Bandara Sorong vs bandara LCCT dan Svarnabhumi

02/08/2009

Anda tahu di mana kota Sorong?  Iya benar … Sorong ada di Papua, tepatnya di daerah kepala burung, silahkan lihat peta atau google earth utk memastikan.    Bagi anda yang sering ke Sorong, tentu hafal benar bagaimana bandara Sorong ini.   Sebenarnya, bandara Sorong dulu terletak di sebuah pulau kecil, Pulau Jefman namanya.  Ini bandara bekas perang jaman Jepun dulu.   Tapi sejak sekitar delapan tahun terakhir Sorong sudah punya bandara sendiri, di daratan, bukan di pulau.   Nama resminya bandara “Domino Edward Osok”.    Terakhir saya ke sana, bulan lalu, kondisi bandara sudah lumayan dibanding tahun 2004.    Sudah ada tempat parkir yang luas.  Sudah ada gedung ruang tunggu.  Walaupun kecil namun sudah lumayanlah.   Daripada dulu, cuma ada atap seng saja, utk kitorang tunggu pesawat, terlalu sederhana.

Yang menarik, di bandara Sorong ‘Eduard Domino Osok’ ini adalah, adanya dua buah bus, yang mondar-mandir mengantar penumpang dari ruang tunggu ke pesawat atau sebaliknya.    Dan anda tahu berapa jarak dari ruang tunggu ke pesawat?   tak lebih dari 100 meter saja.    he he he, saya pernah ketinggalan bus ini, dan saya jalan kaki saja sampai di pintu pesawat, dan saya tidak tertinggal.

Nah bandingkan sekarang dengan bandara Svarnabhumi, Bangkok atau LCCT Kuala Lumpur.   Jumat kemarin, saya di Svarnbhumi, bener-2 merasa dikerjain oleh bandara,  bayangkan turun dari taxi, harus berjalan arah balik sekitar 200 meteran ke tempat check-in, setelah check-in, balik lagi ke arah imigrasi, sama jauhnya, lalu ke ruang tunggu, kira-2 ada kalau 1 km, jalan kaki bung, ke ruang tunggu E7 ! Sebagian memang ada eskalator-datarnya.  Dengan menyeret dua koper besar, sakit rasanya bahu dan kaki ini.   Saya jadi teringat bandara Osok di Sorong tadi yang begitu nyaman, naik bus utk jarak 100 meter saja.

Ehhhh penderitaan belum berakhir, mendarat di LCCT (Kuala Lumpur), entah apa sebabnya atau memang aturannya, itu pesawat parkir di pojok yang paling jauh dari pintu keluar.   Dan kembali saya berjalan kaki, kira-2 hampir 1 km juga tuh.  Belum pernah saya jalan di bandara sejauh ini.    Dari pintu keluar, ke arah bus, ehhh jauh juga, 250 an meterlah.    Kembali saya teringat bandara ‘Osok’ di kampung halamanku di Sorong sana.

Enak betul lho di ‘Osok’, turun pesawat langsung naik bus, di atas bus tak sampai 2 menit, masuk di ruang pengambilan bagasi, ambil bagasi langung keluar, dan mobil penjemput sudah terlihat di depan hidung.  Kalau mau naik ojeg, yach tinggal melambaikan tangan saja. Beres deh.

Jadi, ternyata bandara ‘Osok’ lebih sip deh ketimbang ‘LCCT’ di KL maupun Svarnabhumi di Bangkok.

(* cuman yaitu, pilotnya harus ekstra hati2, kadang-2 ojeg juga melintas di run-way, dan tampaknya ruang tunggu sudah tak muat, harus dibesarkan lagi … heheheheh *)

Salam utk Pak Walikota Sorong (mantan teman SMA-ku).


Menyusuri sungai Chao Praya Bangkok

02/08/2009

Sungai Chao Praya ini merupakan sungai yang besar, membelah kota Bangkok.   Perkembangan kota Bangkok ini diawali dari sungai ini.  Di sepanjang sungai ini banyak terdapat candi-candi Budha (mereka sebut Wat).    Menyusuri sungai ini, merupakan agenda wajib bagi para turis.   Sekali lewat, kita bisa men-scan banyak tempat tujuan wisata.   Salah dua yang terkenal adalah Grand Palace dan Wat Pho.

