Kursus pra-nikah

07/08/2009

Pernahkah anda, wahai para suami dan istri, belajar tentang misalnya:

“Mengapa ya perempuan kok lebih cerewet dari lelaki”

“Mengapa perempuan kurang bisa baca peta”

“Mengapa lelaki enggan bertanya kalau kesasar?”

“Kok bisa ya perempuan menerima telpon sambil memasak sambil momong anak?”

“Kenapa perempuan sering salah omong , ke kiri, padahal maksudnya ke kanan?”

“Kenapa lelaki susah mencari barang dalam kulkas?”

“Kenapa sensor cewek lebih bagus ketimbang cowok?”

“Kenapa suami kurang suka menemani istri keluar masuk toko?”

Saudara-saudaraku yang budiman dan budiwati (weh …aneh nih) …

Retaknya hubungan suami-istri bisa disebabkan hal-hal sepele karena kurang pahamnya masing-masing pihak thdp pihak lainnya.

Saya (wah buka rahasia nih), sering mengalami kejengkelan-2 karena hal-hal kecil yang dilakukan pasangan saya.  Misalnya dia salah tunjuk arah,  waktu saya nyetir dia bilang ke kanan, maksudnya ke kiri, ini benar-2 terjadi, dan merepotkan saya.   Lain kali dia masuk toko mengaduk-aduk isi toko, saya nunggu di luar saja bahkan makan-2 sendiri di sebelah.     Atau yang lebih menjengkelkan, menerima telpon kok ya sambil ngerjain pekerjaan lain, seakan-akan tidak menghargai penelpon.     Isi mobilnya bukan main banyaknya, ada bbrapa pasang sandal dan sepatu, belum lagi kotak makanan atau gelas minuman.     Yang membuat saya ketar-ketir, kalau dia sudah mulai membuka tasnya, dan mencari-cari sesuatu ….. wahhhh saya cuma bisa berdoa, semoga ketemu apa yg dicarinya.    Saya betul-2 sport jantung ketika dia mencari-cari passport-nya, ini kejadian minggu lalu di Bangkok.    Untung ketemu!  Kalau tidak …wah bisa panjang urusannya.    Cara berpikirnya-pun aneh menurut saya.  Seringkali kalau berdiskusi malah jadi kacau dan berakhir tidak menyenangkan.

Mungkin atau pasti, saya juga melakukan hal-2 yang tidak menyenangkan pasangan saya.  Mbuh nih, tanya dia saja.

Nah,  dua hari lalu saya menemukan sebuah buku, dan saya baca.  Ternyata ….. selama ini memang saya tidak tahu bagaimana atau apa bedanya lelaki dan perempuan.  He he he …. sungguh sangat terlambat.     Buku yang saya baca adalah buku “Why men don’t listen and women can’t read maps” karya Allan & Barbara Pease.

Buku ini sungguh hebat, bisa saya temukan landasan ilmiahnya, mengapa mahkluk lelaki dan perempuan ini begitu berbeda dalam bersikap.  Dan kemudian membuat saya mengerti dan paham.   Bahwa selama ini saya memang ternyata tidak paham.  He he he he.   Saya jadi sadar selama ini saya benar-benar salah dalam bersikap.

Selama ini saya tidak pernah mempelajari hal ini sejak TK sampai S3, saya yakin pasangan saya juga tidak mempelajari hal ini.

Nah, saya usul nih, sebelum perkawinan dilaksanakan, maka salah satu syaratnya adalah ikut kursus perkawinan yang materinya antara lain adalah buku tersebut.

Demikian saudara-saudara.


Suramadu : usulan

20/07/2009

Saya mau usul berkaitan dgn telah beroperasinya jembatan suramadu:

1. Petunjuk arah ke jembatan Suramadu dari sisi Surabaya, sebaiknya ditambah, bisa dimulai sejak dari masuk kota Surabaya dari arah Selatan (Sidoarjo – Wonokromo) dan Barat (Gresik). Dan yang penting, jangan sampai setelah pengemudi memilih jalan, baru ketahuan kalau salah jalan, karena petunjuk jalan terlihat setelah pengemudi memilih jalan. Ini masalah serius, hampir semua petunjuk arah jalan di Indonesia seperti ini, hanya pengemudi yang pernah lewat saja yang tidak nyasar, silahkan buktikan!

2. Di sepanjang jembatan harus dilengkapi dengan CCTV, untuk memonitor para pengendara nakal yang berhenti di tengah jembatan. Jadi bisa dicatat dan didenda ketika keluar dari jembatan. Para berhenti-wan ini biasanya mau mejeng dan foto-foto, hal ini bisa dicarikan jalan keluarnya.

