Ada film, novel dan lagu yang berjudul “Merpati tak pernah ingkar janji”. Merpati ini memang melambangkan ‘kesetiaan’, komitmen!!!
Tetapi penglaman saya dengan “Merpati” yang satu ini, sungguh berbeda.
Begini ceritanya.
Lewat adik saya di WITA-TOUR, saya membeli tiket penerbangan Surabaya-Manokwari dan Manokwari-Sorong. Tiket ini saya beli jauh-2 hari sebelumnya dengan maksud agar perjalanan nyaman dan tepat waktu. Ketika hari ‘H” tiba, saya berangkat ke bandara Juanda, lalu check-in dan masuk dalam ruang-tunggu. Awalnya semua tampak lancar. Namun ketika jam menunjukkan pukul 23.00, tidak ada tanda-tanda apapun, padahal itu adalah jam keberangkatan sesuai dgn yg tercantum dalam tiket. Lalu ada pengumuman, penerbangan ditunda 1 jam. Satu jam berlalu, kemudian ada pengumuman lagi, penerbangan dibatalkan karena alasan teknis. Hanya itu saja pengumuman yang terdengan dari pengeras suara. Maka tak ayal lagi banyak penumpang berkerumun di meja petugas utk meminta penjelasan, suasana menjadi ribut dan hiruk pikuk. Seharusnya diberikan pengumuman dengan jelas, misalnya penumpang diberi penginapan, ditunda utk penerbangan berikutnya, atau tiket dikembalikan dan diberi kompensasi, atau apasajalah yang menenangkan penumpang, bukan dibiarkan begitu saja sehingga terjadi keributan. Kasihan juga petugas darat merpati dikeroyok banyak penumpang! Setelah situasi agak reda, giliran saya yg bertanya pada petugas, “Mas mas, siapa bos-nya di sini, tolong antarkan saya pada beliau, saya mau tanya, mengapa terjadi seperti ini, dan saya yakin Masnya kan tidak tahu dan tidak salah, jadi antarkan saya pada boss anda”. Ehh responnya positif, saya diajak keluar utk ditemukan pada bossnya, ..,…dalam perjalanan saya ngobrol dgn Mas petugas itu, “kenapa sih pengumumannya kok cuma ..dibatalkan begitu saja …” dia menjawab lha memang begitu yg dia dapatkan, dan masih menunggu kepastian ‘hotel/penginapannya”…lalu saya katakan “lha itu yg penting, harus disampaikan kepada penumpang kalau memang harus menunggu..”…lalu saya putuskan utk tidak jadi menemui boss-nya, kita kembali saja, menunggu.
Ketika kembali ke ruang tunggu, ehhhh ada pengumuman lagi, “dipersilahkan naik ke pesawat udara, penerbangan ke Manokwari tidak jadi dibatalkan, kita mendapatkan ijin utk terbang”, jam menunjukkan pukul 00.30. Maka berbondong-bondong penumpang yg masih setia, utk naik pesawat, sebagian lagi sudah ngacir meninggalkan bandara, pulang atau entah kemana.
Kira-kira setengah jam dalam pesawat yang panas bukan main (AC tak hidup), semua penumpang gelisah, pesawat tak bergerak, dan akhirnya ada pengumuman, “penumpang dipersilahkan turun, pesawat tak dapat terbang”. Wow ….amazing ..man.
Kami semua kembali turun ke ruang tunggu, dan diumumkan bahwa penerbangan ke Manokwari ditunda dua hari lagi. Sekali lagi dua hari (DUA HARI) saudara-saudara. Dipersilahkan mengambil bagasi dan menuju hotel yang telah disediakan.
Maka setengah mengemis dan memasang tampang memelas, saya mohon utk dipindah ke penerbangan lain, dan menurut petugas darat saya diminta kembali ke bandara pukul 05.00 pagi. Setelah tidur sebentar di hotel, maka kam 05.00 saya sudah berada di bandara kembali, dan menemui petugas. Dan Alhamdulillah, saya dapat tiket pesawat lain pagi itu, yaitu pesawat “express air’, tanpa dipungut biaya apapun, thanks banget Merpati, walau saya tertunda sehari.
