Informasi yang (tidak) informatif

07/08/2009

Kadang, penulis di media massa online lupa bahwa tulisannya bisa dibaca oleh orang-2, tak mengenal batas ruang dan waktu.   Kadang, sang penulis cuma menganggap, bahwa pembaca adalah tetangganya sendiri, atau orang-orang yang tinggal sekota dgnnya saja.

Ambil contoh berita ini “Maspion Adventure Carnival (MAC)” yang ditulis oleh jawapos.co.id hari ini, di sana tidak dituliskan di mana letak geografis atau alamat dari MAC tersebut, dianggapnya semua pembaca sudah tahu seluk beluk Surabaya.   Saya yang tertarik ingin ke sanapun menjadi kesulitan.  Harus bertanya dahulu ke pihak lain.

Bukan hanya media massa yang online, yang offlinepun tak jarang memuat tulisan yang kurang informatif.

Satu contoh, coba perhatikan koran-koran daerah, coba baca iklan bioskop, nah di sana hampir semuanya tidak menuliskan alamat bioskop tersebut.  Jadi sebagai turis lokal, saya tidak bisa langsung mengetahui dengan tepat di mana posisi bioskop tersebut.     Coba deh tengok koran ‘KR’ terbitan Jogjakarta, atau koran-2 lain.

Sepertinya para redaktur sudah harus bekerja lebih giat dan jeli lagi deh, bukan hanya kesalahan ketik (seperti tgl 24 september katanya hari libur natal, ini kata kompas.com nih)  melainkan juga kelengkapan informasinya, jangan hanya setengah-jadi.

Kuwi marak-ke mangkel…

(aku dhewe sing mangkel …, he he he he)


Bandara Sorong vs bandara LCCT dan Svarnabhumi

02/08/2009

Anda tahu di mana kota Sorong?  Iya benar … Sorong ada di Papua, tepatnya di daerah kepala burung, silahkan lihat peta atau google earth utk memastikan.    Bagi anda yang sering ke Sorong, tentu hafal benar bagaimana bandara Sorong ini.   Sebenarnya, bandara Sorong dulu terletak di sebuah pulau kecil, Pulau Jefman namanya.  Ini bandara bekas perang jaman Jepun dulu.   Tapi sejak sekitar delapan tahun terakhir Sorong sudah punya bandara sendiri, di daratan, bukan di pulau.   Nama resminya bandara “Domino Edward Osok”.    Terakhir saya ke sana, bulan lalu, kondisi bandara sudah lumayan dibanding tahun 2004.    Sudah ada tempat parkir yang luas.  Sudah ada gedung ruang tunggu.  Walaupun kecil namun sudah lumayanlah.   Daripada dulu, cuma ada atap seng saja, utk kitorang tunggu pesawat, terlalu sederhana.

Yang menarik, di bandara Sorong ‘Eduard Domino Osok’ ini adalah, adanya dua buah bus, yang mondar-mandir mengantar penumpang dari ruang tunggu ke pesawat atau sebaliknya.    Dan anda tahu berapa jarak dari ruang tunggu ke pesawat?   tak lebih dari 100 meter saja.    he he he, saya pernah ketinggalan bus ini, dan saya jalan kaki saja sampai di pintu pesawat, dan saya tidak tertinggal.

Nah bandingkan sekarang dengan bandara Svarnabhumi, Bangkok atau LCCT Kuala Lumpur.   Jumat kemarin, saya di Svarnbhumi, bener-2 merasa dikerjain oleh bandara,  bayangkan turun dari taxi, harus berjalan arah balik sekitar 200 meteran ke tempat check-in, setelah check-in, balik lagi ke arah imigrasi, sama jauhnya, lalu ke ruang tunggu, kira-2 ada kalau 1 km, jalan kaki bung, ke ruang tunggu E7 ! Sebagian memang ada eskalator-datarnya.  Dengan menyeret dua koper besar, sakit rasanya bahu dan kaki ini.   Saya jadi teringat bandara Osok di Sorong tadi yang begitu nyaman, naik bus utk jarak 100 meter saja.

Ehhhh penderitaan belum berakhir, mendarat di LCCT (Kuala Lumpur), entah apa sebabnya atau memang aturannya, itu pesawat parkir di pojok yang paling jauh dari pintu keluar.   Dan kembali saya berjalan kaki, kira-2 hampir 1 km juga tuh.  Belum pernah saya jalan di bandara sejauh ini.    Dari pintu keluar, ke arah bus, ehhh jauh juga, 250 an meterlah.    Kembali saya teringat bandara ‘Osok’ di kampung halamanku di Sorong sana.

Enak betul lho di ‘Osok’, turun pesawat langsung naik bus, di atas bus tak sampai 2 menit, masuk di ruang pengambilan bagasi, ambil bagasi langung keluar, dan mobil penjemput sudah terlihat di depan hidung.  Kalau mau naik ojeg, yach tinggal melambaikan tangan saja. Beres deh.

Jadi, ternyata bandara ‘Osok’ lebih sip deh ketimbang ‘LCCT’ di KL maupun Svarnabhumi di Bangkok.

(* cuman yaitu, pilotnya harus ekstra hati2, kadang-2 ojeg juga melintas di run-way, dan tampaknya ruang tunggu sudah tak muat, harus dibesarkan lagi … heheheheh *)

Salam utk Pak Walikota Sorong (mantan teman SMA-ku).


Menyusuri sungai Chao Praya Bangkok

02/08/2009

Sungai Chao Praya ini merupakan sungai yang besar, membelah kota Bangkok.   Perkembangan kota Bangkok ini diawali dari sungai ini.  Di sepanjang sungai ini banyak terdapat candi-candi Budha (mereka sebut Wat).    Menyusuri sungai ini, merupakan agenda wajib bagi para turis.   Sekali lewat, kita bisa men-scan banyak tempat tujuan wisata.   Salah dua yang terkenal adalah Grand Palace dan Wat Pho.

Kebetulan saya menginap di Imperial Queen Park Hotel,  sehingga harus naik BTS dua kali (BTS ini sejenis KRL), dari stasiun Pham Prong ke Siam, lalu dari Siam ke Thaksin.  Nah di satsiun BTS Thaksin inilah, kita akan mulai banyak ditawari oleh penjaja tour utk menyusuri sungai.  Berbagai tawaran menggiurkan disampaikan plus foto-2nya dengan harga yang relatif mahal (lebih dari 1000 baht).  Nah ini saatnya anda waspada dan hati-2, saya sarankan anda jangan terpengaruh, dan jangan beli apa-apa disini.   Berjalanlah terus sampai ke bawah, keluar dari stasiun, dan langsung ketemu sungai, ketemu dermaga.

Menurut saya ada dua pilihan yang menarik bgmana cara anda menyusuri sungai yang sangat lebar dan berombak cukup besar ini.  Pilihan pertama, anda bisa ikut perahu khusus turis, bayar 130 baht/orang., anda harus menyisihkan waktu sekitar 4 jam pp, maka sebaiknya datanglah sebelum jam 11.00 di dermaga ini.    Perahu cukup besar, bisa mengangkut sekitar 120 orang, dan ada pemandu berbahasa Inggris.    Perahu ini akan menyusuri sungai dan akan berhenti di dermaga dekat Grand Palace dan Wat Pho, tetapi ingat untuk masuk ke kedua tujuan tersebut, anda harus bayar sendiri 50 baht.

