Beasiswa SMA Singapore utk lulusan SMP (Segeraaaaa)

06/06/2009

ASEAN Scholarships for Indonesia

Application period for the 2010 ASEAN Scholarships for Indonesia will be open from 6 June 2009 (9am Indonesia Time) to 15 July 2009 (10pm Indonesia Time).

The ASEAN Scholarships for Indonesia is tenable for 4 years leading to the award of the Singapore-Cambridge General Certificate of Education ‘Advanced’ (GCE ‘A’) Level (or equivalent) certificate.

The Scholarship is for studies in selected Singapore schools from Secondary Three to Pre-University Two and is renewed annually, subject to the satisfactory performance of the scholar.

Students from Indonesia are welcome to apply for the ASEAN Scholarships for Indonesia to enter Singapore schools at the Secondary Three level. Candidates who are not short-listed for the scholarships will be considered for the Merit Awards.

Eligibility

Students who meet the following criteria are invited to apply for the scholarship:

Nationals of Indonesia
Born between 1993 to 1995
Sat for 2009 SMP 3 National Final Evaluation Examination (UAN) and have done consistently well in school
Important Dates

Any dates given below are tentative and are subject to changes.

Activity Date
Application Period 6 June to 15 July 2009
Selection Test Mid August 2009
Selection Interview Late September 2009
Award of Scholarship October 2009
Arrival of Scholar in Singapore 4 November 2009
Candidates short-listed for the selection test/interview will be notified a week before the selection test/interview dates. We regret that only short-listed candidates will be notified.

Where to obtain application forms during the application period

For scholarship applications, please use the online application system.

Applicants are strongly encouraged to apply online.

Applicants who do not have internet access may obtain the hardcopy forms at the following addresses:

Embassy of the Republic of Singapore
Block X/4, KAV No 2
Jln H R Rasuna Said, Kuningan
Jakarta Selatan 12950
Indonesia

Consulate of the Republic of Singapore
4th Floor, Surya Dumai Group Building
Jalan Sudirman No. 395
Pekanbaru 28116
Riau
Indonesia

Test and Interview City

Jakarta
Medan
Surabaya
Pontianak
Note: Surabaya and Pontianak may be used as Test Centres if there are sufficient candidates. Medan, Surabaya and Pontianak may be used as Interview Centres if there are sufficient candidates.

Terms and Conditions

Allowance of S$2,200 (Secondary) / S$2,400 (Pre-University) per annum with hostel accommodation
Settling-in allowance of S$400 (once only)
Economy class air passage to Singapore and back to home country upon completion of course
Waiver of school fees (excluding miscellaneous fees)
Waiver of GCE ‘O’ and ‘A’ Level examination fees (once only, if applicable)
Subsidised medical benefits and accident insurance cover
Bridging courses (if applicable, in Singapore before start of course)
There is no bond attached to the scholarship


Singkatan

02/06/2009

Saya bukannya mau membahas bahasa Indonesia. Melainkan cuma mau ‘nggumun’ saja soal singkatan, khususnya tentang penerimaan siswa baru, yang sekarang lagi musim.

Baru saja saya tengok di situs kompas, eh ada singkatan PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru). Ndak tahu itu singkatan siapa yang buat. Kok nggak pakai saja yang sebelumhya yaitu Penerimaan Siswa Baru atau disingkat PSB, ini kan lebih mudah lebih singkat dan sudah diketahui orang banyak. Bedanya kan cuma ’siswa’ dan ‘peserta didik’. Saya tidak mau berdebat soal arti kata dalam kamus, tetapi kita coba yang gampang dan benar sajalah. Menurut saya kata ’siswa’ sudah betul, atau pakai kata ‘murid’ juga betul, dan artinya sudah jelas. Jadi pakai saja PSB atau PMB. Begitu. Atau takut kacau M=Mahasiswa, ya sudah pakai PSB, gitu aja kok repot. Oppsss. Bukannya repot, tapi menjadi beban kalau melihat singkatan baru PPDB. kasihan kan memori kita dibebani dengan hal-hal yang seharusnya tidak membebani, pemborosan, dan pemborosan itu dosa!

