Tujuh Belasan

Bulan Agustus datang, orang ramai-ramai menulis tentang kemerdekaan, arti kemerdekaan, merebut kemerdekaan, mengisi kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, pokoknya ada kata ‘kemerdekaan’.

Saya juga ikutan !

Bulan Agustus, selalu datang setiap tahun, dan setiap kali, pasti ada keramaian berbagai pihak ‘memperingati’ hari kemerdekaan.   Namun sejauh yang saya amati, ternyata kebanyakan yang terjadi adalah bukan ‘memperingati’, melainkan mengadakan kegiatan untuk bersenang-senang, meriah, dapat hadiah dalam lomba ini-itu.    Membuat gapura, membuat tulisan dirgahayu, pasang lampu warna-warni, mengecat sana-sini.   Ada juga karnaval, mulai dari jalan kaki, bersepeda roda dua, sampai kendaraan kelas berat roda enam-belas.    Lalu di berbagai instansi dan sekolah, ada upacara bendera, yang formatnya sudah tertentu.   Bahkan kadang-2 upacara dilakukan secepat-kilat, karena para boss mau ikut upacara lagi di level lebih tinggi.    Anak-2 sekolah habis upacara bisa jadi langsung bertebaran entah kemana, yg jelas tidak melanjutkan pelajaran di sekolah.

Setelah hiruk pikuk ‘memperingati’ hari kemerdekaan usai, maka kita semua kembali ke dalam rutinitas seperti biasa.    Anak sekolah ya tetap bersekolah dgn segala tetek-bengeknya, dgn UAN-nya yang menakutkan misalnya.  Orang tua kembali sibuk dengan pekerjaannya, dengan kepusingannya mengelola penghasilan yang tak sebanding dgn pengeluarannya, sibuk mencari peluang, baik yang halal maupun yang agak halal.   Dalam hati saya bertanya, “apa yang kita dapatkan, baik secara tangible maupun intangible, dari hiruk pikuk memperingati kemerdekaan itu, berkaitan dengan kehidupan kita berbangsa dan bernegara?”.

Saya pribadi – yg sudah tua ini -, tidak merasakan manfaat dari hiruk-pikuk ‘memperingati kemerdekaan’ itu.

—ooOoo—

Duluu, ketika masih SD, diajari menyanyikan lagu-2 cinta tanah air (kami sebut lagu-2 wajib kala itu), cukup banyak.  Setiap Senin ada upacara, menaikkan bendera merah-putih, menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dengan khidmat.  Membaca Pancasila, Pembukaan UUD 45, bahkan saya termasuk salah satu yang hafal Pembukaan UUD 45 itu (sampai sekarang lho).    Setelah mendengar wejangan dari bapak kepsek, upacara selesai, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu cinta tanah air tadi.     Saya (yg masih anak-anak) waktu itu, sangat ‘terpengaruh’ oleh kegiatan/suasana saat itu.   Pendek kata, sadar menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Di SMP , dan SMA juga demikian.   Kami bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan baik, juga lagu-lagu lainnya.   Puncaknya biasanya pada saat upacara 17-an tiba.   Semua berkumpul di lapangan utk upacara di tingkat kabupaten.    Hampir semua sekolah mengirimkan wakil siswa-siswinya dalam upacara tersebut.   Dan saya? tidak pernah absen, bahkan boleh dikatakan hampir selalu menjadi petugas upacara.  Misalnya petugas menaikkan bendera dll.    Rasanya bangga betul, walau di tingkat kabupaten.   Dan rasanya ‘Indonesia’ banget gitu lho.    Apalagi, ketika saya melihat bapak saya (yg pahlawan itu) lengkap dgn pakaian dinas upacaranya, berdiri di deretan depan.  Dan juga tak jarang kakak saya yg alumnus akabri itu, berdiri tegap menjadi komandan upacara.    Lebih-lebih, ketika saya diberi penghargaan dalam upacara 17-an tersebut, sebagai pelajar teladan.  WUihhhhh rasanya Indonesia ini menjadi milik saya, bangga betul jadi anak Indonesia.

Itu cerita duluuuu sekali, waktu jadi anak sekolah.

–ooOoo–

Ketika kuliah?  wah…. saya kehilangan moment-2 istimewa di hari kemerdekaan, mungkin pas angkatan saya saja yang tidak terlibat.   Seingat saya, selama kuliah saya tidak pernah hadir upacara bendera 17-an di kampus saya., padahal pengin banget ikut kalau ada.

Ketika bekerja juga sama saja, bahkan karena kesibukan mencari uang ini, sudah tidak memperdulikan lagi ttg hal-hal seperti itu, lagu Indonesia Raya mulai jarang, amat jarang saya nyanyikan.   Semoga saja tidak lupa syairnya.   Pancasila dan Pembukaan UUD 45 memang masih hafal, tapi cuma hafal doang, tidak lagi ‘concern’ dgn makna yang tersirat di dalamnya, itu buang-2 waktu saja.      Makin lama rasa kebanggaan thdp tanah air, makin tidak jelas, masih ada atau tidak.   Terjun dalam masyarakat, semakin ruwet melihat kenyataan yang ada.

Makin hari kenyamanan dan kesejahteraan tidak meningkat, jumlah kendaraan dan polusi yang jelas meningkat! Kayaknya makin jauh dari cita-cita di Pembukaan UUD 45.   Ranking korupsi masih tinggi, human development index masih jelek.   Kerukunan bagai api dalam sekam.   Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.   Mbah Surip yang biasa itu jadi terkenal, sementara orang Indonesia pasti banyak yang nggak kenal sama cewek yang bernama Soetjen Marching.

–ooOoo–

Memperingati kemerdekaan, sudah tanpa makna. Setelah selesai memperingati hari keramat ini, kita kembali ‘eker-ekeran’ dhewe.   Terus kemana rasa kebangsaan kita ini?  Lihat saja perilaku para elit politik, lihat saja KPK vs POLRI, atau KPU vs MK, kapan kita bisa ‘rangkulan’ utk membangun negri ini ke arah yang lebih baik ya?

Barangkali, kita harus mendeklarasikan, perang, mengangkat senjata melawan negara lain,  ostrali umpamanya, baru kita bisa ‘rangkulan’.

gitu kali ya …

salam,

harisxyz di luar negri, bukan ostrali.

Leave a Reply