Kebetulan saya menginap di Imperial Queen Park Hotel,  sehingga harus naik BTS dua kali (BTS ini sejenis KRL), dari stasiun Pham Prong ke Siam, lalu dari Siam ke Thaksin.  Nah di satsiun BTS Thaksin inilah, kita akan mulai banyak ditawari oleh penjaja tour utk menyusuri sungai.  Berbagai tawaran menggiurkan disampaikan plus foto-2nya dengan harga yang relatif mahal (lebih dari 1000 baht).  Nah ini saatnya anda waspada dan hati-2, saya sarankan anda jangan terpengaruh, dan jangan beli apa-apa disini.   Berjalanlah terus sampai ke bawah, keluar dari stasiun, dan langsung ketemu sungai, ketemu dermaga.

Menurut saya ada dua pilihan yang menarik bgmana cara anda menyusuri sungai yang sangat lebar dan berombak cukup besar ini.  Pilihan pertama, anda bisa ikut perahu khusus turis, bayar 130 baht/orang., anda harus menyisihkan waktu sekitar 4 jam pp, maka sebaiknya datanglah sebelum jam 11.00 di dermaga ini.    Perahu cukup besar, bisa mengangkut sekitar 120 orang, dan ada pemandu berbahasa Inggris.    Perahu ini akan menyusuri sungai dan akan berhenti di dermaga dekat Grand Palace dan Wat Pho, tetapi ingat untuk masuk ke kedua tujuan tersebut, anda harus bayar sendiri 50 baht.

Pilihan kedua, nah ini pilihan yang saya ambil, sebagi turis yang berkantong tipis dan suka tantangan (maksudnya bisa ngirit hehehe).  Pilihlah naik perahu reguler.  Perahu ini melayani rakyat kebanyakan, dan memang sehari-2 untuk transportasi kota, lewat sungai.   Banyak masyarakat menggunakannya.   Ada beberapa jalur (merah, hijau, kuning dan orange).  Pilihlah yang orange,  karena jalur ini akan singgah di GRand palace dan Wat Pho.  Hati-2 jangan salah naik, karena kalau salah anda akan terbawa ke lain tujuan.   Di perahu terlihat benderanya, yang berwarna sama dgn warna jalurnya.  Anda bisa salah naik karena pengumuman selalu menggunakan bahasa Thai, bukan bhs Inggris, so hati-2 kawan …

Tiket bisa dibeli di dermaga, bisa juga di atas kapal, ada kondekturnya, persis seperti kalau naik bis kota di Jawa.   Kalau pas ramai, anak-2 sekolah pulang, atau orang kantoran pulang, maka bisa saja anda tidak kebagian tempat duduk, berdiri bergelantungan juga pemandangan biasa di sini.    Nah, turunlah di dermaga Grand Palace, tiket cuma 20 baht.  Murah bukan?   Oh ya, jangan pilih duduk di depan, nanti terkena air yang muncrat, karena ombak yang cukup besar.

Turun di Grand Palace, ikut saja arus orang keluar, nanti ketemu Grand Palace, masuknya bayar 50 baht.  Dari grand Palace anda bisa ke Wat Pho, itu patung Budha yang tiduran, terbuat dari emas, dan buesaaaarrrr sekali.   Dari Grand Palace bisa naik tuk-tuk 40 baht, tidak jauh sih, cuma akan capek kalau jalan kaki.     Di Wat Pho ini anda bisa berfoto-foto, lepas sandal dulu kalau masuk.  Sayangnya itu patung Budha yg tiduran, tidak bisa di foto utuh, sebab terlindungi oleh bangunan dan dikelilingi rantai dengan pengamanan ketat.  Mungkin jaga-jaga siapa tahu ada turis yang mau ‘nyuwil’ jarinya, kan lumayan … berapa gram emas tuh, he he he.

Dari Wat Pho, anda bisa kemana-mana ke Wat Wat yang lain, silahkan lihat peta!  Dan pulangnya nanti, silahkan ke dermaga terdekat, dan naik perahu lagi pilih jalur (warna/bendera) yang singgah di dermaga  Thaksin.  Dar Thaksin ini anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan BTS (ini sejenis KRL, tapi dijamin jauh lebih aman dan nyaman ketimbang  KRL jabotabek).

OK, ada pertanyaan?

silahkan, saya tunggu.


Hati-2 belanja di Pat Pong – Bangkok

02/08/2009

Sama juga dengan belanja di kaki lima Malioboro Yogyakarta Indonesia, atau di Petaling Chinatown KL Malaysia, namanya tempat tujuan wisata,  pasti sipenjual pengin ambil untung sebanyak-banyaknya.   Siapa tahu ada turis yang lagi pusing dan nggak mikir soal nilai-tukar uang, sehingga benar-2 bisa dikerjain.