Masih ada lagi, coba lihat SNMPTN, dulu namanya SPMB, dulu lagi UMPTN, dulu lagi mbuh apa, jaman saya dulu malah aneh lagi disebut PP-1, sebelumnya lagi SKALU. Padahal untuk menyatakan hal yang sama. Jadi coba saja pakai UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negri), gitu kan enak. Masak singkatan kok berubah-ubah terus, padahal maksudnya sama.

Kalau masing-2 PT bikin ujian masuk sendiri-2, dan istilahnya buatan sendiri ya tak apalah, misalnya UM-UGM, nah itu khusus Ujian Masuk UGM. Tapi untuk ujian masuk utk PTN yang secara bersama-sama, mbok ya pakai istilah/singkatan yang sudah terkenal dan betul. Makan ongkos mengubah-2 singkatan, paling tidak utk bikin kop surat, bikin cap, papan nama dlsb.

Atau memang sengaja utk membuka peluang korupsi baru?

(* hmmm memang aneh-2 saja, yang harusnya dikerjakan malah tidak dikerjakan, singkatan yang sudah jamak malah diubah, dasar edan tenan *)


Info kuota PSB Yogyakarta

31/05/2009

Informasi Penerimaan Siswa Baru tahun pelajaran 2009/2010 dapart diakses melalui website: www.psbyogya.online.or.id (kalau hidup lho ya, saya cek tadi masih mati).

Kuota untuk Calon Siswa SMP Negeri di Kota Yogyakarta adalah :
Penduduk Kota 55%
Penduduk Luar Kota 20%
Pemegang KMS 25%

Kuota untuk Calon Siswa SMA Negeri di Kota Yogyakarta adalah :
Penduduk Kota 60%
Penduduk Luar Kota 30%
Pemegang KMS 10%

Kuota untuk Calon Siswa SMK Negeri di Kota Yogyakarta adalah :
Penduduk Kota 60%
Penduduk Luar Kota 30%
Pemegang KMS 10%

Bagi Calon Siswa SMP/MTs, SMA/MA, SMK yang berasal dari Luar Provinsi DIY, diwajibkan untuk melakukan pendataan di Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta dengan membawa persyaratan sebagai berikut:

1. SKHUN (Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional) Asli + 2 lbr fotokopi yang telah dilegalisir sekolah.

2. Fotokopi ijazah sebanyak 2 lembar yang telah dilegalisir sekolah.

3. Surat Rekomendasi dari sekolah asal yang diketahui oleh Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota asal sekolah.

4. Surat Keterangan Berkelakuan baik dari Sekolah asal.

5. Surat Keterangan Bebas Narkoba (dari laboratorium).


Beasiswa Perancis utk S2 & S3

31/05/2009

JAKARTA, KOMPAS.com — Pendaftaran Bourses du Gouvernement Francais (BGF) atau Beasiswa dari Pemerintahan Perancis tahun 2010 untuk jenjang S-2 dan S-3 siap dibuka kembali pada November 2009 mendatang.

Hal itu diungkapkan oleh Asisten Campus France Indonesia, Anton Hilman, di Jakarta, Kamis (28/5). Anton mengatakan, beasiswa BGF diberikan kepada pejabat pemerintah, dosen, serta mahasiswa, khususnya kepada mereka yang terlibat dalam program kerja sama antara negara Perancis dan Indonesia.

“Sebelum diberangkatkan ke Perancis mereka akan mendapat pelatihan Bahasa Perancis di Jakarta selama setahun,” kata Anton. Anton menambahkan, Pemerintah Perancis, melalui kedutaan besarnya di Jakarta, telah memberikan beasiswa untuk warga negara Indonesia selama lebih dari 28 tahun.