Pilihan kedua, nah ini pilihan yang saya ambil, sebagi turis yang berkantong tipis dan suka tantangan (maksudnya bisa ngirit hehehe).  Pilihlah naik perahu reguler.  Perahu ini melayani rakyat kebanyakan, dan memang sehari-2 untuk transportasi kota, lewat sungai.   Banyak masyarakat menggunakannya.   Ada beberapa jalur (merah, hijau, kuning dan orange).  Pilihlah yang orange,  karena jalur ini akan singgah di GRand palace dan Wat Pho.  Hati-2 jangan salah naik, karena kalau salah anda akan terbawa ke lain tujuan.   Di perahu terlihat benderanya, yang berwarna sama dgn warna jalurnya.  Anda bisa salah naik karena pengumuman selalu menggunakan bahasa Thai, bukan bhs Inggris, so hati-2 kawan …

Tiket bisa dibeli di dermaga, bisa juga di atas kapal, ada kondekturnya, persis seperti kalau naik bis kota di Jawa.   Kalau pas ramai, anak-2 sekolah pulang, atau orang kantoran pulang, maka bisa saja anda tidak kebagian tempat duduk, berdiri bergelantungan juga pemandangan biasa di sini.    Nah, turunlah di dermaga Grand Palace, tiket cuma 20 baht.  Murah bukan?   Oh ya, jangan pilih duduk di depan, nanti terkena air yang muncrat, karena ombak yang cukup besar.

Turun di Grand Palace, ikut saja arus orang keluar, nanti ketemu Grand Palace, masuknya bayar 50 baht.  Dari grand Palace anda bisa ke Wat Pho, itu patung Budha yang tiduran, terbuat dari emas, dan buesaaaarrrr sekali.   Dari Grand Palace bisa naik tuk-tuk 40 baht, tidak jauh sih, cuma akan capek kalau jalan kaki.     Di Wat Pho ini anda bisa berfoto-foto, lepas sandal dulu kalau masuk.  Sayangnya itu patung Budha yg tiduran, tidak bisa di foto utuh, sebab terlindungi oleh bangunan dan dikelilingi rantai dengan pengamanan ketat.  Mungkin jaga-jaga siapa tahu ada turis yang mau ‘nyuwil’ jarinya, kan lumayan … berapa gram emas tuh, he he he.

Dari Wat Pho, anda bisa kemana-mana ke Wat Wat yang lain, silahkan lihat peta!  Dan pulangnya nanti, silahkan ke dermaga terdekat, dan naik perahu lagi pilih jalur (warna/bendera) yang singgah di dermaga  Thaksin.  Dar Thaksin ini anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan BTS (ini sejenis KRL, tapi dijamin jauh lebih aman dan nyaman ketimbang  KRL jabotabek).

OK, ada pertanyaan?

silahkan, saya tunggu.


Hati-2 belanja di Pat Pong – Bangkok

02/08/2009

Sama juga dengan belanja di kaki lima Malioboro Yogyakarta Indonesia, atau di Petaling Chinatown KL Malaysia, namanya tempat tujuan wisata,  pasti sipenjual pengin ambil untung sebanyak-banyaknya.   Siapa tahu ada turis yang lagi pusing dan nggak mikir soal nilai-tukar uang, sehingga benar-2 bisa dikerjain.

Nah, dua hari lalu saya ke Pat Pong,  memang ini red-district area, tapi saya bukan mau ‘jajan’ di sana melainkan cuma mau mejeng alias berfoto saja, bukti bahwa sudah sampai Pat Pong he he hehe.   Dari hotel Imperial Queen Park tempat saya menginap, saya jalan kaki menuju Phram Phong BTS station (KRL nya Bangkok).  Dari Phram Phong ini naik BTS dan turun di Siam Station, ganti BTS menuju ke Sala Daeng.  Turun di Sala Daeng (ambil yg kiri sepur, bukan yang kanan), lalu menyusuri pertokoan.  Kira-2 75 meter, sampailah di Pat Pong.   Berfoto sejenak, hehehe.  Dan memang betul itu daerah lampu merah, banyak tempat hiburan malam.   Saya anjurkan sebaiknya jangan ke sini kalau memang mau jalan-jalan saja, karena akan banyak gangguan.   Banyak orang menjajakan ‘gituan’ tanpa tedeng aling-aling, dan ini mengganggu perjalanan saya yang memang cuma mau jalan-2.    Pat Pong ini ada dua jalan, satunya masih mending, karena banyak penjual macam-2 barang seperti halnya di Petaling (KL).   Sedang satunya lagi, wow … hati-2 banyak pondan yang cakep-2 dan bisa memaksa anda utk jajan.  Nah, ternyata, ketika saya mencoba menawar suatu barang, wah wah wah harganya bukan main mahal, ditawarkan dengan harga setinggi langit saudara-saudara …  tas yang seperti di pasar wonokromo saja, ditawarkan 4800 baht, saya pikir dia gila tuh… perkiraan saya 200 ribu rupiah saja lah.     Dan, para penjual itu selalu ‘memaksa’ agar kita membeli, kadang dengan cara kasar.  Memang boleh menawar, tetapi dengan pasang harga awal setinggi itu, kita mau berani nawar berapa?   Seandainya kita menawar separuhnya, maka dia sudah untung berlipat-lipat ganda.  Itu tas saya tawar 100 baht, dia muring-2, saya juga muring-2, tetapi dgn bahasa masing-2 …, tak pisuhi … jiannnnnc*k dia nggak ngerti hehehe dan sebaliknya.   Jadi kalau tak berani adu urat leher, jangan coba-2 menawar barang di sini.

Singkat kata, sebagai tips utk rekan-2 yang mau belanja di sana, tawarlah dengan harga sepersepuluh dari yang ditawarkan.   Dan ini tips jitu, biasanya berhasil, dan dia sudah untung serta kita tidak rugi, ini subyektif lho menurut pengalaman saya.   Sebagaimana di Malioboro kalau menawar, tawarlah sekitar seperempat dari yang ditawarkan penjualnya.

Memang begitulah penjual, selalu ingin cari untung besar, namun kalau penawaran awal terlalu tinggi, saya kira sudah tidak bermoral lagi tuh penjual.   Mestinya harga dikontrol pemerintah, dan keuntungan juga diatur.   Untuk hal seperti ini banyak negara yang belum bisa melakukan.

Bangkok (dan Pat Pong) ini, kalau tidak dibenahi, maka sektor turisme akan tiarap, dari koran yang saya baca hari itu, ternyata jumlah turis sudah turun sebesar 38% dibanding tahun lalu.    Saya jadi teringat, di Jogja dulu juga ada aturan dari pemda agar penjual makanan lesehan (di malioboro) wajib menampilkan daftar harga makanan, agar pengunjung tidak kena ‘thuthuk’ alias bayar muaahhhaaalll.