Nah, dua hari lalu saya ke Pat Pong,  memang ini red-district area, tapi saya bukan mau ‘jajan’ di sana melainkan cuma mau mejeng alias berfoto saja, bukti bahwa sudah sampai Pat Pong he he hehe.   Dari hotel Imperial Queen Park tempat saya menginap, saya jalan kaki menuju Phram Phong BTS station (KRL nya Bangkok).  Dari Phram Phong ini naik BTS dan turun di Siam Station, ganti BTS menuju ke Sala Daeng.  Turun di Sala Daeng (ambil yg kiri sepur, bukan yang kanan), lalu menyusuri pertokoan.  Kira-2 75 meter, sampailah di Pat Pong.   Berfoto sejenak, hehehe.  Dan memang betul itu daerah lampu merah, banyak tempat hiburan malam.   Saya anjurkan sebaiknya jangan ke sini kalau memang mau jalan-jalan saja, karena akan banyak gangguan.   Banyak orang menjajakan ‘gituan’ tanpa tedeng aling-aling, dan ini mengganggu perjalanan saya yang memang cuma mau jalan-2.    Pat Pong ini ada dua jalan, satunya masih mending, karena banyak penjual macam-2 barang seperti halnya di Petaling (KL).   Sedang satunya lagi, wow … hati-2 banyak pondan yang cakep-2 dan bisa memaksa anda utk jajan.  Nah, ternyata, ketika saya mencoba menawar suatu barang, wah wah wah harganya bukan main mahal, ditawarkan dengan harga setinggi langit saudara-saudara …  tas yang seperti di pasar wonokromo saja, ditawarkan 4800 baht, saya pikir dia gila tuh… perkiraan saya 200 ribu rupiah saja lah.     Dan, para penjual itu selalu ‘memaksa’ agar kita membeli, kadang dengan cara kasar.  Memang boleh menawar, tetapi dengan pasang harga awal setinggi itu, kita mau berani nawar berapa?   Seandainya kita menawar separuhnya, maka dia sudah untung berlipat-lipat ganda.  Itu tas saya tawar 100 baht, dia muring-2, saya juga muring-2, tetapi dgn bahasa masing-2 …, tak pisuhi … jiannnnnc*k dia nggak ngerti hehehe dan sebaliknya.   Jadi kalau tak berani adu urat leher, jangan coba-2 menawar barang di sini.

Singkat kata, sebagai tips utk rekan-2 yang mau belanja di sana, tawarlah dengan harga sepersepuluh dari yang ditawarkan.   Dan ini tips jitu, biasanya berhasil, dan dia sudah untung serta kita tidak rugi, ini subyektif lho menurut pengalaman saya.   Sebagaimana di Malioboro kalau menawar, tawarlah sekitar seperempat dari yang ditawarkan penjualnya.

Memang begitulah penjual, selalu ingin cari untung besar, namun kalau penawaran awal terlalu tinggi, saya kira sudah tidak bermoral lagi tuh penjual.   Mestinya harga dikontrol pemerintah, dan keuntungan juga diatur.   Untuk hal seperti ini banyak negara yang belum bisa melakukan.

Bangkok (dan Pat Pong) ini, kalau tidak dibenahi, maka sektor turisme akan tiarap, dari koran yang saya baca hari itu, ternyata jumlah turis sudah turun sebesar 38% dibanding tahun lalu.    Saya jadi teringat, di Jogja dulu juga ada aturan dari pemda agar penjual makanan lesehan (di malioboro) wajib menampilkan daftar harga makanan, agar pengunjung tidak kena ‘thuthuk’ alias bayar muaahhhaaalll.

Salam.

hs


Merpati tak pernah (tak) ingkar janji

13/07/2009

Ada film, novel dan lagu yang berjudul “Merpati tak pernah ingkar janji”. Merpati ini memang melambangkan ‘kesetiaan’, komitmen!!!

Tetapi penglaman saya dengan “Merpati” yang satu ini, sungguh berbeda.

Begini ceritanya.