Hilman menuturkan, persyaratan utama memperoleh beasiswa itu di antaranya adalah keterampilan komunikasi yang baik dalam bahasa Inggris, baik itu lisan maupun tulisan (IELTS 6.5), Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) minimum 3,0 untuk jurusan eksakta, serta 3,5 untuk non-eksakta.

Selain itu, tambah Anton, hal lain yang tidak kalah penting dari semua persyaratan adalah orientasi studi saat berada di Perancis. Dia mengatakan, prioritas beasiswa akan diberikan kepada mereka yang menekuni bidang studi seperti rekayasa (manajemen air, agronomi, teknik sipil, teknologi informasi), ilmu pengetahuan (bioteknologi, komunikasi, lingkungan hidup, risiko bencana dan manajemen, energi), administrasi, ekonomi, hukum, dan ilmu politik.

Informasi lainnya, kata dia, cakupan beasiswa tersebut meliputi biaya pendidikan dan ongkos hidup selama setahun mengikuti kursus intensif bahasa Perancis, tunjangan hidup bulanan, satu tiket pulang ke Tanah Air, dan asuransi.

Anda yang tertarik, informasi selanjutnya bisa dilihat di situs mereka, http://www.indonesia.campusfrance.org/.


Pengumuman beasiswa Dikti Tahap III, th 2009, gel 1 & 2

23/05/2009

Pengumuman ini dipasang di www.ditnaga-dikti.org pada tgl 22 Mei 2009.

Selamat bagi yang lolos, dan jangan putus asa bagi yang belum lolos, silahkan coba dan coba dan coba lagi.
pengumuman beasiswa 2009 gel 1 dan 2
hasil wawancara 2009, gel 1 dan 2
hasil wawancara 2009, gel 1 dan 2, cadangan


Kartini

21/04/2009

Hari Kartini, simbol emansipasi perempuan Jawa eh Indonesia. Tapi, coba perhatikan, bagaimana kebanyakan orang atau instansi memperingatinya. Taruhan deh, pasti paling banyak adalah acara berpakaian ‘kebaya nasional’ yang tidak begitu jelas apa arti kata nasional tersebut. Mungkin ada banyak jenis kebaya, setahu saya sih cuman ada dua besar yaitu yang ber ‘kuthubaru’ dan yang tidak. Nah loooo, nggak ngerti kan?

Biasanya bukan hanya para perempuan yang pada hari Kartini ini berkebaya, para laki-lakipun ikut-ikutan berpakaian tradisional, soalnya kapan lagi, nggak ada hari Kartono sih. Kalo ulang tahun Pak St. Kartono guru beken dari JB sih ada. (halo Pak, masih jaga UNAS yg pesertanya cuman 4 orang yach?). Para laki-laki cuman nebeng doang di hari Kartini.

Yang saya herankan, mengapa harus pakai kebaya yach? bukankah hari Kartini mencerminkan emansipasi wanita? persamaan derajat dengan para laki-laki? Kalau saya artikan sendiri sih, emansipasi perempuan adalah meluasnya lingkup arena kiprah perempuan sehingga tidak lagi terbatas pada dinding kerja domestik. Wuihhh, cek angel-e, istilah opo kuwi. Wis, pokoknya, menurut saya emansipasi perempuan membuat perempuan bisa bekerja dan dapat duit, gitu aja. Kembali ke kebaya tadi, saya kira kok kurang pas memperingati hari Kartini dengan berpakaian kebaya. Ini bukannya saya tidak suka lho, saya justru sangat suka lihat istri saya tampil pakai kebaya, tambah cantik, he he he he, habis tiap hari pakai celana panjang mlulu, mboseni.

Kenapa memperingati hari Kartini harus pakai kebaya? kok nggak pakai celana jean plus T-shirt polo, sepatu kets aja? Bukankah pakai kebaya itu ribet? dan lagi bisa kesrimpet-srimpet (hmmm bhs jawa lagi nih sorry). Kesrimpet itu artinya jalan terhambat karena memakai kain panjang (jarit? jarik? or what?). Berjalan menjadi tidak leluasa, langkah menjadi terbatas, apalagi wiron-nya harus dijaga agar tidak buyar.