Salam.

hs


Pengamanan pasca BOM

18/07/2009

saya amati, biasanya setelah terjadi ledakan bom, maka prosedur pengamanan diperketat, baik di lokasi ledakan maupun di lokasi-2 yang serupa. misalnya kalau ledakan di hotel, maka hotel-2 yang serupa (kelasnya terutama) melaksanakan pengamanan yang ekstra ketat. juga restoran, mal-2 yang sekelas.

kisah terbaru, kemarin terjadi ledakan bom di Ritz-C dan JWM Jakarta, maka JWM Surabaya juga kemudian melakukan pengamanan yang katanya siaga-1.

ini hal yang klasik, setelah kejadian, baru diadakan pengamanan. bukan hanya soal bom, soal pesawat celaka juga sama, setelah ada satu pesawat rusak rodanya misalnya, maka ramai-2 pesawat lain juga memeriksa roda-nya. menurut saya, ini bagus, daripada tidak diperiksa sama sekali. ada contohnya, ketika pesawat express-air celaka, karena pilotnya kaget melihat anjing melintas di runway, ternyata setelah kejadian itu, tidak ada pengamanan yang dilakukan di bandara-2 sejenis. di sorong itu, ojek masih lewat, di manokwari ehh ada juga sapi berkeliaran, kepriben coba.

kembali ke soal bom.
menurut pengamatan saya, bom tidak akan meledak ditempat yang sama dalam waktu yang sekuens (hitungan hari/minggu misalnya), artinya hari atau minggu berikutnya bahkan bulan berikutnya, tidak ada kejadian bom meledak berulang. jadi sebetulnya peningkatan pengamanan yang dilakukan ya sia-sia saja. (hmmm gimana? tidak sependapat? boleh kok).

mestinya -usul saya nih- .. pengamanan dilakukan setiap saat, setiap hari, bukan setelah ada bom meledak, tetapi dengan cara-cara yang ’soft’, tidak terkesan ‘menakutkan’ atau gamblang. gimana tuh? saya yakin petugas keamanan tahu soal ini (kalau belajar dgn betul). kayak pramusaji di rumah makan tuh, jangan bengong nungguin tamu makan di deket mejanya, melainkan berdiri jauh sambil terus memonitor apa yg terjadi pada tamu dan meja makannya, dari jauh boleh, dari balik kaca searah juga boleh, remote boleh, cctv juga boleh, pasti ada caranya deh.

jadi, mestinya, ketika ada orang nyeret-2 tas hitam atau koper ke restoran, mondar-mandir mencurigakan, mestinya sudah tahu dan curiga dan segera diamankan, tapi tidak dilakukan ‘kan? keburu meledak itu isi tas!

singkat kata, jangan lengah sedetikpun! tapi jangan kasat mata ketika memonitoring, ini ilmu biasa saja kok!

salam eksplosif !


Pemerintah Terapkan Sanksi Bagi Airlines Delay

15/07/2009

Dengan tingginya frekuensi keterlambatan oleh maskapai akhir-akhir ini, maka pemerintah memutuskan untuk menetapkan sanksi delay. Komisi V DPR dalam rapat dengar pendapat dengan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Dephub beberapa waktu lalu sepakat perlunya penyusunan sanksi baku kepada maskapai untuk setiap keterlambatan akibat faktor eksternal.

Menurut Direktur Angkutan Udara Dephub Tri Sunoko, umumnya operator menyebut faktor eksternal sebagai penyebab paling sering keterlambatan penerbangan. Menyangkut faktor eksternal ini, maskapai hanya menyebutkan keterlambatan diakibatkan kondisi cuaca dan permasalahan di bandara. Tidak dijelaskan bandaranya kenapa, apa karena masalah check in penumpang yang sering antre atau proses pemeriksaan penumpang yang makan waktu.

Dalam upaya menjawab ketidakjelasan ini, Dephub meminta maskapai menyampaikan ulang informasi keterlambatan secara detail.Direktur Angkutan Udara Dephub Tri Sunoko menambahkan, kewajiban maskapai memberi kompensasi kepada setiap penumpang hanya berlaku pada keterlambatan mulai 30 menit dengan faktor penyebab eksternal. Rencana penyusunan sanksi ini akan ditetapkan melalui revisi KM No81/ 2004 tentang Penyelenggaraan Angkutan Udara.

Sejumlah maskapai yang telah menyampaikan informasi tersebut di antaranya PT Garuda Indonesia (Garuda), PT Merpati Nusantara Airlines (Merpati), PT Lion Mentari Airlines (Lion Air), Mandala Airlines, PT Adam Sky- Connection Airlines (Adam- Air),Wings Air, Batavia Air, Sriwijaya Air, AirAsia,Trigana Air Services, Ekspress Air, dan Riau Airlines.

Revisi diperlukan karena KM tersebut tidak mengatur penetapan sanksi kepada maskapai jika terjadi keterlambatan penerbangan. Namun, Undang-Undang (UU) Penerbangan yang saat ini revisinya masih dibahas Komisi V DPR pun tidak mengatur secara jelas soal sanksi delay. Peraturan pemerintah (PP) dari UU tersebut hanya mengatakan, maskapai wajib membayar ganti rugi sebesar Rp1 juta kepada penumpang jika terjadi delay. Tetapi, tidak disebutkan dalam kondisi seperti apa ganti rugi tersebut harus diberikan.

”Penetapan ganti rugi harus jelas penyebabnya, jangan sampai karena kita asal menetapkan kita malah dituntut maskapai,” kata Direktur Angkutan Udara Dephub Tri Sunoko. Dalam revisi KM nanti, salah satu usulan bentuk kompensasi yang harus diberikan maskapai adalah menginapkan penumpang jika terjadi keterlambatan di atas empat jam. Dengan catatan, sambungnya, delay disebabkan faktor internal dan di hari itu tidak ada penerbangan lanjutan.

http://bandara.web.id/pemerintah-terapkan-sanksi-bagi-airlines-delay.html


Merpati tak pernah (tak) ingkar janji

13/07/2009

Ada film, novel dan lagu yang berjudul “Merpati tak pernah ingkar janji”. Merpati ini memang melambangkan ‘kesetiaan’, komitmen!!!

Tetapi penglaman saya dengan “Merpati” yang satu ini, sungguh berbeda.

Begini ceritanya.

Lewat adik saya di WITA-TOUR, saya membeli tiket penerbangan Surabaya-Manokwari dan Manokwari-Sorong. Tiket ini saya beli jauh-2 hari sebelumnya dengan maksud agar perjalanan nyaman dan tepat waktu. Ketika hari ‘H” tiba, saya berangkat ke bandara Juanda, lalu check-in dan masuk dalam ruang-tunggu. Awalnya semua tampak lancar. Namun ketika jam menunjukkan pukul 23.00, tidak ada tanda-tanda apapun, padahal itu adalah jam keberangkatan sesuai dgn yg tercantum dalam tiket. Lalu ada pengumuman, penerbangan ditunda 1 jam. Satu jam berlalu, kemudian ada pengumuman lagi, penerbangan dibatalkan karena alasan teknis. Hanya itu saja pengumuman yang terdengan dari pengeras suara. Maka tak ayal lagi banyak penumpang berkerumun di meja petugas utk meminta penjelasan, suasana menjadi ribut dan hiruk pikuk. Seharusnya diberikan pengumuman dengan jelas, misalnya penumpang diberi penginapan, ditunda utk penerbangan berikutnya, atau tiket dikembalikan dan diberi kompensasi, atau apasajalah yang menenangkan penumpang, bukan dibiarkan begitu saja sehingga terjadi keributan. Kasihan juga petugas darat merpati dikeroyok banyak penumpang! Setelah situasi agak reda, giliran saya yg bertanya pada petugas, “Mas mas, siapa bos-nya di sini, tolong antarkan saya pada beliau, saya mau tanya, mengapa terjadi seperti ini, dan saya yakin Masnya kan tidak tahu dan tidak salah, jadi antarkan saya pada boss anda”. Ehh responnya positif, saya diajak keluar utk ditemukan pada bossnya, ..,…dalam perjalanan saya ngobrol dgn Mas petugas itu, “kenapa sih pengumumannya kok cuma ..dibatalkan begitu saja …” dia menjawab lha memang begitu yg dia dapatkan, dan masih menunggu kepastian ‘hotel/penginapannya”…lalu saya katakan “lha itu yg penting, harus disampaikan kepada penumpang kalau memang harus menunggu..”…lalu saya putuskan utk tidak jadi menemui boss-nya, kita kembali saja, menunggu.