3. Pemasangan CCTV tidak hanya di atas, tetapi juga di kolong jembatan utk memonitoring ‘pencurian’ komponen jembatan. Saya khawatir tahun depan komponennya sudah pada hilang. Kemarin saja ada 3 ton besi yang amblas!

4. Untuk sepeda-motor, dilarang utk berboncengan melebihi kapasitas, harus sesuai dgn UU Lalu-lintas tahun 1994, mbuh nomor berapa saya sudah lupa.

5. Setiap saat harus ada petugas yang patroli baik dengan menggunakan sepeda-motor maupun mobil, utk monitoring dan mengatasi gangguan pada jembatan.

6. Jembatan Suramadu dan sekitarnya harus dapat menjadi obyek wisata yang dapat meningkatkan pendapatan (pemerintah dan masyarakat) secara signifikan! a.l dgn cara:
a. Memasang lampu (lighting) pada jembatan suramadu sehingga terlihat artistik di waktu malam.
b. Membuat sarana wisata di sisi Madura beberapa kilo meter dari tol jembatan, mulai dari rest-area, taman, mini zoo, taman bermain anak-anak, circuit go-kart, toko-2 souvenir, panggung terbuka, pentas ludruk, wisata air/pantai lengkap dengan perahu, water world, dermolen gede (apa nih namanya seperti Singapoe Flyer itu lho), buat event mingguan yg menarik misalnya pentas musik SMA/mhs, jenis musik tradisional dll dll.
c. Menyediakan ferry wisata, yang khusus utk ‘berfoto dgn latar belakang jembatan suramadu’, bukan utk menyeberang.
d. Membangun wisata pantai malam hari, seperti Song of The Sea -nya Spore, misalnya dgn cerita ‘Suro-Boyo’, kisah ikan Sura dan Buaya, pasti menarik, di buat di sisi Madura, sisi Surabaya sudah padat sekali, dan juga utk mengambil keuntungan dari tiket jembatan.

Nah, sekian dulu, usul usil saya, atau kalau mau ekstrim, dibangun Pusat Listrik Tenaga Nuklir di Pulau Madura.

salam hangat,

hxyz


Pengamanan pasca BOM

18/07/2009

saya amati, biasanya setelah terjadi ledakan bom, maka prosedur pengamanan diperketat, baik di lokasi ledakan maupun di lokasi-2 yang serupa. misalnya kalau ledakan di hotel, maka hotel-2 yang serupa (kelasnya terutama) melaksanakan pengamanan yang ekstra ketat. juga restoran, mal-2 yang sekelas.

kisah terbaru, kemarin terjadi ledakan bom di Ritz-C dan JWM Jakarta, maka JWM Surabaya juga kemudian melakukan pengamanan yang katanya siaga-1.

ini hal yang klasik, setelah kejadian, baru diadakan pengamanan. bukan hanya soal bom, soal pesawat celaka juga sama, setelah ada satu pesawat rusak rodanya misalnya, maka ramai-2 pesawat lain juga memeriksa roda-nya. menurut saya, ini bagus, daripada tidak diperiksa sama sekali. ada contohnya, ketika pesawat express-air celaka, karena pilotnya kaget melihat anjing melintas di runway, ternyata setelah kejadian itu, tidak ada pengamanan yang dilakukan di bandara-2 sejenis. di sorong itu, ojek masih lewat, di manokwari ehh ada juga sapi berkeliaran, kepriben coba.

kembali ke soal bom.
menurut pengamatan saya, bom tidak akan meledak ditempat yang sama dalam waktu yang sekuens (hitungan hari/minggu misalnya), artinya hari atau minggu berikutnya bahkan bulan berikutnya, tidak ada kejadian bom meledak berulang. jadi sebetulnya peningkatan pengamanan yang dilakukan ya sia-sia saja. (hmmm gimana? tidak sependapat? boleh kok).

mestinya -usul saya nih- .. pengamanan dilakukan setiap saat, setiap hari, bukan setelah ada bom meledak, tetapi dengan cara-cara yang ’soft’, tidak terkesan ‘menakutkan’ atau gamblang. gimana tuh? saya yakin petugas keamanan tahu soal ini (kalau belajar dgn betul). kayak pramusaji di rumah makan tuh, jangan bengong nungguin tamu makan di deket mejanya, melainkan berdiri jauh sambil terus memonitor apa yg terjadi pada tamu dan meja makannya, dari jauh boleh, dari balik kaca searah juga boleh, remote boleh, cctv juga boleh, pasti ada caranya deh.

jadi, mestinya, ketika ada orang nyeret-2 tas hitam atau koper ke restoran, mondar-mandir mencurigakan, mestinya sudah tahu dan curiga dan segera diamankan, tapi tidak dilakukan ‘kan? keburu meledak itu isi tas!

singkat kata, jangan lengah sedetikpun! tapi jangan kasat mata ketika memonitoring, ini ilmu biasa saja kok!

salam eksplosif !