Jadi?

Menurut saya tidak cocok, kalau memperingati hari kartini dengan memakai kebaya, itu justru simbol ‘kesrimpet’, bukan simbol emansipasi. nah, kalo gitu apa ya simbol emansipasi? lha ini pertanyaan sulit, sesulit yang dihadapi golkar he he he. Bingung juga saya, sampai sekarang tidak punya usulan. Lha masak pada hari Kartini semua wanita diminta memakai jean dan kaos tadi?
kan nggak lucu.

Kegiatan yg positif yg bisa dilaksanakan mungkin ya seminar hasil penelitian, misalnya apa betul Kartini itu pahlawan emansipasi?
Kenapa Kartini dimadu kok mau saja, kok tidak menolak. Bu Tien malah menghasilkan PP.10. Atau dengan mencari Kartini-Kartini lain di Indonesia, kita ungkap kelebihannya, kita tulis sejarahnya. Saya yakin tidak hanya Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien, tentu masih ada wanita lain yang hebat.

Atau kegiatan lain berupa pemberdayaan wanita. Menurut saya banyak sekali wanita hebat di Indonesia ini, tapi karena satu dan dua puluh tujuh hal mereka hanya jadi house-wife saja. Padahal kemampuan mereka (baik akademik maupun non akademik) hebat. Coba, saudara-saudara sekalian melihat di lingkup keluarga atau tetangga atau kenalan, banyak bukan wanita seperti itu? Menurut saya, itu kerugian nasional. Banyak wanita yang bisa diBerdayakan, tapi tidak termanfaatkan, atau manfatnya hanya minimal, hanya dikeluarganya, padahal mestinya bisa meluas. Bgmana caranya? wah saya tidak mau usul, nanti malah saya jadi mentri urusan peranan perempuan.

—ooo—

Beberapa hari di rumah, tanpa istri, saya melakukan pekerjaan domestik. Bangun pagi, masak air, bikin minum dan sarapan untuk anak. Lalu ngantar sekolah. Pulangnya mampir pasar Setan (padahal saya belum pernah bertemu setan di sana, nggak tahu kenapa namanya setan). Belanja di pasar, tampaknya suatu yang sepele, tapi ternyata berat buat saya. Saya harus bisa memutuskan mau masak apa, harus belanja apa, dengan berbagai batasan yang ada, harus bisa dioptimasi. Jadi ada Objective functionnya, ada constraintnya maka decision harus dibuat yang optimal, gitu kalau di genetic algorithm. Nah semua itu harus saya lakukan dengan waktu yg terbatas. Hmmm baru terasa sulitnya belanja di pasar. Beberapa hari saya lakukan, ternyata saya hanya menguasai 4 jenis masakan saja, dari belanja sampai memasak. Hari kelima sudah berputar menunya. Dan anak-anak sudah komplen, ayam lagi ayam lagi …. padahal ayam juga mahal 22 rebu per kilo.

Itu soal belanja, soal memasak. Wah … ini dia, kalau salah prosedur bisa gaswat. Ada proses-2 yang sekuensial, ada yg bisa paralel, ada pula yang irreversibel (jemur dulu baru goreng, jangan dibalik), kalau tidak menguasai itu semua, bisa kacau, lama dan rasanya ‘aneh’. Belum lagi, kadang ada interrupt, maka address pointer harus dicatat supaya tidak lupa kalau interrupt sudah selesai, kadang ada pula nested interrupt, tengah-tengah masak bel pintu berbunyi, keluar ehhh ada sales nawarin macam-macam, lha waktu sibuk menolak sales, Bu Ijal tetangga sebelah muncul, ngobrol soal macam-macam. Weleh-weleh, soft skill bener-2 harus dipakai.

Soal membersihkan rumah, mencuci setrika huhhhh, bener-bener menyita waktu dan tenaga, pantesan banyak bisnis laundry menjamur, 3 rb per kilo 3 jam jadi.

So what?