Ketika kembali ke ruang tunggu, ehhhh ada pengumuman lagi, “dipersilahkan naik ke pesawat udara, penerbangan ke Manokwari tidak jadi dibatalkan, kita mendapatkan ijin utk terbang”, jam menunjukkan pukul 00.30. Maka berbondong-bondong penumpang yg masih setia, utk naik pesawat, sebagian lagi sudah ngacir meninggalkan bandara, pulang atau entah kemana.

Kira-kira setengah jam dalam pesawat yang panas bukan main (AC tak hidup), semua penumpang gelisah, pesawat tak bergerak, dan akhirnya ada pengumuman, “penumpang dipersilahkan turun, pesawat tak dapat terbang”. Wow ….amazing ..man.
Kami semua kembali turun ke ruang tunggu, dan diumumkan bahwa penerbangan ke Manokwari ditunda dua hari lagi. Sekali lagi dua hari (DUA HARI) saudara-saudara. Dipersilahkan mengambil bagasi dan menuju hotel yang telah disediakan.

Maka setengah mengemis dan memasang tampang memelas, saya mohon utk dipindah ke penerbangan lain, dan menurut petugas darat saya diminta kembali ke bandara pukul 05.00 pagi. Setelah tidur sebentar di hotel, maka kam 05.00 saya sudah berada di bandara kembali, dan menemui petugas. Dan Alhamdulillah, saya dapat tiket pesawat lain pagi itu, yaitu pesawat “express air’, tanpa dipungut biaya apapun, thanks banget Merpati, walau saya tertunda sehari.

Singkat kata, acara di Manokwari sukses walau harus sedikit ‘akrobat’ dgn jadwal. Nah, giliran terbang ke Sorong nih. Ketika tiba di manokwari saya segera konfirmasi tiket saya ke Sorong, dan dijawab merpati status OK, ini terjadi hari Senin. Dan jadwal saya ke Sorong hari Jumat. Pada hari Kamis sore, iseng-2 saja saya mampir ke kantor merpati, menanyakan lagi status tiket saya, bagai disambar petir saya terima berita bahwa “besok tidak ada pesawat ke Sorong”, kata petugas, “kenapa?” tanya saya,” memang di jadwalnya tidak ada, uang tiket dapat dikembalikan dan dipersilahkan mencari sendiri penerbangan pengganti”
WOWWWW…. ini dia nih, terjadi juga hal-2 yg saya khawatirkan. Bayangkan saudara-saudara, uang dikembalikan sebesar yang tertera di tiket, dan diminta mencari penerbangan pengganti sendiri. Atau kalau masih beruntung bisa ikut penerbangan merpati berikutnya di hari minggu (artinya dua hari lagi). Saya tidak mau beradu argumen, sudah jelas masalahnya bahwa merpati sudah angkat tangan, maka dengan senyum manis dan ramah saya minta uang saya sebesar 670ribu, dan kemudian mencari tiket lain yaitu “express air”, seharga 1,2jt, beruntung saya dapat ‘katut’ di express air, maklum lewat jalur amat khusus yaitu jalur ‘intel’ (thanks to aparat intel Manokwari, thanks buat Mr. X yang ganteng dan gondrong padahal polisi, yg mengantarkan saya kemana-mana dgn rush or innova hitam). Saya naik express-air hanya berbekal boarding-pass, tanpa tiket, entah apa jadinya jika pesawat itu lenyap, nama saya pasti tak tercantum dalam daftar, hehehhe.

Sampai di Sorong dgn selamat, dan pada hari minggu, keponakan saya yang anggota KPU itu menelpon dari bandara “Edward Osok Sorong”, “Om tolong jemput saya ya, saya dari manokwari mau ke jakarta pakai Merpati, tapi pesawatnya olinya bocor, jadi tidak bisa terbang, tadi landingnya kasar sekali, pesawat ditunda senin katanya”. walah …. itu kan pesawat yang ditawarkan kepada saya tempo hari, ternyata bermasalah juga. Lalu saya tancap gas Kuda Mitsubishi hitam ke bandara, dan kita tertawa ngakak bersama, akhirnya besok senin kita berangkat bareng, saya ke SBY dia ke JKT, tapi saya naik express-air, dan dia naik ‘Merpati”. Sempat bertemu ketika transit di makasar, dua hari berikutnya kita bertemu di jogja, dorong-2 karimun biru yg mogok kerena tali alternator putus.

Ketika di Manokwari, saya diberitahu oleh teman-2 yang sering mondar-mandir naik pesawat, pesannya adalah, “jangan naik merpati, letakkan merpati pada pilihan terakhir, karena merpati seringkali ingkar janji”. dan ternyata memang benar apa kata teman-teman saya tersebut.

Cerita masih berlanjut.

Di Surabaya, setelah membereskan acara ‘bedol-desa’, alias pindah rumah dari Jogja ke Surabaya, adik saya yang sedang bertugas di Malang memberitahu saya, mau mampir ke rumah, dan menginap, karena akan ke Sorong pada hari Senin pakai merpati. NAIK MERPATI? walah …walah timbul kekhawatiran saya. Singkat kata, adik saya itu nyangkut di makasar sehari, pesawat rusak katanya.

Masih ada cerita yang terselip lho.

Waktu di Manokwari, sehari setelah saya tiba, keesokan harinya teman saya (Rektor Unipa) juga nyangkut di Makasar, naik merpati juga, hal itu membuat acara teman saya juga berantakan.

–ooOoo–

Itu secuil kisah saya bersama Merpati. Mungkin ada baiknya jika pihak Merpati mulai mengevaluasi diri, dan menetapkan langkah-langkah kongkrit untuk meningkatkan performancenya. Bagaimanapun transportasi di papua banyak mengandalkan penerbangan.

Selain itu utk pemerintah (daerah?), kiranya baik kalau ijin penerbangan juga diberikan dengan mudah ke berbagai maskapai penerbangan lain, sehingga akan banyak alternatif, dan dapat menurunkan harga, serta pada gilirannya kelak dapat memajukan tanah Papua (ini tanah tempat saya dibesarkan lho). Juga, saya kira baik sekali kalau mulai dipikirkan pembuatan infrastruktur (misalnya jaringan jalan raya) antar kabupaten di Papua.

Dan akhirnya buat saudara-saudara saya di Papua, baik di pemda atau non-pemda, tetaplah semangat dan selalu meningkatkan kinerja anda dengan meletakkan kepentingan umum (masyarakat luas) di atas kepentingan pribadi atau golongan demi memajukan tanah Papua.

Bravo Papua.

Amoke.


Singkatan

02/06/2009

Saya bukannya mau membahas bahasa Indonesia. Melainkan cuma mau ‘nggumun’ saja soal singkatan, khususnya tentang penerimaan siswa baru, yang sekarang lagi musim.