Bandara

15/07/2009

Minimal, bandara mestinya tertutup, entah apa kelas bandara tersebut. Jangan sampai ada ‘pihak tak berkepentingan’ masuk bandara. Jadi, bandara mestinya dipagar dgn ketat, tak boleh sembarangan orang bisa keluar masuk bandara, mestinya hanya penumpang dan petugas saja yg bisa masuk ke bandara. Pengantar-pun harusnya diberi tempat yang jelas, dan terpisah dr penumpang. Para pengangkut barang, mestinya juga harus berada di luar, di teras saja, tidak perlu masuk sampai bisa mengambil bagasi segala. Atau lebih baik lagi tidak perlu ada pengangkut barang, cukup disediakan troli saja.

Saya yakin, untuk bandara-2 di tingkat kabupaten, hal ini bisa dilakukan, kalau tidak bisa maka sebaiknya tidak usah ada bandara – belum waktunya- , artinya sikon (budaya, sdm, sop, manajemen, infrastruktur) belum siap.

Risih dan tidak aman rasanya, bila turun dari pesawat, masuk ruang utk ambil bagasi, di sana sudah dikerubuti para pengangkut barang dan sopir taxi/ojeq. (contoh: bandara-2 di Papua). Padahal, hal ini mestinya tidak perlu terjadi, dan saya yakin bisa di atasi.

Aneh juga rasanya, ada pengantar yang bisa masuk sampai dalam pesawat, lalu turun lagi, karena memang cuma mengantar. Aneh dan ajaib pula ternyata di bandara ada ojeq melintas di ‘run-way’. Belum lagi berbagai binatang yang berseliweran, misalnya anjing, babi, sapi dll termasuk burung-2. (ingat ada pilot kaget ketika anjing melintas di bandara, dan membuat pesawat celaka?)

Sekali lagi, mestinya, minimal bandara di-isolasi dari pihak-2 yg tidak berkepentingan, pasang pagar, buat aturan, dan jalankan aturan, saya yakin bisa dilakukan.

Kalau tidak bisa? Hmmmm coba beri saya wewenang, 1 bulan saja utk membereskan masalah ini, saya yakin bisa mengatasinya.

(* he he he …siapa juga yg mau memberi wewenang … *)


ONO – ONO – ONNO

14/07/2009

Dulu, waktu lagi rame-ramenya pilpres, saya mengusulkan ‘julukan’ pasangan pres-wapres dengan sebutan Ono-Ono utk pasangan SBY-Budiono, saya ambil dari buntut nama mereka. Usulan saya tak digubris siapapun, soalnya memang tidak saya usulkan ke arah yg benar, sekedar iseng saja di blog saya ini.

Seperti dugaan banyak orang, juga dugaan saya sebagai bukan pakar politik, maka pasangan Ono-Ono keluar sebagai juara, cukup dengan satu putaran saja. Selamat untuk Pak SBY dan Pak Budiono. Dan juga selamat utk Bu Mega-Mas Bowo, dan Pak Kala serta Pak Wiranto yang telah berpartisipasi aktif dalam pilpres.

Kini, giliran tentang kabinet. Siapa ya yang akan duduk dalam kabinet Ono-Ono ini?

Mumpung belum lupa, saya usulkan salah seorang teman lama saya, yang dulu dikenal sebagai penjual radio di kampungnya di Bandung sana, yaitu Onno W Purbo, sebagai MENKOMINFO. Dari ‘track record’-nya dan perjuangannya, saya yakin teman saya ketika ngoprek radio di tahun 94 ini, dapat menjadi menteri yang mumpuni. Beliau ini benar-benar pakar di bidangnya dan diakui dunia.

Maka akan jadilah trio Ono-Ono-Onno ….

Bagaimana Pak SBY? setuju ….?

(* ayo dukung Onno W Purbo for Menfominfo lewat facebook *)


Menyenangkan rakyat (1)

02/06/2009

Dalam hari-hari yang penuh dengan banjir berita politik, karena memang lagi musim, maka sebagian besar peserta baik caleg (dulu) maupun capres (sekarang) seallu berusaha mengambil hati rakyat, menyenangkan rakyat. Sebetulnya yang paling berpeluang adalah incumbent, karena punya banyak waktu dan kuasa untuk menyenangkan rakyat selama 4 tahun lebih.

Menyenangkan rakyat ! … rakyat yang mana yang harus dibuat senang? apakah semua rakyat? menurut saya, ada sebagian rakyat yang hidupnya sudah senang, tidak perlu disenangkan lagi, terutama yang sudah mapan secar ekonomi, yang sudah berada jauhhhh di atas garis kemiskinan. Apapun bisa mereka dapatkan, kesempatan, peluang, birokrasi, semua bisa mereka beli dengan uang. Nah, sebagian lagi, uang ini nih, rakyat yang berada di bawah dan di seputar garis kemiskinan.