Jangan sepelekan peran ibu rumah tangga.

Kalau Ibu keluar rumah, bekerja, jadi Doktor Fisika, mengajar di PT ternama, punya penelitian tingkat internasional, jadi pejabat PT, …. weleh weleh ….. terus siapa ya yang mengerjakan pekerjaan domestik?

yup betul … pembantu rumah tangga …atau suami?

jadi jangan sepelekan pembatu rumah tangga or suami.

jadi?

suami = pembantu rumah tangga.

wis wis wis .. ngelantur kemana-mana. …

—000—

saya cuma mau bilang, emansipasi itu kadang juga harus dibayar mahal,
maka harus itung-2 an, dan jangan lupa bagian yg intangible !!!

Selamat hari Kartini !!

NB.
heran eh, hari ini kok nggak ada berita ttg hari Kartini yach?
apa kalah sama caleg gendheng?


Awasi Pelaksanaan Ujian Nasional (UNAS)

17/04/2009

prakata:
biasanya saya nulis dulu, lalu diikuti oleh Metro-TV, he he he, one step a head than Metro-TV

—————-

Ada hajat besar lain lagi di negri Indonesia ini, yaitu Ujian Nasional atau UNAS. Hajat besar satu ini nyaris luput dari perhatian masyarakat karena tertelan oleh berita hiruk-pikuk dan carut-marut Pemilu. Padahal UNAS ini juga melibatkan masa yang demikian besar, seluruh siswa dari SD sampai SMA di seluruh Indonesia. Nyaris tak terdengar bagaimana distribusi logistiknya sampai ke daerah-daerah terpencil, misalnya ke kabupaten Tambrauw (dimana tuh ayo tebak). Sampai hari ini (H-3) masih belum ada kabar berita tentang distribusi logistik ini, semoga saja tidak ada masalah.

Belum lagi content-nya, yang lebih rumit daripada Pemilu. Dan yang lebih penting lagi ‘kerahasiaannya’. Kalau lembar suara boleh dibuka-buka sebelum hari-H berlangsung, sedangkan lembar soal UNAS ini, harus terkunci sampai pada hari-H, jam-J, detik-D baru boleh dibuka untuk dikerjakan. Demikian pula bila sudah dilaksanakan, maka lembar jawab harus terjamin tidak akan berubah, sesuai dengan apa yang dikerjakan siswa.

Wow, kelihatan lebih rumit dari Pemilu ya? tapi kok tenang-tenang saja ya?…

UNAS ini menyangkut standard performance indicator dari siswa lho, mestinya juga mendapat perhatian yang tinggi dari berbagai pihak. Semoga saja berjalan lancar, mengingat yang terlibat adalah orang-2 berpendidikan atau yang berkecimpung di bidang pendidikan. Bahkan saya dengar sekarang ini Perguruan Tinggi juga dilibatkan utk menjaga ujian dan evaluasi. Bisa jadi ini indikasi kemerosotan moral di tingkat SMA, dimana guru sudah tidak bisa dipercaya untuk menjaga ujian. (mungkin kasus membantu siswa mengerjakan ujian dan yg serupa itu).

halo para teman-2 guru, bagaimana nih?

— ooo —

Boleh dipercaya boleh tidak, diberbagai tingkatan penddikan, kalau ada even ujian seperti ini, maka ada sebagian pihak yang melihat peluang dengan jeli. Misalnya jadi joki. Ada juga yang menawarkan kunci jawaban kepada para siswa dengan harga yang setinggi langit-langit eh langit ding. Bahkan ada juga yang menawarkan ‘bocoran soal’. Hmmm luar biasa. Dan ternyata ada juga (banyak) konsumennya. Boleh diteliti lebih lanjut mengapa konsumennya banyak. Hipotesa saya sih, terutama karena nilai standard kelulusan yang semakin tinggi, membuat para siswa (dan ortu) keder juga menghadapinya. Apalagi banyak siswa berkemampuan rata-rata saja atau bahkan di bawah rata-rata. Lebih-lebih lagi kalau punya satu nilai 3, wow nggak bakalan lulus. Mbuh wis, sudah banyak pro-kontra ttg adanya UNAS ini.

