Hati-2 belanja di Pat Pong – Bangkok

Sama juga dengan belanja di kaki lima Malioboro Yogyakarta Indonesia, atau di Petaling Chinatown KL Malaysia, namanya tempat tujuan wisata,  pasti sipenjual pengin ambil untung sebanyak-banyaknya.   Siapa tahu ada turis yang lagi pusing dan nggak mikir soal nilai-tukar uang, sehingga benar-2 bisa dikerjain.

Nah, dua hari lalu saya ke Pat Pong,  memang ini red-district area, tapi saya bukan mau ‘jajan’ di sana melainkan cuma mau mejeng alias berfoto saja, bukti bahwa sudah sampai Pat Pong he he hehe.   Dari hotel Imperial Queen Park tempat saya menginap, saya jalan kaki menuju Phram Phong BTS station (KRL nya Bangkok).  Dari Phram Phong ini naik BTS dan turun di Siam Station, ganti BTS menuju ke Sala Daeng.  Turun di Sala Daeng (ambil yg kiri sepur, bukan yang kanan), lalu menyusuri pertokoan.  Kira-2 75 meter, sampailah di Pat Pong.   Berfoto sejenak, hehehe.  Dan memang betul itu daerah lampu merah, banyak tempat hiburan malam.   Saya anjurkan sebaiknya jangan ke sini kalau memang mau jalan-jalan saja, karena akan banyak gangguan.   Banyak orang menjajakan ‘gituan’ tanpa tedeng aling-aling, dan ini mengganggu perjalanan saya yang memang cuma mau jalan-2.    Pat Pong ini ada dua jalan, satunya masih mending, karena banyak penjual macam-2 barang seperti halnya di Petaling (KL).   Sedang satunya lagi, wow … hati-2 banyak pondan yang cakep-2 dan bisa memaksa anda utk jajan.  Nah, ternyata, ketika saya mencoba menawar suatu barang, wah wah wah harganya bukan main mahal, ditawarkan dengan harga setinggi langit saudara-saudara …  tas yang seperti di pasar wonokromo saja, ditawarkan 4800 baht, saya pikir dia gila tuh… perkiraan saya 200 ribu rupiah saja lah.     Dan, para penjual itu selalu ‘memaksa’ agar kita membeli, kadang dengan cara kasar.  Memang boleh menawar, tetapi dengan pasang harga awal setinggi itu, kita mau berani nawar berapa?   Seandainya kita menawar separuhnya, maka dia sudah untung berlipat-lipat ganda.  Itu tas saya tawar 100 baht, dia muring-2, saya juga muring-2, tetapi dgn bahasa masing-2 …, tak pisuhi … jiannnnnc*k dia nggak ngerti hehehe dan sebaliknya.   Jadi kalau tak berani adu urat leher, jangan coba-2 menawar barang di sini.

Singkat kata, sebagai tips utk rekan-2 yang mau belanja di sana, tawarlah dengan harga sepersepuluh dari yang ditawarkan.   Dan ini tips jitu, biasanya berhasil, dan dia sudah untung serta kita tidak rugi, ini subyektif lho menurut pengalaman saya.   Sebagaimana di Malioboro kalau menawar, tawarlah sekitar seperempat dari yang ditawarkan penjualnya.

Memang begitulah penjual, selalu ingin cari untung besar, namun kalau penawaran awal terlalu tinggi, saya kira sudah tidak bermoral lagi tuh penjual.   Mestinya harga dikontrol pemerintah, dan keuntungan juga diatur.   Untuk hal seperti ini banyak negara yang belum bisa melakukan.

Bangkok (dan Pat Pong) ini, kalau tidak dibenahi, maka sektor turisme akan tiarap, dari koran yang saya baca hari itu, ternyata jumlah turis sudah turun sebesar 38% dibanding tahun lalu.    Saya jadi teringat, di Jogja dulu juga ada aturan dari pemda agar penjual makanan lesehan (di malioboro) wajib menampilkan daftar harga makanan, agar pengunjung tidak kena ‘thuthuk’ alias bayar muaahhhaaalll.

Salam.

hs

One Response to “Hati-2 belanja di Pat Pong – Bangkok”

  1. chacha Says:

    Kalo saran saya mas,sebaiknya jgn belanja di tempat2 turist aja..Kita kan ke sana hanya mau me-nurist aja..dgn kata lain jln2 dan cuci mata.Belanja dan nawar2 itu bikin stress kdg.Inget me-nurist ya..bkn jd na-turist hehehhe.

Leave a Reply