Lewat adik saya di WITA-TOUR, saya membeli tiket penerbangan Surabaya-Manokwari dan Manokwari-Sorong. Tiket ini saya beli jauh-2 hari sebelumnya dengan maksud agar perjalanan nyaman dan tepat waktu. Ketika hari ‘H” tiba, saya berangkat ke bandara Juanda, lalu check-in dan masuk dalam ruang-tunggu. Awalnya semua tampak lancar. Namun ketika jam menunjukkan pukul 23.00, tidak ada tanda-tanda apapun, padahal itu adalah jam keberangkatan sesuai dgn yg tercantum dalam tiket. Lalu ada pengumuman, penerbangan ditunda 1 jam. Satu jam berlalu, kemudian ada pengumuman lagi, penerbangan dibatalkan karena alasan teknis. Hanya itu saja pengumuman yang terdengan dari pengeras suara. Maka tak ayal lagi banyak penumpang berkerumun di meja petugas utk meminta penjelasan, suasana menjadi ribut dan hiruk pikuk. Seharusnya diberikan pengumuman dengan jelas, misalnya penumpang diberi penginapan, ditunda utk penerbangan berikutnya, atau tiket dikembalikan dan diberi kompensasi, atau apasajalah yang menenangkan penumpang, bukan dibiarkan begitu saja sehingga terjadi keributan. Kasihan juga petugas darat merpati dikeroyok banyak penumpang! Setelah situasi agak reda, giliran saya yg bertanya pada petugas, “Mas mas, siapa bos-nya di sini, tolong antarkan saya pada beliau, saya mau tanya, mengapa terjadi seperti ini, dan saya yakin Masnya kan tidak tahu dan tidak salah, jadi antarkan saya pada boss anda”. Ehh responnya positif, saya diajak keluar utk ditemukan pada bossnya, ..,…dalam perjalanan saya ngobrol dgn Mas petugas itu, “kenapa sih pengumumannya kok cuma ..dibatalkan begitu saja …” dia menjawab lha memang begitu yg dia dapatkan, dan masih menunggu kepastian ‘hotel/penginapannya”…lalu saya katakan “lha itu yg penting, harus disampaikan kepada penumpang kalau memang harus menunggu..”…lalu saya putuskan utk tidak jadi menemui boss-nya, kita kembali saja, menunggu.

Ketika kembali ke ruang tunggu, ehhhh ada pengumuman lagi, “dipersilahkan naik ke pesawat udara, penerbangan ke Manokwari tidak jadi dibatalkan, kita mendapatkan ijin utk terbang”, jam menunjukkan pukul 00.30. Maka berbondong-bondong penumpang yg masih setia, utk naik pesawat, sebagian lagi sudah ngacir meninggalkan bandara, pulang atau entah kemana.

Kira-kira setengah jam dalam pesawat yang panas bukan main (AC tak hidup), semua penumpang gelisah, pesawat tak bergerak, dan akhirnya ada pengumuman, “penumpang dipersilahkan turun, pesawat tak dapat terbang”. Wow ….amazing ..man.
Kami semua kembali turun ke ruang tunggu, dan diumumkan bahwa penerbangan ke Manokwari ditunda dua hari lagi. Sekali lagi dua hari (DUA HARI) saudara-saudara. Dipersilahkan mengambil bagasi dan menuju hotel yang telah disediakan.

Maka setengah mengemis dan memasang tampang memelas, saya mohon utk dipindah ke penerbangan lain, dan menurut petugas darat saya diminta kembali ke bandara pukul 05.00 pagi. Setelah tidur sebentar di hotel, maka kam 05.00 saya sudah berada di bandara kembali, dan menemui petugas. Dan Alhamdulillah, saya dapat tiket pesawat lain pagi itu, yaitu pesawat “express air’, tanpa dipungut biaya apapun, thanks banget Merpati, walau saya tertunda sehari.

Singkat kata, acara di Manokwari sukses walau harus sedikit ‘akrobat’ dgn jadwal. Nah, giliran terbang ke Sorong nih. Ketika tiba di manokwari saya segera konfirmasi tiket saya ke Sorong, dan dijawab merpati status OK, ini terjadi hari Senin. Dan jadwal saya ke Sorong hari Jumat. Pada hari Kamis sore, iseng-2 saja saya mampir ke kantor merpati, menanyakan lagi status tiket saya, bagai disambar petir saya terima berita bahwa “besok tidak ada pesawat ke Sorong”, kata petugas, “kenapa?” tanya saya,” memang di jadwalnya tidak ada, uang tiket dapat dikembalikan dan dipersilahkan mencari sendiri penerbangan pengganti”
WOWWWW…. ini dia nih, terjadi juga hal-2 yg saya khawatirkan. Bayangkan saudara-saudara, uang dikembalikan sebesar yang tertera di tiket, dan diminta mencari penerbangan pengganti sendiri. Atau kalau masih beruntung bisa ikut penerbangan merpati berikutnya di hari minggu (artinya dua hari lagi). Saya tidak mau beradu argumen, sudah jelas masalahnya bahwa merpati sudah angkat tangan, maka dengan senyum manis dan ramah saya minta uang saya sebesar 670ribu, dan kemudian mencari tiket lain yaitu “express air”, seharga 1,2jt, beruntung saya dapat ‘katut’ di express air, maklum lewat jalur amat khusus yaitu jalur ‘intel’ (thanks to aparat intel Manokwari, thanks buat Mr. X yang ganteng dan gondrong padahal polisi, yg mengantarkan saya kemana-mana dgn rush or innova hitam). Saya naik express-air hanya berbekal boarding-pass, tanpa tiket, entah apa jadinya jika pesawat itu lenyap, nama saya pasti tak tercantum dalam daftar, hehehhe.

