneng sekali punya teman yang hebat! bangga rasanya!
selamat ya Pak.. walaupun saya belum ke sorong setidaknya saya kenal papua karena dikenalkan sodara saya yang di Timika. beliau bertugas disana…Semoga tambah maju semua ya Pak?? soalnya saya juga kirim barang ke sorong.saya baru tau Pak..cerita bandaranya!….tks atas sekilas infonya