Pemerintah sempat memberikan Bantuan Langsung Tandas kepada rakyat miskin. Mereka senang, tapi ya cuma sesaat, karena langsung tandas – habis tadi. Rakyat yang tidak miskin ya tidak dapat apa-apa, hidup seperti biasa saja.

Menurut saya, utk menyenangkan rakyat, ada salah satu hal yang bisa dilakukan, dan cukup signifikan, yaitu ‘melayani rakyat dengan baik’. Semua urusan yang dilakukan rakyat harus dilayani dengan baik, cepat, murah, ramah dan itu akan membuat rakyat senang. Sebagai contoh, mengurus KTP. Nah, dibuatkan brosur informasi yang menarik, disebarluaskan, isinya tentu saja bagaimana mengurus KTP. Dan setiap pihak yang terkait diajari utk melayani dengan baik. Mungkin saja prosedurnya dari RT langsung ke kantor kecamatan. Setelah RT membuat surat keterangan, maka ybs membawa sendiri ke kantor kecamatan, serahkan surat dari RT dan foto, duduk sebentar, lalu dipanggil utk menerima KTP, selesai, dan tidak usah bayar. Pasti rakyat senang!

Di mana kesukarannya? ada yang sukar kah?

Yang perlu diwaspadai adalah titik-titik dimana ada kumpulan orang banyak, jadi misalnya di kecamatan. Maka harus dibuatkan petunjuk yang sangat jelas, dan dibuatkan sistem antrian yang sangat baik dan adil (silahkan contoh pelayanan di BANK, atau studi banding ke Malaysia saja lah utk hal public service ini).

Point yg penting pertama adalah ‘tidak usah bayar’, kecamatan tentu tahu jumlah penduduknya, dan berapa yang akan mengurus KTP tahun depan tentu tahu, jadi anggaran bisa disiapkan (utk satpol PP saja anggrannya gede banget melebihi utk pendidikan, gila itu). Kedua, pelayanan yang benar, artinya antriannya benar dan adil, tidak ada yang meyerobot. Dan prosedurnya benar, rakyat tidak merasa di ping-pong. Ketiga, kecepatan ketepatan, KTP jadi dengan cepat, dan tulisannya benar. Kalau tiga-tiganya lancar beres, pasti rakyat senang. Dan mereka akan berkomentar “Wahhh sippp sekarang, ngurus KTP di Kecamatan ‘XYZ’ sangat lancarrrr dan gratisss lagi”. Nah, itu point positif buat pemerintah (‘baca incumbent’).

(* coba pembaca renungkan, sejak jaman orde-lama, sampai sekarang, urusan dengan kantor pemerintah kok masih saja tidak menyenangkan *)

Itu baru KTP, urusan yanglain juga harus begitu perlakuannya. Segala macam urusan misalnya akte kelahiran/kematian/perkawinan, ngurus SIUP, HO, sertifikat tanah dll, pokoknya segala macam urusan dengan kantor pemerintah. Urusan-2 ini sangat sering kita dengar sangat rumit dan ujung-ujungnya adalah duit-suap-sogok (korupsi, memeras rakyat). INi rakyat sangat tidak senang, jadi harus diatasi, dihilangkan.

Jadi mudah bukan menyenangkan rakyat?

Yang melayani rakyat tadi kan PNS, yang digaji dari uang rakyat. Jadi mereka harus benar-2 melayani rakyat, bukan menjadikan rakyat sebagai sapi-perah.

Nah itu tadi soal ‘urusan rakyat di kantor pemerintah’. Lebih banyak ke masalah yang ’soft’, mengubah SOP, mengubah paradigma PNS. Seandainya tidak gratispun akan masih membuat rakyat senang.

Untuk menyenangkan rakyat, bisa juga dengan mengurangi beban mereka, dengan cara yang agak ‘hard’. Kalau BLT tadi dianggap kurang (kurang besarnya, atau kurang tepat sistemnya), maka bisa dilakukan cara lain, yaitu pengurangan pajak. kalau dulu PTKP misalnya Rp. X, maka sekarang ditambah misalnya menjadi Rp X+50%. Rakyat pasti senang. Rakyat yang nggak ngerti pajak nggak ikut senang nih. Cara lain lagi, misalnya, rakyat yang tagihan listriknya < Rp. 50.000 digratiskan. Mereka tidak dapat duit secara langsung melainkan bebannya dikurangi.

Wah enak nih dijaman 'Haris jadi presidennya, ngurus surat-2 lancar, tidak bayar, listrikpun ditanggung pemerintah, ptkp naik juga' begitulah akan dikenang rakyat.