Sampai di Sorong dgn selamat, dan pada hari minggu, keponakan saya yang anggota KPU itu menelpon dari bandara “Edward Osok Sorong”, “Om tolong jemput saya ya, saya dari manokwari mau ke jakarta pakai Merpati, tapi pesawatnya olinya bocor, jadi tidak bisa terbang, tadi landingnya kasar sekali, pesawat ditunda senin katanya”. walah …. itu kan pesawat yang ditawarkan kepada saya tempo hari, ternyata bermasalah juga. Lalu saya tancap gas Kuda Mitsubishi hitam ke bandara, dan kita tertawa ngakak bersama, akhirnya besok senin kita berangkat bareng, saya ke SBY dia ke JKT, tapi saya naik express-air, dan dia naik ‘Merpati”. Sempat bertemu ketika transit di makasar, dua hari berikutnya kita bertemu di jogja, dorong-2 karimun biru yg mogok kerena tali alternator putus.

Ketika di Manokwari, saya diberitahu oleh teman-2 yang sering mondar-mandir naik pesawat, pesannya adalah, “jangan naik merpati, letakkan merpati pada pilihan terakhir, karena merpati seringkali ingkar janji”. dan ternyata memang benar apa kata teman-teman saya tersebut.

Cerita masih berlanjut.

Di Surabaya, setelah membereskan acara ‘bedol-desa’, alias pindah rumah dari Jogja ke Surabaya, adik saya yang sedang bertugas di Malang memberitahu saya, mau mampir ke rumah, dan menginap, karena akan ke Sorong pada hari Senin pakai merpati. NAIK MERPATI? walah …walah timbul kekhawatiran saya. Singkat kata, adik saya itu nyangkut di makasar sehari, pesawat rusak katanya.

Masih ada cerita yang terselip lho.

Waktu di Manokwari, sehari setelah saya tiba, keesokan harinya teman saya (Rektor Unipa) juga nyangkut di Makasar, naik merpati juga, hal itu membuat acara teman saya juga berantakan.

–ooOoo–

Itu secuil kisah saya bersama Merpati. Mungkin ada baiknya jika pihak Merpati mulai mengevaluasi diri, dan menetapkan langkah-langkah kongkrit untuk meningkatkan performancenya. Bagaimanapun transportasi di papua banyak mengandalkan penerbangan.

Selain itu utk pemerintah (daerah?), kiranya baik kalau ijin penerbangan juga diberikan dengan mudah ke berbagai maskapai penerbangan lain, sehingga akan banyak alternatif, dan dapat menurunkan harga, serta pada gilirannya kelak dapat memajukan tanah Papua (ini tanah tempat saya dibesarkan lho). Juga, saya kira baik sekali kalau mulai dipikirkan pembuatan infrastruktur (misalnya jaringan jalan raya) antar kabupaten di Papua.

Dan akhirnya buat saudara-saudara saya di Papua, baik di pemda atau non-pemda, tetaplah semangat dan selalu meningkatkan kinerja anda dengan meletakkan kepentingan umum (masyarakat luas) di atas kepentingan pribadi atau golongan demi memajukan tanah Papua.

Bravo Papua.

Amoke.


Jalan-jalan ke Melaka

19/11/2008

Melawat ke Melaka bererti melawat Malaysia. Maksudnya, belum disebut ke Malaysia kalau belum lihat Melaka, gitu kali. Di Melaka ini, ibaratnya, ada batu tiga biji, ditumpuk, dicat, diberi tulisan misalnya “dingklik mas Iwan”, dah jadi obyek wisata deh. He he he. Artinya, Melaka ini ‘all out’ untuk menjadi tempat tujuan wisata. Semua daya upaya dilakukan untuk memajukan dunia pariwisata. Bahkan “Malaysia on eye” itu lho dermolen yang guede banget yg biasanya di Titiwangsa Kuala Lumpur, ehhh dipindahkan juga ke Melaka, lokasinya tepi pantai, dekat muara sungai Melaka. Hebat euy!