Baru saja saya tengok di situs kompas, eh ada singkatan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Ndak tahu itu singkatan siapa yang buat. Kok nggak pakai saja yang sebelumhya yaitu Penerimaan Siswa Baru atau disingkat PSB, ini kan lebih mudah lebih singkat dan sudah diketahui orang banyak. Bedanya kan cuma ’siswa’ dan ‘peserta didik’. Saya tidak mau berdebat soal arti kata dalam kamus, tetapi kita coba yang gampang dan benar sajalah. Menurut saya kata ’siswa’ sudah betul, atau pakai kata ‘murid’ juga betul, dan artinya sudah jelas. Jadi pakai saja PSB atau PMB. Begitu. Atau takut kacau M=Mahasiswa, ya sudah pakai PSB, gitu aja kok repot. Oppsss. Bukannya repot, tapi menjadi beban kalau melihat singkatan baru PPDB. kasihan kan memori kita dibebani dengan hal-hal yang seharusnya tidak membebani, pemborosan, dan pemborosan itu dosa!

Masih ada lagi, coba lihat SNMPTN, dulu namanya SPMB, dulu lagi UMPTN, dulu lagi mbuh apa, jaman saya dulu malah aneh lagi disebut PP-1, sebelumnya lagi SKALU. Padahal untuk menyatakan hal yang sama. Jadi coba saja pakai UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri), gitu kan enak. Masak singkatan kok berubah-ubah terus, padahal maksudnya sama.

Kalau masing-2 PT bikin ujian masuk sendiri-2, dan istilahnya buatan sendiri ya tak apalah, misalnya UM-UGM, nah itu khusus Ujian Masuk UGM. Tapi untuk ujian masuk utk PTN yang secara bersama-sama, mbok ya pakai istilah/singkatan yang sudah terkenal dan betul. Makan ongkos mengubah-2 singkatan, paling tidak utk bikin kop surat, bikin cap, papan nama dlsb.

Atau memang sengaja utk membuka peluang korupsi baru?

(* hmmm memang aneh-2 saja, yang harusnya dikerjakan malah tidak dikerjakan, singkatan yang sudah jamak malah diubah, dasar edan tenan *)


Teks Lucu

27/05/2009

saya sering pergi-pergi, paling seneng pergi lewat darat. sering saya temui tulisan yang mengundang senyum, terutama di box truk, di bagian belakang bus, atau di bagian belakang angkot/angkudesa atau berbagai moda angkutan lainnya.

ini beberapa yang saya temui:

1. “antar kota antar nona” di belakang bus AKAP Jogja-Surabaya
2. “ber-2-1-7-an” di pantat ojek pretelon janti
3. “ku-5-won” di truk pasir magelang

dll,

yang paling bikin saya terpingkal-pingkal adalah:

MBEL-GHEDEZ-BENZ

di sebuah bis Mercy Jkt-jogja.

ada ada saja ekspresi wong-cilik, lucu dan menyegarkan …
lha kalau wong gedhe kepriben? ….paling-paling saling sindir terus stress terus stroke !


Saya mau keluar dari facebook!

21/05/2009

fb
Saya mau keluar dari facebook!

Kenapa?

He he he …. saya jadi kecanduan, tiap hari tiap saat selalu mengecek facebook, dan itu ternyata membutuhkan banyak waktu. Memang pinter bener tuh yang buat facebook. Sampai-sampai penjualan eblek-eblek-beri meningkat tajam, juga hape dan pelanggan operator seluler. Ini membuat orang ‘nempel terus’ sama gadget-nya. Ruarrrr biasa perkembangan pengguna dan penggunaan facebook ini, silakan cek di www.alexa.com.

Selain kecanduan, saya juga kadang-kadang kurang teliti menuliskan atau mengunggah sesuatu melalui account facebook saya. Dan itu, bisa berakibat fataaaallll. Untung saja hal itu belum terjadi. Bayangkan saja, saya terjaring dengan banyak orang yang saya kenal, ada teman kerja, ada teman SMA bahkan teman SD, ada boss saya, ada anak buah saya, ada juga boss saya di tempat kerja yang lain lagi, ada keponakan-2 saya, ada juga anak-anak saya yang masih kecil, semua terjaring dengan saya. Dan, ketika saya mau mengunggah atau menulis sesuatu, saya harus berpikir bahwa hal itu akan dibaca oleh semua ‘teman’ saya tadi. Padahal mungkin saja unggah-an saya tidak cocok untuk beberapa pihak (sakin variatif-nya ‘teman’ saya). Jadi, justru merepotkan saya.

Asyiknya adalah, kita bisa tahu situasi/kabar/keadaan teman kita (kalau dia menuliskan statusnya lho), dan kita bisa memberi komentar balik. Kadang kita bisa langsung chatting, jadi bisa ngobrol, saling curhat mungkin. Atau ada yang menggunakan utk mengecek anak-buahnya, kalau saya mengecek anak saya. Atau seperti mas Bowo yang punya 90 ekor kuda itu, dia selalu memberi info pada fans-nya. Ada juga kuis, game dll yang sifatnya semua hanya for fun saja. Fun ? iya …. jadi sebetulnya utk refreshing lah …., tentu tersenyum gembira dan terpingkal-pingkal ketika saya melihat foto saya ketika masih SMA dan sedang bermain gitar. Atau foto-2 waktu SMP yang masih culun-culun. Kadang terlihat narsis-nya juga, hampir semua peserta facebook menampilkan foto ketika mereka di luar negri. Mungkin “ini lho saya sudah sampai Jerman, hehehehe”, tidak apa-apa sih. Hampir nggak ada yang mejeng di tempat pembuangan akhir sampah (opsss sorry ya Mbok De).

Dan menurut saya, informasi yang diberikan, bagi saya 90% tidak bermanfaat, hanya basa-basi biasa. Tapi mungkin justru inilah kekuatan facebook ini, karena memang sebagian besar kita suka basa-basi. Bayangkan ya, tiap hari saya membaca posting-an misalnya “hari ini hujan”, “sekarang panas”, “lagi makan soto”, “ikut kuis xyz”, belum lagi yang aneh-aneh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Masih mending kalau promosi sesuatu, sehingga ada tambahan info, atau informasi berharga lainnya. Jadi saya kebanjiran informasi yang tidak bermanfaat bagi saya.

Satu ‘teman’ saya bilang, “jangan berteman dengan teman sekantor”, he he he, takut ketahuan seharian fesbuk-an melulu, padahal di kantor dilarang. Satu teman lain yang bekerja di bidang IT bilang “di kantor saya semua dilarang, sudah saya blokir ….. kecuali utk saya sendiri hehehehe”. Ada lagi teman lain, dosen nih, “silahkan blokirrrr, fesbuk jalan terus”, buktinya ketika nguji skripsi dia sempat fesbukan, mungkin dia sangu modem sendiri, atau mbolongi blokiran. (ini kerjaan lama saya nih …..)

Ada lagi, satu teman, tiba-tiba saja dia beli modem, lalu fesbukan dari rumah, karena di kantor tidak bisa. Dan tiap malam sekarang dia OL terussssss. Saya bayangkan, keluarganya akan dinomorsekiankan, he he hehe. Semoga saja pasangannya tidak marah-marah ….tersaingi laptop.

Jadi, saya mau keluar dari facebook.

Selamat tinggal teman-2 facebook saya, sampai jumpa lagi.
(artinya …. nanti saya kembali ikut facebook lagi he he he he).


akiku keok … customer satisfaction

11/05/2009

karimun_lampuSuatu hari, mobil karimun biru mungilku yang tiada duanya di Jogja ini susah di-start. Jelas sudah batere-nya bermasalah, pikirku. Maka supaya ‘hidup’, terpaksa harus dipancing dengan batere lain. Sukses. Menurut teori, kalau sudah dipakai muter-muter, maka batere sudah ‘ngisi’ lagi, recharge maksudnya.