(bersambung)


Pasangan terakhir

15/05/2009

Sampai jam 11 malam waktu sini, kok belum ada juga pengumuman dari Bu Mega ttg deklarasi capres-cawapres ya.

Mungkin yang sulit adalah mencari singkatan yang nanti bisa dipakai dengan pas utk kampanye.
(* tadi pagi saya usul Ono-Ono ternyata tidak dipakai oleh Pak SBY *)

Apa ya?

Coba saya usul beberapa:

Megawati Soekarnoputri – Prabowo Subianto
Mega – Pro (hmmm kok seperti iklan honda)
Gawa – Bowo (membawa wibawa)
Wa – Wo (ini artinya positif lho yaitu berkoalisi – bhs jawa)
Ti – To ( ati-ati menata negara)
Soe – Su (walah ….jangan pakai ini, walau su artinya bagus)
Putri – Prabu (nah …. bagus nih, putri raja)
apalagi ya, cukup susah nih …
ada lagi …
GAWAT – BRO (jangan dipakai ahhh)

coba kalau dibalik:
Prabowo Subianto – Megawati Soekarnoputri

Pro – Mega (bagus nih, berpihak pada Mega)
Bowo – Wati (bagus juga nih, berwibawa wanita, wanita berwibawa)
Prabu – Mega (bagus juga )
Prabu – Wati (bagus lho)
Prabu – Karno (wah kayak cerita wayang)
Pra – Meg (wah …nggak nyambung, nyaingi prameks)
Prasasti (Nah ini bagus …)

Wah, saya nggak nemukan lagi, dan rasanya masih belum ketemu yang memuaskan.
Kita tunggu saja nanti malam atau besok pagi, apa yang keluar …


Capres – Cawapres

15/05/2009

Ini dia pasangan capres-cawapres Rekiplik Impian tahun 2009-2014

1. KLA-WIR
2. ONO-ONO
3. GAWAT-BRO

Silahkan pilih yang menguntungkan diri anda, jangan golput !

he he he jangan marah ya, ini cuma gojegan saja, menurunkan tegangan …
saya sudah tegang sejak pileg yang lalu nih ….


ide skripsi tentang Pemilu

03/04/2009

buat adik-2 yang bingung cari topik skripsi bidang ikom, ini saya ada ide nih.

begini, bikin suatu aplikasi expert system utk menentukan pilihan partai anda, jadi siapa saja yang bingung mau memilih partai bisa pakai bantuan aplikasi ini. database (& knowledge base) sistem ini adalah visi/misi/strategi/program kerja tiap partai.

jadi, user akan dihadapkan pada pertanyaan-2 diagnosis (kayak dokter saja he he he), lalu user tinggal menjawab yes or no, maka kumpulan jawaban itu akan mengarah ke partai tertentu (analog dgn menemukan penyakit itu lho).

nah, gimana? mau coba?


Hati-hati memberi nama anak !

26/01/2009

Sebagai pengajar, saya terbiasa melihat daftar nama peserta didik di lembar presensi (daftar hadir). Pada pertemuan pertama, saya pasti memanggil satu demi satu sesuai nomor urut daftar presensi sambil berusaha mengenal, menghafalkan wajah dan nama siswa. Masa perkenalan-lah.

Berdasarkan pengalaman bertahun-tahun, saya menyebut nama mereka dengan hati-hati dan saya edit terlebih dahulu dalam hati. Apa pasal? Karena, tak jarang saya temukan nama yang menurut saya ‘agak gimana gitu’, kalau saya sebut/baca apa adanya tentu akan menimbulkan ‘kernyitan dahi’ bagi pendengar, bahkan mungkin bisa menimbulkan rasa malu bagi pemiliknya.

Contoh, sekali lagi contoh nih, bukan benar-benar terjadi. Ada mahasiswi bernama “Slamet Fatihah”, maka saya hanya membaca kata kedua “Fatihah” saja. Begitu seterusnya.

Memang memberi nama anak, harus amat sangat hati-hati. Nama akan melekat sampai mati, jarang ada anak yang ingin mengubah namanya sendiri, meskipun dimungkinkan.

Ada kalangan tertentu memberi nama anak yang mengandung arti ‘cita-cita’ atau ‘harapan’ kelak sang anak menjadi orang yang sesuai dengan namanya. Misalnya diberi nama “Sugiharto”, dengan harapan nantinya jadi “kaya raya”, atau misalnya “Budiwan”, agar menjadi orang laki-laki yang berbudi. (kalau perempuan Budiwati kali ya). Ada juga “Melody Violin” supaya jadi pemusik. Tetapi kenyataannya bisa jadi si Sugiharto malah melarat, si Budiwan jadi perampok, si “Melody Violin” bukan ahli musik, tapi lulusan termuda Universitas Indonesia ini dari FIB. Tak sesuai namanya.