–000—

Saya cuma mau berpesan kepada para siswa, belajarlah baik-baik, percayalah anda semua bisa mengerjakan kalau selama ini rajin belajar dan sekolah, karena materi UNAS tidak akan meleset dari kurikulum. Soal-soal UNAS ini jauh lebih mudah dari pada soal UM UGM misalnya. Jadi percaya diri lah. Tidak usah ribut-2 mencari bocoran soal, mencari kunci dlsb. Apalagi kebenarannya tidak dapat dijamin. Itu buang-buang waktu saja, mending belajar giat.

Kepada para pelaksana UNAS, saya harap melaksanakan tugas sesuai dengan SOP yang ada, dan harus cermat benar dalam melaksanakan tugas. Jangan seperti KPU (KPUD) yang membaca aturan dengan multi-tafsir, tidak mengerti SOP, dan berkreasi sendiri-sendiri. Jangan sampai anda melakukan kecurangan, jangan sekali-2 berpikir ke arah sana, percayalah, anda akan susah seumur hidup bila anda melakukannya. Akan saya pajang foto anda di berbagai situs di internet, he he he he.

–000–

OK selamat belajar buat adik-2, dan jangan lupa berdoa.


Rp. 1 Milyar utk rekan-rekan dosen

06/03/2009

PHK Penelitian unggulan strategis nasional, silahkan disimak baik-baik.
PANDUAN


BEASISWA S1, S2, S3 Bagi Mahasiswa Indonesia dari Rusia

06/03/2009

Sesuai dengan Keputusan Pemerintah Federasi Rusia tentang penerimaan mahasiswa asing di perguruan tinggi Rusia, maka pada tahun ajaran 2009/2010 Pemerintah Federasi Rusia memberikan 30 beasiswa bagi warga negara Republik Indonesia. Dengan jenjang, persyaratan dan bidang studi sebagai berikut.

1. Jenjang
Beasiswa diberikan untuk Jenjang S-1 (Bachelor) dan S-2 (Magister) sebanyak 25 beasiswa. Sedangkan untuk Jenjang S-3 (Kandidatura), Post-Doktoral (Doktorantura) dan Penelitian/Pelatihan (Stazhirovka) sebanyak 5 beasiswa.

2. Program Studi (Spesialisasi)
Program studi (spesialisasi) yang ditawarkan,meliputi:
Ilmu Hukum, Ilmu Politik, Ilmu Kedokteran, Ilmu Alam (Natural Science), Ilmu Sosial/Humaniora, Ilmu Pendidikan, Ilmu Kesehatan (Public Health); Ekonomi dan Manajemen (Economic and Management); Spesialisasi Interdisipliner Teknik-Ilmu Alam; Geologi dan Sumber Daya Mineral; Eksplorasi Mineral; Ilmu Energi dan Teknik Mesin Pembangkit (Power Machinery Engineering) ; Metalurgi; Konstruksi Mesin dan Material Processing; Penerbangan, Roket dan Teknologi Angkasa (Space Machinery); Teknologi Maritim (Maritime Machinery); Peralatan Transportasi Darat; Teknologi Pertambangan dan Perlengkapan; Teknik Elektro, Control Device Building; Radioteknik dan Komunikasi; Automasi dan Kontrol; Komputer dan Informatika; Service; Eksploitasi Transportasi; Teknologi Kimia; Reproduksi dan Proses Sumber Daya Kehutanan; Teknologi Makanan; Teknologi Komoditi Konsumen; Arsitektur dan Ilmu Konstruksi; Geodesi dan Kartografi; Agrikultur dan Perikanan; Ekologi dan Pemanfaatan Alam; Kesehatan dan Keselamatan.