Keesokan harinya kejadian yang sama berulang. Bingunglah saya, ini akinya atau sistem pengisian akinya yang nggak beres. Maka aki saya bawa ke toko aki, sekalian mau diperiksakan dan kalau memang jelek mau beli baru. Setelah ke beberapa toko di seantero Jogja, sampailah saya ke sebuat toko aki yang sayang sekali saya lupa namanya. Lokasinya di kranggan, kira-kira di depan gedung primagama, jalan diponegoro, menghadap ke selatan, tugu ke barat, … dong?

Nah, di toko tersebut, aki saya turunkan dan diperiksa oleh karyawan toko tersebut. Sambil saya bertanya, kira-kira berapa harga aki kering seperti itu, setelah melihat tabel, ternyata harganya hampir satu setengah jeti. Busyet dah, mahal amat ….. Ketika aki sudah selesai diperiksa, dengan sopan dan informatif, sang karyawan memberitahu saya, “Pak aki bapak masih bagus, tidak perlu diganti, tidak perlu beli baru, kemungkinan masih bisa tahan 6 bulan lagi. Tadi kami cek dan masih bisa direcharge dengan baik. Kalau aki ini lemas lagi, pasti mobil bapak yang kurang beres, mohon dibawa ke bengkel saja pak mobilnya”.

Woiiii …., senangnya hati saya, satu setengah jeti tidak jadi melayang. Maka segera saya pamit dan mau membayar, ternyata, saya tidak perlu membayar ongkos periksa aki tadi. Heran dua kali saya dibuatnya. Tapi tetap saya selipkan 10ribuan ke tangannya ketika sang karyawan yang baik tadi menaikkan kembali aki saya ke bagasi mobil saya.

–ooOoo–

Berikutnya, masalah yang sama masih terjadi. Tapi tetap nekat, mobil saya pakai ke surabaya, maklum terpaksa sih. Perjalanan lancar, aki tak ngadat. Sampai di Surabaya, setiap pagi pasti aki mlempem lagi. Maka mobil saya bawa ke bengkel resmi Suzuki, di sana dinyatakan akinya jelek, dan langsung diganti. Untung diganti aki basah, tak sampai 500 rb.

–ooOoo–

Ternyata, masalah yang sama masih timbul. Aki barupun mlempem juga (soak bahasa papuanya). Jelas sudah bengkel resmi suzuki pun tak bisa dipercaya. Maka saya panggilkan Pak Jales, ini orang bengkel yang sudah tidak punya bengkel karena kapusan. Saya suruh periksa seluruh kelistrikannya, dan memang ditemukan beberapa tempat yang ‘konlset’, dibetulkan dan beres. Aki lama dipasang lagi, dan sampai hari ini (8 bulan) masih berjalan dengan baik.

Jadi, saya punya aki baru, yang nganggur, ada yang mau beli? Yuasa 60.

–oo0oo–

saran saya, silahkan periksakan aki dan beli aki di jalan diponegoro tadi …pelayanan amat sangat memuaskan, mereka jujur dan tidak memaksa anda beli aki ….buktikan!

Jogja lho ini :)


Kartini

21/04/2009

Hari Kartini, simbol emansipasi perempuan Jawa eh Indonesia. Tapi, coba perhatikan, bagaimana kebanyakan orang atau instansi memperingatinya. Taruhan deh, pasti paling banyak adalah acara berpakaian ‘kebaya nasional’ yang tidak begitu jelas apa arti kata nasional tersebut. Mungkin ada banyak jenis kebaya, setahu saya sih cuman ada dua besar yaitu yang ber ‘kuthubaru’ dan yang tidak. Nah loooo, nggak ngerti kan?

Biasanya bukan hanya para perempuan yang pada hari Kartini ini berkebaya, para laki-lakipun ikut-ikutan berpakaian tradisional, soalnya kapan lagi, nggak ada hari Kartono sih. Kalo ulang tahun Pak St. Kartono guru beken dari JB sih ada. (halo Pak, masih jaga UNAS yg pesertanya cuman 4 orang yach?). Para laki-laki cuman nebeng doang di hari Kartini.

Yang saya herankan, mengapa harus pakai kebaya yach? bukankah hari Kartini mencerminkan emansipasi wanita? persamaan derajat dengan para laki-laki? Kalau saya artikan sendiri sih, emansipasi perempuan adalah meluasnya lingkup arena kiprah perempuan sehingga tidak lagi terbatas pada dinding kerja domestik. Wuihhh, cek angel-e, istilah opo kuwi. Wis, pokoknya, menurut saya emansipasi perempuan membuat perempuan bisa bekerja dan dapat duit, gitu aja. Kembali ke kebaya tadi, saya kira kok kurang pas memperingati hari Kartini dengan berpakaian kebaya. Ini bukannya saya tidak suka lho, saya justru sangat suka lihat istri saya tampil pakai kebaya, tambah cantik, he he he he, habis tiap hari pakai celana panjang mlulu, mboseni.

Kenapa memperingati hari Kartini harus pakai kebaya? kok nggak pakai celana jean plus T-shirt polo, sepatu kets aja? Bukankah pakai kebaya itu ribet? dan lagi bisa kesrimpet-srimpet (hmmm bhs jawa lagi nih sorry). Kesrimpet itu artinya jalan terhambat karena memakai kain panjang (jarit? jarik? or what?). Berjalan menjadi tidak leluasa, langkah menjadi terbatas, apalagi wiron-nya harus dijaga agar tidak buyar.

Jadi?

Menurut saya tidak cocok, kalau memperingati hari kartini dengan memakai kebaya, itu justru simbol ‘kesrimpet’, bukan simbol emansipasi. nah, kalo gitu apa ya simbol emansipasi? lha ini pertanyaan sulit, sesulit yang dihadapi golkar he he he. Bingung juga saya, sampai sekarang tidak punya usulan. Lha masak pada hari Kartini semua wanita diminta memakai jean dan kaos tadi?
kan nggak lucu.

Kegiatan yg positif yg bisa dilaksanakan mungkin ya seminar hasil penelitian, misalnya apa betul Kartini itu pahlawan emansipasi?
Kenapa Kartini dimadu kok mau saja, kok tidak menolak. Bu Tien malah menghasilkan PP.10. Atau dengan mencari Kartini-Kartini lain di Indonesia, kita ungkap kelebihannya, kita tulis sejarahnya. Saya yakin tidak hanya Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien, tentu masih ada wanita lain yang hebat.

Atau kegiatan lain berupa pemberdayaan wanita. Menurut saya banyak sekali wanita hebat di Indonesia ini, tapi karena satu dan dua puluh tujuh hal mereka hanya jadi house-wife saja. Padahal kemampuan mereka (baik akademik maupun non akademik) hebat. Coba, saudara-saudara sekalian melihat di lingkup keluarga atau tetangga atau kenalan, banyak bukan wanita seperti itu? Menurut saya, itu kerugian nasional. Banyak wanita yang bisa diBerdayakan, tapi tidak termanfaatkan, atau manfatnya hanya minimal, hanya dikeluarganya, padahal mestinya bisa meluas. Bgmana caranya? wah saya tidak mau usul, nanti malah saya jadi mentri urusan peranan perempuan.