Ke Melaka, baiknya naik bus (dari KL atau Johor), dan pasti turun di Terminal Melaka Sentral. Kemudian naiklah bus pariwisata “Panorama” warna merah, ada yg double deker, yg atas tak beratap, khusus turis (spt di S’pore itu lho). Tiket RM2 dan bisa dipakai sehari. Dah, terus ngatut saja dengan bus itu sambil bawa map yg bisa didapat di terminal tadi. Beres deh.

Biasanya, tempat berkunjung utama adalah ‘gereja merah’, ini gereja jadul jaman baheula, mbuh tahun pira kayaknya abad 15. Di kompleks itu ada tiga museum yang bisa dikunjungi, museum kapal Fransiskus Asisi (ada kapalnya dari kayu, guede banget), musium AL Malaysia, dan musium sejarah Malaysia kalau nggak salah. Lalu bisa diteruskan naik ke bukit, ada bekas benteng portugis, lengkap dengan meriamnya, menghadap ke laut. Dari sekitar tempat ini juga ada ‘Melaka cruise’, numpak prahu sepanjang sungai Melaka.

Tak jauh dari komplek Gereja Merah, ada ‘Taming Sari’, itu lho yang naik tinggi dan berputar, bisa muat 100 orang, dan bisa memandang Melaka bahkan Sumatera. Butuh RM 20 utk naik ini. Dari sini bisa berjalan kaki ke Dataran Pahlawan. Di MY ini lapangan disebut dataran, uniknya di bagian atas lapangan rumput, di bawahnya Mall, ahaaa, tak ada seperti ini di Indonesia. Masuk Mall Dataran Pahlawan ini, persis seperti masuk Plaza Surabaya, nggak terasa kalau di Malaysia. Di sebrangnya ada food court namanya ‘Newton’, di bagian depan makanan tidak halal sedang yang belakang halal. Silahkan memilih sesuai selera masing-masing.

Di Melaka ini, memang seperti Malaysia mini, ada tiga ras utama disini, Melayu, Cina dan India, dan uniknya semua budaya mereka tumbuh subur. Tetapi yang dominan adalah ras Cina, terutama di pusat kota, tata kotanya ya persis pecinan Kembang Jepun Surabaya sana. Persis plek deh.

Selain itu, di Melaka ada Zoo, Museum Lebah International, Taman Bunga, Taman Buaya, circuit balap, taman buah dll. Satu lagi, yaitu adanya Rumah Sakit Mahkota (Mahkota Hospital), rumah sakit bertaraf international ini khusus utk pengobatan cancer. Tepat di depannya ada Mahkota Hotel, yang sama besarnya dengan rumah sakitnya. Banyak pasien yang berasal dari Indonesia. Di samping Mahkota Hotel ada Holiday Inn Hotel, tepat di belakangnya ada ‘Jetty’, dan pulau Melaka yang kecil itu.

Perlu dicatat juga, Melaka dinobatkan menjadi salah satu Warisan Dunia versi Unesco.

Nah, selamat datang ke Melaka.


Sepur Singapur (Singapore MRT)

19/11/2008
MRT Singapore

MRT Singapore

Kalau jalan-jalan di Singapore, paling enak naik MRT, simple, murah-meriah, sehat, bisa sampai mana-mana, dan ehm ehm pemandangan di dalam MRT juga memikat (kalau beruntung lho). Jangan lupa menggunakan kartu EZ-LINK, pakai kartu ini saya jamin lebih murah! Sungguh nggak bohong. Sudah saya baca di papan pengumuman di stasiun. Dan kartu ini juga bisa utk naik bus!

routemap MRT Singapore
Jadwal sepur MRT liwat setiap setasiun

contoh kartu EZ-LINK

contoh kartu EZ-LINK


Jalan jalan ke Singapore

08/10/2008

Lama nggak ke S’pore minggu lalu jalan-jalan lagi ke sana, sudah banyak berubah. Saya piknik ke s’pore terakhir 11 tahun lalu, waktu itu sempat naik s’pore cruise yang baru dibuat, tanggul sungai dekat esplanade juga masih dalam pembangunan. Selain itu saya tak ke spore lagi, paling-2 cuma transit saja, tidak jalan-2 di spore.