Yang lebih tragis lagi kalau si pemilik nama “Cantik Jelita” ternyata wajahnya di bawah rata-rata, si “Bagus” ternyata jerawatan kayak saya. Wah…, kasihan kan tuh anak. Makin besar dia akan makin ’sadar kondisi diri’, bisa membuatnya kurang atau tidak PD. Itu sangat mengganggu perkembangan jiwa.

Memberi nama anak dengan membawa arti harapan, cita-cita, sebetulnya baik, agar si pemilik nama ‘terbebani’ dengan namanya, dengan harapan si pemilik nama berusaha menyesuaikan sikapnya dengan ‘namanya’. Si Budiman berusaha menjadi orang yang budiman, dst.

Menurut saya yang harus dihindari adalah memberi nama anak dengan kata sifat yang menunjukkan ciri fisik, misalnya kata “Cantik Jelita”, “Ayu”, “Bagus”, “Kukuh”, “Gagah Perkasa” dlsb yang serupa itu. Sebab, pertumbuhan fisik si anak belum tentu sesuai dengan namanya. Nah !

Jika sulit menemukan nama yang mengandung harapan positif, mungkin baik juga jika nama anak adalah netral, agar dia bisa berkembang natural, normal sesuai talenta yang dimilikinya, tanpa batasan apapun, memilki kebebasan bertindak/memilih, tanpa beban nama. Misalnya nama saya he he he he, saya cari-cari di kamus tidak ada artinya, dan tidak berafiliasi pada partai atau OS apapun. (Ndak tau dapat ilham darimana tuh nyokap n bokap gue)

Ada suku-suku tertentu yang memberi nama anak sesuai dengan situasi ketika sang anak dilahirkan, misalnya diberi nama “Guntur”, “Guruh”, “Taufan”, “Bayu Sumilir”, “Samber Geledek”, “Angin Ribut” dlsb. Ingat suku Indian? Nah lebih hebat lagi memberi nama anak, misalnya “Srigala bersahutan di tengah padang pasir” , “Gerhana matahari total” … Nama-nama itu tidak membebani mental pemiliknya.

Ada juga nama dari beberapa suku di Indonesia, yang hanya terdiri dari dua kata, nama depan dan nama belakang. Nama belakang biasanya family name (fam atau marga), misalnya Ronald Sihombing, Riesta Simanjuntak (wah ini keponakan saya), Dennis Mewengkang (ponakan juga). Panus Korwa (pemain bola yg handal). Menurut saya malah aman! Tanpa tendensi apa-apa.

Oh ya perlu dipertimbangkan, memberi nama anak dengan format Internasional atau amrik-style, ada first name, middle name dan last name. Dan biasanya middle name cuman ditulis initialnya saja, misalnya John F. Keneddy. Dan panjangnya jangan melebihi kotak yang tersedia di paspor. Jangan terlalu panjang. Orang Jawa yang biasanya memberi nama anak kadang pendek kadang panjang sekali tanpa format.

Satu lagi, perlu pertimbangkan faktor ’sex’. Tak mungkin kan anak perempuan kita beri nama “Bambang” atau “Bowo” sedang yang lelaki kita beri nama “Wati” atau “Henny”. Nanti bisa membingungkan masyarakat, dan itu dosa lho!

Kalau mau aman pilih nama yang unisex, utk lelaki atau perempuan bisa dipakai dan sudah biasa, misalnya…. nama saya, he he he.

Nah, bagaimana dengan nama anda?
Anda kurang suka dengan nama anda?
silahkan ke pengadilan negri untuk ganti nama.

boleh koq.


Batas Usia kepemilikan SIM

06/12/2008

to the point nih,

Begini, menurut pengamatan saya, terutama di Jogja, banyak sekali anak sekolah ber-sepedamotor walau belum berusia 16 th. Itu batas usia utk dapat memiliki SIM C. Nah, yang mereka lakukan adalah biasanya beli SIM atau istilah kerennya ‘menembak’. Mbuh gimana caranya akhirnya mereka bisa punya SIM dengan usia yg telah ‘disesuaikan’. Artinya ini penipuan umur. SALAH.

Ada juga, yang membiarkan dirinya tidak memiliki SIM, walau bersepedamotor tiap hari ke sekolah. Golongan ini, sudah hafal jalan yang aman, yang tidak ada ‘razia’, dan sudah hafal jadwal razia juga. Cuma mereka ini kalau kepergok polantas jadi grogi dan bisa berbahaya.