—ooo—

Beberapa hari di rumah, tanpa istri, saya melakukan pekerjaan domestik. Bangun pagi, masak air, bikin minum dan sarapan untuk anak. Lalu ngantar sekolah. Pulangnya mampir pasar Setan (padahal saya belum pernah bertemu setan di sana, nggak tahu kenapa namanya setan). Belanja di pasar, tampaknya suatu yang sepele, tapi ternyata berat buat saya. Saya harus bisa memutuskan mau masak apa, harus belanja apa, dengan berbagai batasan yang ada, harus bisa dioptimasi. Jadi ada Objective functionnya, ada constraintnya maka decision harus dibuat yang optimal, gitu kalau di genetic algorithm. Nah semua itu harus saya lakukan dengan waktu yg terbatas. Hmmm baru terasa sulitnya belanja di pasar. Beberapa hari saya lakukan, ternyata saya hanya menguasai 4 jenis masakan saja, dari belanja sampai memasak. Hari kelima sudah berputar menunya. Dan anak-anak sudah komplen, ayam lagi ayam lagi …. padahal ayam juga mahal 22 rebu per kilo.

Itu soal belanja, soal memasak. Wah … ini dia, kalau salah prosedur bisa gaswat. Ada proses-2 yang sekuensial, ada yg bisa paralel, ada pula yang irreversibel (jemur dulu baru goreng, jangan dibalik), kalau tidak menguasai itu semua, bisa kacau, lama dan rasanya ‘aneh’. Belum lagi, kadang ada interrupt, maka address pointer harus dicatat supaya tidak lupa kalau interrupt sudah selesai, kadang ada pula nested interrupt, tengah-tengah masak bel pintu berbunyi, keluar ehhh ada sales nawarin macam-macam, lha waktu sibuk menolak sales, Bu Ijal tetangga sebelah muncul, ngobrol soal macam-macam. Weleh-weleh, soft skill bener-2 harus dipakai.

Soal membersihkan rumah, mencuci setrika huhhhh, bener-bener menyita waktu dan tenaga, pantesan banyak bisnis laundry menjamur, 3 rb per kilo 3 jam jadi.

So what?

Jangan sepelekan peran ibu rumah tangga.

Kalau Ibu keluar rumah, bekerja, jadi Doktor Fisika, mengajar di PT ternama, punya penelitian tingkat internasional, jadi pejabat PT, …. weleh weleh ….. terus siapa ya yang mengerjakan pekerjaan domestik?

yup betul … pembantu rumah tangga …atau suami?

jadi jangan sepelekan pembatu rumah tangga or suami.

jadi?

suami = pembantu rumah tangga.

wis wis wis .. ngelantur kemana-mana. …

—000—

saya cuma mau bilang, emansipasi itu kadang juga harus dibayar mahal,
maka harus itung-2 an, dan jangan lupa bagian yg intangible !!!

Selamat hari Kartini !!

NB.
heran eh, hari ini kok nggak ada berita ttg hari Kartini yach?
apa kalah sama caleg gendheng?


Sosialisasi Pemilu 2009

04/04/2009

Jangan sia-siakan suara kita, dengan tidak memilih sama artinya dengan memberikan kesempatan menang kepada mereka yang tidak kita kehendaki memimpin Negara ini. Kita tidak sedang memilih yang baik atau terbaik, tetapi kita memilih untuk menghindarkan sesuatu yang lebih buruk terjadi dan menimpa kita. Jangan tidak memilih hanya karena kecewa, sakit hati, tidak puas akan hasil pemilu yang lalu, ikut-ikutan teman, atau bahkan atas alasan paling religius sekalipun karena tidak mau terganggu persiapan dirinya untuk merayakan Kamis Putih.
Persoalan pemilu ini bukan hanya sebatas pada menggunakan hak pilih saja, tetapi apa dan siapa yang hendak dipilih sungguh amat membingungkan. Siapa yang harus kami pilih? Diantara 38 partai politik dan ratusan caleg tersebut? Untuk itu, tulisan ini mencoba menterjemahkan bahasa verbal/lisan mengenai materi sosialisasi pemilu 2009 ini yang sarat dengan peraturan-peraturan dan istilah-istilah membingungkan.

Syarat ikut sebagai peserta pemilu.
Berdasarkan peraturan pemilu, nama kita harus tercatat dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau Daerah (KPUD), selanjutnya Petugas Pemungutan Suara (PPS) akan mengirimkan surat undangan yang tercatat dalam DPT untuk masing-masing pihak sesuai dapilnya agar dapat memberikan hak suaranya, hanya sayangnya persoalan ini masih belum selesai, karena masih banyak persoalan yang mengganjal, maka hingga saat ini kita belum dapat melihat DPT, apalagi menerima surat undangan tersebut. Anehnya KPU sudah menetapkan jumlah DPT dalam negri sebesar 169.789.595 suara dan jumlah DPT luar negri sebesar 1.475.847 suara, total keseluruhan adalah 171.265.442 suara. Perlulah kita berdoa secara khusus bagi KPU supaya pemilu terlaksana tepat waktu, terlalu mahal ongkos sosial yang harus dikeluarkan jika ditunda.

Syarat Parliamentary Threshold (PT) dan Electoral Threshold (ET).
Parliamentary Threshold atau PT sebesar 2,5% yaitu persyaratan minimal pendapatan suara secara nasional bagi parpol untuk dapat diikut sertakan dalam pembagian kursi bagi caleg-calegnya yang memenangi pengumpulan suara pada masing-masing daerah pemilihan (dapil). Mari kita simulasikan dalam angka agar PT dapat lebih dimengerti, misalnya dari jumlah suara 171.265.442 tersebut, kemudian dikurangi 21.265.442 suara karena rusak, salah coblos dan golput, maka anggaplah suara sah adalah 150 juta, maka masing-masing parpol harus mampu mengumpulkan suara nasional minimal 2,5% * 150 juta = 3.750.000 suara, jika parpol tidak mampu mencapai angka tersebut, otomatis digugurkan (hangus) dari daftar pembagian kursi di DPR tanpa harus melihat lagi hasil pengumpulan suara para calegnya.
Selain itu diberlakukan juga dalam Pemilu 2009 ini adalah 3% PT artinya ambang batas minimal jumlah suara sah secara nasional yang harus didapat oleh sebuah partai politik untuk dapat mengikuti Pemilu 2014. Maka PT 3% didapat dengan perhitungan: 150.000.000 x 3% = 4.500.000 suara. Artinya, sebuah partai politik yang secara nasional tidak mencapai jumlah pemilih sebesar 4,5 juta itu maka parpol tersebut tidak bisa otomatis ikut Pemilu 2014.
Electoral Threshold (ET) 25%, dalam hal ini berlaku bagi partai politik yang hendak mengajukan kandidat Presiden, parpol tersebut harus mendapatkan suara sah nasional, jika suara sah nasional adalah 150 juta, maka 25% nya = 37,5 juta suara, dalam situasi perpolitikan saat ini, tentu berat bagi parpol untuk mencapainya sendirian, maka dilakukanlah koalisi beberapa partai dan yang sudah terjadi adalah koalisi Golden Triangle (Golkar-PDIP- PPP) kemudian disusul koalisi Golden Brigde (Demokrat-PKS- PBB). Hal ini sungguh perlu terus dicermati, karena merupakan petunjuk penting untuk kita memilih.