Dulu masuk s’pore lewat udara, maksud saya naik pesawat turun changi, lalu lanjut naik MRT dan bus. Nah minggu lalu, saya masuk s’pore lewat darat, dari Malaysia. Selepas piknik di Melaka (kota bersejarah warisan dunia versi Unesco), lanjut ke Spore, naik bus dari terminal Melaka Sentral. Bus di MY selalu ber AC dan tidak overload, alias jumlah penumpang sama dgn jumlah kursi. Sopir sendirian tanpa kondektur. Masuk imigrasi MY dan imigrasi Spore no problem. Lancar saja, maklum tampang turis. Kalau bertampang teroris harap hati-hati bisa lama dan bisa ditinggal busnya. Kalau toh ditinggal jangan khawatir naik saja bus ke Spore (bus causway atau SBS) bayar $ 2.5, karcis disimpan baik-2, siapa tahu ketinggalan bus lagi di sisi imigrasi satunya, karcis bisa dipakai lagi. Turun bus, barang harus dibawa terutama di imigrasi s’pore. Sampai di S’pore, bus masuk terminal Bugis. Maka mulailah jalan-jalan dilakukan.

Singapore ternyata sudah berubah banyak di banding 11 tahun lalu, tentu saja…., lha wong Bantul saja sudah berubah juga je, he he he.

Langkah pertama ke stasiun MRT beli kartu transportasi (EZ-link), dan di isi sampai $20. Pakai kartu ini akan lebih mudah, cepat dan murah dalam mengarungi singapore, percayalah. Saya anjurkan untuk naik MRT untuk kesana-kemari, nyaman, aman dan sehat. Dan banyak pemandangan menarik di dalam MRT, ehm ehm. Spore punya tiga rangkaian jalur MRT (ungu, merah dan hijau), hafalkan baik-2, lebih baik lagi kalau sudah punya map-nya terlebih dahulu. Bagi yang pertama kali ke Spore sebaiknya pergi ke stasiun Orchad, jalanlah sepanjang Orchard road, dan masuklah ke Spore Visitor Center, di sana informasi lengkap, semua map ada, internet gratis, bahkan pijat kaki juga gratis. Mintalah informasi yang diperlukan di sana, petugasnya menarik, cantik dan ramah.

Nah, dari Spore Visitor center, terserah anda mau jalan-jalan kemana di Spore. Biasanya para turis selalu ke Sentosa Island, nonton Song of the Sea. Pelajarilah brosurnya baik-2, terutama tarip dan waktu-2 pertunjukkan, supaya hemat waktu dan efisien. Minggu lalu saya juga ke sana. Dan memang Pulau Sentosa sudah berubah, bahkan sedang dibangun juga pusat casino, tahun depan beroperasi.

D Spore banyak mall, di mana-2 mall, bagi yang doyan belanja, hmmm bisa lemes jalan kaki dari mall ke mall, harga pasti mahal, anggap saja satu dollar sama dengan seribu rupiah, kalau tidak ya tidak jadi belanja. Kalau mau yang harga murah, pergi saja ke pasar senggol Bugis. Boleh tawar menawar harga.

Spore cukup kecil, tapi banyak tempat yg bisa dikunjungi, kalau punya waktu 4 hari tiga malam, saya kira cukuplah mengeksplore spore.

Wis ah, ngantuk, nggak konsen nih nulisnya.


berwisata ke Genting Highland

07/10/2008

Ini soal berwisata lagi. Untuk ke sekian kalinya saya ke Genting Highland. Saya pernah ke sana, bawa mobil sendiri dan sempat nyasar-nyasar di dalam kota KL, maklum sok tahu sih. Tapi akhirnya sampai juga.

Minggu lalu, saya ke sana lagi. Kali ini naik bus, dari terminal Puduraya. Puduraya ini salah satu terminal besar di KL. Satunya lagi di KL Sentral. Kalau dari bandara LCCT, ada shutle-bus ke Puduraya ini, RM9. Demikian juga ke KL Sentral. Dari Puduraya ke Genting, naik bus warna merah yang berjudul ‘Genting’, tiketnya RM8.5 termasuk naik sky-way, itu lho kereta gantung. Perjalanan dari Puduraya ke Genting, sekitar 1 jam saja. Sampai di sana, sambung naik sky-way, satu gondola muat delapan orang. Gondola atau kereta gantung ini salah satu yang terpanjang, makan waktu 20-an menit sampa di atas (Genting Highland). Sampai di sana, ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi, biasanya orang-orang yang berpiknik (anak-anak or remaja), ke bagian outdoor dan indoor. Di sana banyak permainan seperti di DUFAN Jakarta. Menurut saya, Dufan lebih besar dan lebih variatif. Untuk outdoor, sebaiknya sepagi mungkin karena biasanya siang hari, kabut turun, dan permainan dihentikan, tarip sekitar RM38. Bagian indoor, biasa wae, tidak ada yg istimewa, bisa dijumpai di tempat-2 serupa. Menurut saya, istimewanya adalah tempatnya (lokasinya). Untuk orang dewasa, bisa juga berbelanja di mall di dekat hotel, masih satu area. Kalau mau berjudi, masuk saja ke kasino, ingat ini bukan untuk muslim, tak boleh! Saya pernah masuk ke sana, dan tidak mengerti semua permainannya. Dan, para pengunjungnya mayoritas beretnis cina, dan tua-tua sudah engkong-2 dan emak-2 semua, jarang ada yang muda! Jangan dibayangkan seperti Casino-nya James Bond!