3. Perguruan Tinggi dan Proses Belajar
Perguruan Tinggi/Universitas tujuan belajar terdapat di kota-kota di seluruh Federasi Rusia. Penempatan penerima beasiswa ditentukan oleh Pemerintah Federasi Rusia.

Proses belajar-mengajar diselenggarakan dalam bahasa Rusia. Untuk itu selama 1 (satu) tahun semua penerima beasiswa program studi S-1 dan S-2 akan belajar di Fakultas Persiapan (Preparatory Faculty) untuk mempelajari bahasa Rusia dan mata pelajaran yang sesuai dengan jurusan/program studi yang telah dipilih.

Bagi Penerima beasiswa Jenjang S-3, Doktorantura dan penelitian/pelatihan akan mempelajari bahasa Rusia selama proses belajar (tidak melalui Fakultas Persiapan).

4. Persyaratan
Untuk Jenjang S-1 dan S-2:
1· Para pelamar beasiswa harus memiliki ijazah Sekolah Menengah SMU yang setara dengan ijazah SMU Rusia dengan nilai untuk mata pelajaran pokok/sesuai dengan spesialisasi yang akan dipilih tidak lebih rendah dari 80% tingkat maksimalnya (Nilai Rata-rata 8,0). Untuk mata pelajaran lainnya juga harus bernilai baik (tidak ada angka merah). (Untuk Jenjang S-2 harus memiliki ijasah S-1 dengan IPK sekurang-kurangnya 2,50);
2· Kurun waktu antara tamat Sekolah Menengah/SMU (atau lembaga pendidikan pra-perguruan tinggi lainnya) dengan saat pendaftaran beasiswa ini harus tidak melampaui 3 tahun.
3· Usia para calon untuk S-1 hendaknya tidak lebih dari 25 tahun dan S-2 tidak lebih dari 30 tahun.

Untuk Jenjang S-3, Penelitian, Post Doktoral:
1· Calon Penerima beasiswa Jenjang S-3 harus berpendidikan berpendidikan tinggi setingkat M.Sc./M.A.,
2· mempunyai pengalaman kerja yang sesuai dengan spesialisasinya;
3· usia hendaknya tidak melampaui 35 tahun.

5. Berkas Lamaran
Berkas lamaran lengkap diserahkan langsung ke
Bagian Kebudayaan Kedutaan Besar Federasi Rusia
Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia
Jl. Diponegoro, 12, Menteng, Jakarta Pusat,
telp./fax: 31935290)

sebelum tanggal 20 Maret 2009.

Berkas surat lamaran dimasukkan ke dalam Map/Amplop Kuning (untuk S-1), Merah (untuk S-2) dan Hijau (Untuk S-3/Penelitian) harus dengan isi dan urutan sebagai berikut:
1. Application Form dalam Bahasa Inggris
2. Fotokopi ijazah/sertifikat dari tingkat pendidikan yang bersangkutan beserta transkrip nilainya dan terjemahannya dalam Bahasa Inggris yang telah dilegalisir oleh Notaris;
3. Surat keterangan bahwa calon telah mengikuti tes kesehatan dan tidak mempunyai hambatan dalam menghadapi iklim Rusia dalam Bahasa Inggris dan telah dilegalisir oleh Instansi yang berwenang;
4. Surat keterangan bebas HIV/AIDS yang telah dilegalisir oleh Instansi yang berwenang;
5. Fotokopi Akta Kelahiran dan terjemahannya dalam Bahasa Inggris yang telah dilegalisir oleh Notaris;
6. Fotokopi lembar pertama Paspor RI dengan data-data calon penerima beasiswa (untuk mengisi formulir bagi visa),
7. Sepuluh lembar pasfoto ukuran 4 x 6 cm.
Untuk pelamar Jenjang S-3 sekaligus harus menyerahkan daftar judul publikasinya (jikalau ada) dan referat singkat (proposal singkat) maksimal 2 halaman tentang tema penelitian ilmiah untuk studi S-3-nya rangkap 2 (dalam bahasa Indonesia dan Inggris). Bagi lulusan perguruan tinggi Rusia harus membuat proposal dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Rusia.