Singkat kata, acara di Manokwari sukses walau harus sedikit ‘akrobat’ dgn jadwal. Nah, giliran terbang ke Sorong nih. Ketika tiba di manokwari saya segera konfirmasi tiket saya ke Sorong, dan dijawab merpati status OK, ini terjadi hari Senin. Dan jadwal saya ke Sorong hari Jumat. Pada hari Kamis sore, iseng-2 saja saya mampir ke kantor merpati, menanyakan lagi status tiket saya, bagai disambar petir saya terima berita bahwa “besok tidak ada pesawat ke Sorong”, kata petugas, “kenapa?” tanya saya,” memang di jadwalnya tidak ada, uang tiket dapat dikembalikan dan dipersilahkan mencari sendiri penerbangan pengganti”
WOWWWW…. ini dia nih, terjadi juga hal-2 yg saya khawatirkan. Bayangkan saudara-saudara, uang dikembalikan sebesar yang tertera di tiket, dan diminta mencari penerbangan pengganti sendiri. Atau kalau masih beruntung bisa ikut penerbangan merpati berikutnya di hari minggu (artinya dua hari lagi). Saya tidak mau beradu argumen, sudah jelas masalahnya bahwa merpati sudah angkat tangan, maka dengan senyum manis dan ramah saya minta uang saya sebesar 670ribu, dan kemudian mencari tiket lain yaitu “express air”, seharga 1,2jt, beruntung saya dapat ‘katut’ di express air, maklum lewat jalur amat khusus yaitu jalur ‘intel’ (thanks to aparat intel Manokwari, thanks buat Mr. X yang ganteng dan gondrong padahal polisi, yg mengantarkan saya kemana-mana dgn rush or innova hitam). Saya naik express-air hanya berbekal boarding-pass, tanpa tiket, entah apa jadinya jika pesawat itu lenyap, nama saya pasti tak tercantum dalam daftar, hehehhe.
Sampai di Sorong dgn selamat, dan pada hari minggu, keponakan saya yang anggota KPU itu menelpon dari bandara “Edward Osok Sorong”, “Om tolong jemput saya ya, saya dari manokwari mau ke jakarta pakai Merpati, tapi pesawatnya olinya bocor, jadi tidak bisa terbang, tadi landingnya kasar sekali, pesawat ditunda senin katanya”. walah …. itu kan pesawat yang ditawarkan kepada saya tempo hari, ternyata bermasalah juga. Lalu saya tancap gas Kuda Mitsubishi hitam ke bandara, dan kita tertawa ngakak bersama, akhirnya besok senin kita berangkat bareng, saya ke SBY dia ke JKT, tapi saya naik express-air, dan dia naik ‘Merpati”. Sempat bertemu ketika transit di makasar, dua hari berikutnya kita bertemu di jogja, dorong-2 karimun biru yg mogok kerena tali alternator putus.
Ketika di Manokwari, saya diberitahu oleh teman-2 yang sering mondar-mandir naik pesawat, pesannya adalah, “jangan naik merpati, letakkan merpati pada pilihan terakhir, karena merpati seringkali ingkar janji”. dan ternyata memang benar apa kata teman-teman saya tersebut.
Cerita masih berlanjut.
Di Surabaya, setelah membereskan acara ‘bedol-desa’, alias pindah rumah dari Jogja ke Surabaya, adik saya yang sedang bertugas di Malang memberitahu saya, mau mampir ke rumah, dan menginap, karena akan ke Sorong pada hari Senin pakai merpati. NAIK MERPATI? walah …walah timbul kekhawatiran saya. Singkat kata, adik saya itu nyangkut di makasar sehari, pesawat rusak katanya.
Masih ada cerita yang terselip lho.
Waktu di Manokwari, sehari setelah saya tiba, keesokan harinya teman saya (Rektor Unipa) juga nyangkut di Makasar, naik merpati juga, hal itu membuat acara teman saya juga berantakan.
–ooOoo–
Itu secuil kisah saya bersama Merpati. Mungkin ada baiknya jika pihak Merpati mulai mengevaluasi diri, dan menetapkan langkah-langkah kongkrit untuk meningkatkan performancenya. Bagaimanapun transportasi di papua banyak mengandalkan penerbangan.
Selain itu utk pemerintah (daerah?), kiranya baik kalau ijin penerbangan juga diberikan dengan mudah ke berbagai maskapai penerbangan lain, sehingga akan banyak alternatif, dan dapat menurunkan harga, serta pada gilirannya kelak dapat memajukan tanah Papua (ini tanah tempat saya dibesarkan lho). Juga, saya kira baik sekali kalau mulai dipikirkan pembuatan infrastruktur (misalnya jaringan jalan raya) antar kabupaten di Papua.
Dan akhirnya buat saudara-saudara saya di Papua, baik di pemda atau non-pemda, tetaplah semangat dan selalu meningkatkan kinerja anda dengan meletakkan kepentingan umum (masyarakat luas) di atas kepentingan pribadi atau golongan demi memajukan tanah Papua.
Bravo Papua.
Amoke.