Mengeksplorasi Genting Highland, biasanya tak cukup sehari, kita bisa menginap di hotel di sana, tapi sebaiknya harus dibooking terlebih dahulu, karena ‘fully-booked’ always. Pulangnya bisa naik bus lagi ke Puduraya, paling malam jam 12, paling pagi jam 7.

Sekali lagi, yang istimewa adalah lokasinya dan kereta gantungnya itu.

Indonesia mestinya bisa buat juga, di Gunung Kidul sana misalnya.
Atau di Puncak Arfak !

Banyak deh tempat di Indo yang layak utk dibangun seperti itu.


berwisata ke menara kembar petronas (twin tower)

07/10/2008

Ketika tinggal di Jogja, saya tak pernah berwisata ke Borobudur, maksud saya, dengan sengaja berwisata atas kemauan sendiri. Mungkin ini sudah hukum alam, justru yang bertempattinggal di dekat lokasi wisata malah kurang berminat ke tempat wisata tersebut. Pergi ke borobudur, biasanya mengantar teman-2 atau saudara-2, maka jadilah saya ikut berwisata juga sambil jadi guide. Seingat saya, hampir setiap tahun saya ke Borobudur.

Demikian juga ketika sekarang tinggal di Malaysia, dekat KL, sayapun tak pernah dengan sengaja berwisata di sekitar KL. Minggu lalu untuk ketiga kalinya saya ke twin tower petronas. Dari setasiun Pasar Seni, (karena nginap di Petaling, hotel murah ‘Stay Orange’), kami ke KLCC numpak sepur listrik. Dari stasiun KLCC mlaku sikil, njedul di bawah twin tower. Lalu seperti biasa ngantri ambil tiket utk naik sky-bridge, itu lho jembatan yang menggantung di antara dua towernya, tempat lokasi shooting salah satu film Jacky Chan. Kalau mau naik ke jembatan tersebut, jangan hari Senin, karena tutup untuk maintenance. Kalau antri tiketpun sebaiknya sepagi mungkin, kami antri jam 10.00, dapat jadwal naik jam 14.30. Tiket ini gratis tis. Di atas, kita hanya dapat kesempatan 10 menit, utk foto-foto saja.

Sambil menunggu waktu, kita berjalan-jalan di dalam dan di sekitar gedung ini. Rasanya bagai berjalan-2 di mall saja, sebagaimana mall lainnya di mana-mana. Lebih mirip di Surabaya, karena pengunjungnya mayoritas beretnis cina. Bedanya, di sini bule juga banyak terlihat.

Di dalam gedung ini, selain mall, ada toko buku terkenal ‘Kinokuniya’, bagi pecinta buku, di sinilah tempat yang tepat, toko ini bagai perpustakaan. Satu tempat lagi yang menarik untuk dikunjungi adalah ‘PetroSains’, harga tiket tak sampai Rm 10. Isinya mirip taman pintar di Jogja, atau Jatim Sains Park atau apa tuh yg di dekat TIM Jakarta tuh. Bedanya, mengutamakan dasar-dasar sains dari ilmu perminyakan. Pendek kata, ini tempat unjuk gigi bagi ‘Petronas’. Tempat ini cocok untuk anak-2 sekolah (SD to SMA). Jangan melewatkan tempat ini kalau membawa anak-2 usia sekolah. Untuk mengunjungi tempat ini kita harus menyediakan waktu minimal 2 jam.

Untuk cewek-cewek, biasanya mampir di toko ‘Vincci’ di lantai 1, banyak barang ber-merk dan ‘murah’ katanya. Saya sih lebih senang ‘makan-makan’ di food-court di lantai 4.

Di luar gedung, ada taman yang asri dan luas, di sinilah para turis berfoto dengan latar belakang menara kembar petronas. Kalau malam, air mancur di depan menari-nari dengan lampu yang warna-warni. Di sebelah kanan gedung kembar ini ada gedung ‘Aquaria’, aquarium gede lah, seperti ’sea world’ di Jakarta. Tarip tiket cukup mahal, kalau tak salah sekitar RM40. Biasanya untuk student separuhnya.

Sekian dulu, nanti disambung lagi.