Mengapa mereka memaksa diri naik sepedamotor? Maka bisa dipastikan karena sarana transportasi umum dari rumah ke sekolah tidak ada. Seandainya adapun, maka jadwalnya tidak cocok, misalnya hanya lewat pukul 6 pagi, dan sampai di sekolah pukul 7.15 pagi, itupun harus ganti bus beberapa kali, jadi pasti telat ke sekolah. Selain itu, penumpang berjubel pada saat pagi, harus berjibaku utk bisa katut bus. Belum lagi pulangnya, pada jam sibuk pasti bus penuh juga, dan perjalanan juga makan waktu lama. Kasihan benar anak sekolah ini. Apalagi kalau harus berkegiatan sampai sore/malam, maka sudah tidak ada bus yang lewat. Belum lagi tantangan lain, copet, sopir ugal-ugalan, hujan, ngetem luama banget dlsb.

Maka berepedamotor adalah pilihan terbaik, harga (DP) murah, tak heran bila satu rumah, bisa ada 2 atau 3 spd motor sesuai jumlah penghuni.

Nah, soal SIM C tadi, saya usul begini, semua orang diperbolehkan utk punya SIM. Persyaratannya di ubah sbb:
a. usia > 13 th dan
b. tinggi badan > 150 cm dan
c. lulus uji ketrampilan mengemudi (praktik) dan
d. lulus uji pengetahuan lantas (teori) dan
e. lulus uji ‘psiko (maturity, emotional control, ESQ)’

semua persyaratan di atas harus dipenuhi, tidak ada satupun yang tertinggal. Dengan demikian sipemilik SIM C benar-2 memenuhi syarat utk mengemudi spdmotor. Jadi yang di bawah 16 th pun bisa punya SIM, dan yang diatas 16 th tapi gila ya tidak bisa punya SIM.

begitu ,,, bgmana?


Buat software sendiri

02/12/2008

Pembajakan S/W di Indonesia cukup tinggi, karena kita memang kurang suka ‘membeli’ S/W original, maklum kita miskin.

Nah. Jadi jelas, mari kita buat sendiri S/W yang kita butuhkan. Di Indonesia banyak jurusan komputer, banyak mahasiswa dan dosen komputer yang pinter-pinter. Maka bisa diwajibkan untuk membuat skirpsi/thesis/disertasi yang berkaitan dengan pembuatan S/W. Misalnya membuat text-editor atau spreadsheet di bawah platform OS Open Source. Membuat browser sendiri dll dll. Uang yang ada untuk beli tools nya saja, dan hal ini ditangani/dikorrdinir secara nasional. Selain mahasiswa (atau dari perguruan tinggi), bisa juga pemerintah membuat institusi khusus utk mengembangkan S/W ini.

Saya yakin, Indonesia bisa menjadi negara penghasil S/W, bukan pembajak S/W.

Kepriben?

(* “agraris sih, makanya jadi pembajak”, komen petani sebelah rumah*)


CALEG PEMILU 2009

19/11/2008

Pemilu 2009 sudah menghangat, walau masih tahun depan. Bila anda ingin melihat daftar CALEG silahkan klik di sini. Sayangnya, anda harus mendownloadnya terlebih dahulu baru bisa lihat.

Saya usul utk pengelola situs tersebut, kiranya bolehla diuat agar pengunjung bisa ’searching’ lalu tampil keluar hasilnya di layar, tak perlu D/L. Juga saya usul, bagaimana kalau setiap orang yang jadi CALEG tersebut membuat blog untuk menginformasikan dan mempromosikan dirinya.

Selain itu, saya usulkan juga agar setiap partai diwajibkan memiliki website yang resmi, bila perlu struktur content-nya diatur, agar rakyat mudah membaca dan mengaksesnya serta membandingkan satu partai dengan partai yang lain.

kados pundi, mas KPU?


Aku (bukannya tidak) cinta buatan Indonesia I

15/11/2008

Ternyata, apa yang saya nikmati sehari-hari banyak juga yang buatan luar-negara. Kalau saya perhatikan, jam tangan saya citizen, kendaraan honda dan suzuki, kulkas toshiba, mesin cuci Samsung, TV Sony, Radio Toshiba, Laptop Sony and Compag, DVD Player LG, AC Mitsubishi, tabung gas konon buatan Cina, dispenser jelas Korea, rice cooker phillips, Camera Olympus, HP Nokia, sampai sepeda kuno (Gazelle) dan celana dalam pun (crocodile) ternyata buatan luar negri! Nggak tau apa barang-barang itu made in luar negri beneran atau ‘tembakan’.

Coba anda semua para pembaca meneliti sendiri, produk made in mana yang anda nikmati sehari-hari?

Yang jelas-jelas buatan dalam negri, sepatu-sandalku merk Bata pabriknya di Kalibata sana, dan apa lagi ya, lho kok jadi sulit mengingat-ingat buatan negri dhewek. Oh ya mebel, meja kursi ranjang, made in Klaten. Mungkin alat-alat makan sebagian buatan maspion (tapi denger-denger maspion mindah pabrik ke Cina juga, bener nggak ya?). Kemeja, celana panjang, kayaknya dalam negri deh.