Mengapa suara kita penting?
Beberapa teman-teman masih menganggap pemilu kali ini sama dengan pemilu jaman orde baru, sehingga lebih baik golput saja, toh negera ini tetap ada dan berjalan daripada bingung bin pusing menentukan pilihan yang semuanya tidak jelas, dan setelah dipilih pasti kita sebagai rakyat dilupakan, lagipula itu hak kita.
Pendapat tersebut diatas sungguh salah besar, karena penentuan Bilangan pembagi pemilih (BPP) pada pemilu kali ini adalah berdasarkan surat suara sah, jadi angka tersebut didapat setelah dikurangi Golput (golongan putih) dan Goltres (Golongan Contreng Salah), artinya semakin banyak yang golput dan goltres akan semakin kecil BPP-nya, dengan demikian memperbesar peluang kemenangan caleg-caleg dan partai-partai fundamentalis karena memiliki anggota dan pengikut loyal serta punya agenda perjuangan pasti.
Satu hal lagi yang menjadi pertimbangan, sesuai keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) bahwa seorang caleg akan mendapatkan kursi di DPR berdasarkan suara terbanyak bukan lagi berdasarkan daftar nomor urut, maka si Badu akan menjadi anggota legistlatif dengan jumlah suara 100.001 karena mengalahkan pandir yang hanya mendapatkan suara 100.000
Bahwa seorang caleg yang telah terpilih akan melupakan daerahnya, tentu akan rugi sendiri, karena pemilu kali ini dan mungkin seterusnya mewajibkan dirinya dikenal di daerah pemilihannya (Dapil), maka hal ini tentu menjadi pertimbangan yang sangat serius, karena membangun kepercayaan tersebut perlu waktu 1-2 tahun dengan biaya cukup mahal, maka setelah menjadi anggota, seorang legislator akan berpikir dua kali untuk melupakan rakyat di daerah pemilihannya, akan lebih mudah jika hubungan dipelihara terus.

Contreng Apa dan siapa?
Ini sungguh pertanyaaan krusial, dijawab salah tidak dijawab lebih salah lagi. Maka jalan tengahnya adalah membuat kriteria, pertama-tama tentukan partai yang menjadi simpati kita, misalnya dengan menentukan dulu sikap kita, apakah partai/tokohnya mendukung Hak Azazi Manusia, berwawasan kebangsaan (nasionalis) bukan agama, lebih suka dengan pemerintahan sipil, serta suara kita tidak hangus percuma karena kemungkinan partai tidak lolos PT. Misalnya terdapat 3 atau 4 Partai, maka konsentrasikan analisa pada caleg-caleg yang ada pada partai-partai tersebut, apakah ada yang berkenan untuk di contreng? Apakah caleg tersebut kita kenal, sadar dapilnya, punya finansial yang baik, bukan kutu loncat, jujur, tidak KKN dan lain sebagainya. Jika tidak ada dan membingungkan, tentu lebih baik pilih partainya saja. Pertanyaan berikut, apa implikasinya?
Kalau kita hanya mencontreng pada kolom gambar dan nama partai politik, maka ada beberapa implikasi:
Pertama, suara Anda sah.
Kedua, suara itu akan menguntungkan partai saja dalam hal pengumpulan suara, khususnya suara sah secara nasional untuk dapat memenuhi ET dan PT; tetapi tidak menguntungkan bagi caleg-caleg yang di di partai yang bersangkutan.
Ketiga, suara itu akan menjadi ukuran bagi partai politik untuk bisa sendiri atau harus berkoalisi dengan partai lain untuk mengusung calon presiden dan calon wakil presiden yang akan datang.
Keempat,suara itu akan digunakan untuk mengukur sejauhmana parpol yang bersangkutan benar-benar �diminati� oleh rakyat (sedikit atau banyakkah yang memilihnya).
Kelima,suara tersebut akan menjadi milik caleg yang mendapatkan suara terbanyak pada partai dan daerah pemilihan tersebut.
Sebaliknya, kalau kita men-CONTRENG nomor atau nama pada kolom caleg dengan sendirinya partai diuntungkan karena suara sah pada caleg otomatis menjadi suara sah bagi partai dimana caleg itu bernaung. Dan ini akan menguntungkan seorang caleg karena dapat mengukur dirinya sejauhmana ia memang pantas didukung/dipilih mungkin bukan semata-mata karena popularitas (ketenaran)nya saja tetapi mungkin lebih karena kompetensi dan kapasitas dia sehingga rakyat mendukungnya. Tentu dalam melihat tingkat popularitas atau kompetensi seorang caleg sehingga dipilih rakyat harus dijauhkan dari politik uang.
Sebagai catatan akhir untuk diketahui, bahwa 11.215 orang Caleg DPR dari seluruh Indonesia akan memperebutkan 560 Kursi. Sedangkan 1.109 orang akan memperebutkan 132 kursi DPD. Untuk Caleg DPRD Provinsi terdapat 112.000 orang untuk memperebutkan 1.998 kursi. Untuk caleg DPRD Kab/Kota yang berjumlah 1,5 juta orang akan memperebutkan 15.750 kursi.
Jika masih bingung juga, tentunya masih ada waktu untuk membentuk komunitas basis atau kelompok kecil yang sudah saling mengenal, untuk sharing informasi, memperluas pertimbangan dan mendalami pilihan-pilihan caleg-caleg yang ada, mungkin kelompok ini dapat diteruskan dalam menyikapi pemilu capres-cawapres. Ini dilakukan sebagai bagian dari kerasulan awam dalam keterlibatan praksis di ranah politik yang tentu tidak mungkin dijangkau langsung oleh hierarkhi.
Silakan melakukan penelaahan sendiri dengan membaca data dan kecenderungan yang ada dalam masyarakat, atau setidaknya menerima saja parameter yang disampaikan oleh para ahli dan pengamat politik serta lembaga-lembaga survey tanpa harus tergoda mempercayainya 100% (dengan kata lain, kita masih boleh beropini dan membuat prediksi sendiri).


Acer Aspire One atau HP mininote 1001TU ?

25/01/2009

Empat hari lalu saya membeli HP mininote 1001TU, konon ini yang terbaru dari HP. Lalu kemarin saya membeli lagi Aspire One keluaran ACER.

Soal spec, (bisa kita cari n baca sendirilah) tidak banyak perbedaan kecuali kapasitas harddisk saja, si acer lebih gede. Tapi ketika saya menginstall beberapa program yang sama, di kedua ‘barang itu’ , ternyata ada perbedaan.

Ketika saya menginstal MS Office (legal lho saya punya lisensinya) keduanya tidak bermasalah.

Ketika saya menginstal YM, nah timbul masalah di ACER … harddisk mulai gemetar dan lampu indikator berkedip-2 dgn sangat cepat…mengerikan (bener kata Pak Jokonug, ACER singkatan dari Akan CEpat Rusak).

Nah, ini pengalaman saya, semoga cuma saya saja yang mengalaminya.

Oh ya HP saya hidupkan 12 jam no problem, ACER ini baru saya hidupkan 3 jam muncul masalah tadi itu.

Ada cerita lain? saya tunggu.
(hmmm wis kadung tuku jeee …)


Dibutuhkan : org yg bisa carikan SIM C

15/01/2009

Seriously, saya butuh bantuan (tentu saya bayar), untuk mendapatkan SIM C dengan cara ilegal atau nembak, daerah Sleman.

Hubungi saya di +60166035919 secepatnya (SMS saja, jangan call)