Mungkin, makananlah yang asli made in Indonesia, saya makan nasi yang berasal dari sawah sendiri (warisan ding) di Sleman pojok sana (tidak beli di supermarket lho, kecuali terpaksa). Sayurmayur saya yakin produk lokal. Ikan, daging, telor juga lokal. Mmmmm, tapi saya tak tahu pasti deh, siapa tahu sapinya saking ostrali, mbuh wis.

Saya bukan ’sok’ pakai made in luar, tapi justru ‘terpaksa’. Sepeda motor honda paling ‘cocok’ utk kantong saya, biaya operasional rendah. Mobil Suzuki mungil sayapun sangat irit, maklum mampunya beli itu. Penginnya sih Toyota Estima atau Nissan Morano. Jam tangan? ohhh itu hadiah waktu ke Jepang dulu 10 tahun lalu, masih awet, belum pernah beli lagi suerrrr deh. Lainnya memang kayaknya nggak ada yang buatan Indonesia (yang sesuai buat saya). Sepatu buatan Indonesia, tidak ada (paling tidak belum ketemu) yang cocok dengan kaki saya. Bagaimana mau mencintai kalau yang akan dicintai nggak ada. Atau kalaupun ada pasti nggak cocok, hmmm cinta bertepuk sebelah tanganlah.

Jadi, tampaknya makanan sayalah, yang bisa dipastikan made in Indonesia. Lumayanlah, yang masuk ke tubuh ini masih made in Indonesia (kalau masih tinggal di Indonesia). Saya lebih suka rawon ketimbang tom yam, saya lebih suka pecel ketimbang salad (apalagi yg ada udang mentahnya, wuueekk), saya lebih suka ote-ote ketimbang pizza. Wong Jowo sih. Lidah lokal.

Kapan ya, Indonesia buat sendiri utk bisa dipakai sendiri? Buat kapal terbang, gagal, buat mobil nasional gagal juga, swasembada pangan ya tinggal berita, bikin beras unggul ya supertoyul !
walah-walah …. jangan-jangan pemimpin pun harus ‘outsourcing’ opsss politik! moh ah.

Menurut saya sih harus diawali dengan ‘makanan’ tadi, artinya industri agro, industri pertanian dan industri yang berasaskan pertanian. Beras harus swasembada, gula juga, sayur-2, daging/ikan/telor juga harus swasembada. Sapi (ternak) ya harus ternak sendiri sampai bisa mencukupi kebutuhan dalam negri. Apa susah ya? atau Apa susahnya? susah kan bukan berarti tidak bisa. Faperta banyak, profesor bidang itu banyak juga, duit penelitian wow jangan diragukan, sekarang banyak juga, lahan subur ya nggak kurang-kurang. Kalau sudah mandiri di bidang pangan, kalau ‘ada apa-apa’, misalnya krisis financial made in America skr ini, kita orang Indonesia masih bisa makan kenyang! Makanan tak perlu impor lagi. Mungkin nggak banyak orang tahu, tempe yang katanya asli Indonesia itu, sekarang ini, kedelainya impor lho! Kedelai dalam negri, tidak bisa dibuat tempe! Jadi, kalau anda makan tempe, maka anda ‘luar-negri minded’, nah lu. Belum lagi paten tempe tuh dipegang Jepun.

Kalau swasembada pangan beres, wow luar biasa, stop impor! Hemat duit!
Perkara makan kok bergantung pada tetangga, ngisin-ngisini!

sekian dulu,
ana candhake ….


Lomba mirip Broery Marantika

31/10/2008

Saya termasuk penggemar penyanyi terkenal Almarhum Broery Marantika.  Mungkin karena suara saya mirip dengan suaranya (‘memang kebalik’).   Semua lagu-lagunya ‘enak’ di telinga saya, dan saya bisa menyanyikan hampir semua lagu beliau.

Saya pernah mampir ke beberapa tempat baik di Indonesia maupun di Malaysia, yang kebetulan ada ‘penyanyinya’ yang menyanyikan lagu-lagu Broery, rupanya di dua negara ini penggemar Broery cukup banyak.  Di Malang dan di Manokwari saya temukan penyanyi yang bersuara sangat mirip Broery.

Nah, saya usul ke stasiun TV baik di Indonesia maupun Malaysia (lebih baik kalau kerja bareng) untuk mengadakan lomba mirip Broery, dikemas menjadi tontonan yang ‘profitable’, dan sebagian hasilnya kita bagikan kepada keluarga Almarhum.

Bagaimana SCTV, RCTI, MetroTV, TV7, TV3, RTM setuju?

Saya siap menjadi pengerusinya :)