6. Lain-lain
Segala hal menyangkut kedatangan dan domisili keluarga penerima beasiswa tidak menjadi tanggungan perguruan tinggi dimana mahasiswa belajar.

Penerima beasiswa S-1 dan S-2 harus sudah berada di Rusia terhitung sejak tanggal 1 s/d 15 September 2009, penerima beasiswa untuk S-3 dan pelatihan/training sebelum tanggal 1 Desember 2009.

Untuk informasi selengkapnya dan pendaftaran silakan menghubungi kantor Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia.

Alexander I. Vaulin,
Direktur Pusat Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan Rusia,
Sekretaris I Kedutaan Besar Federasi Rusia untuk Republik Indonesia
Pusat Kebudayaan Rusia
Jl. Diponegoro 12, Menteng Jakarta Pusat Informasi
dan keterangan selengkapnya dapat menghubungi 31935290/0812-8414347


Penelitian Strategi Nasional

05/02/2009

Buat teman-2, para dosen, silahkan bersiap-siap untuk ikut serta berkompetisi meraih dana penelitian berikut ini. Dalam waktu sangat dekat, akan segera diluncurkan. (dapat bocoran dari teman baik yg jadi reviewer PSN ini)

Skim Penelitian Strategi Nasional. Skim Penelitian itu menyediakan dana maksimal Rp.100.000.000 perjudul. Aspek-aspek penelitian itu adalah : 1). Pengentasan Kemiskinan; 2). Pelestarian Iklim dan Pelestarian Lingkungan (Biodeversity); 3). Energi Terbarukan; 4). Ketahanan Pangan; 5). Gizi dan Penyakit Tropis; 6). Mitigasi dan Manejemen Bencana; 7). Integrasi Bangsa dan Harmoni Sosial, termasuk penelitian bidang Pendidikan dan Kebudayaan; 8). Otonomi Daerah dan Desentralisasi; 9). Seni dan Sastra dalam mendukung Industri Kreatif (Creatyve Industry); dan 10). Infrastruktur, Transportasi dan Industri Pertahanan.


Webometric 2009, univ anda masuk?

29/01/2009

webometrik3


AYOOOO Sekolah

27/01/2009

BANDUNG, SELASA – Mulai 2009, diharapkan tidak ada lagi siswa usia sekolah dasar dan menengah pertama yang tidak bersekolah. Sebab, pendidikan di tingkat ini sudah bebas dari biaya. Orangtua yang masih enggan menyekolahkan anaknya bisa dikenai sanksi administratif dari pemerintah.

“Karena, di SD-SMP kan sudah digratiskan,” tutur Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Oji Mahroji, Selasa (27/1). Ketentuan mengenai sanksi bagi masyarakat yang tidak mau menyekolahkan anaknya yang berusia wajar dikdas ini diatur di Pasal 7 ayat 6 Peraturan Pemerintah No. 47/2008 tentang Wajib Belajar. Sanksi berupa penundaaan pelayanan kepemerintahan.

Menurut Oji, ketentuan ini menyiratkan tingginya perhatian pemerintah terhadap pendidikan, khususnya menuntaskan capaian wajar dikdas 9 tahun. “Diharapkan ini dapat memacu mereka-mereka yang tidak bisa sekolah sebelumnya karena persoalan hambatan dari orangtua,” tuturnya. Namun, untuk dapat diimplementasikan, ketentuan ini membutuhkan perangkat hukum lain yang lebih teknis.

Di Kota Bandung, capaian wajar dikdas 9 tahun saat ini belum tuntas sempurna, yaitu 100 persen. Angka partisipasi kasar (APK)-nya adalah 93 persen. Ia mengatakan, drop out disebabkan oleh banyak faktor, antara lain tekanan ekonomi, kondisi sosial dari keluarga, termasuk pula pembiaran dari orangtua. Khusus APK tingkat SD, capaiannya diklaim sudah tuntas 100 persen.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat Asep Hilman mengatakan, pemerintah baik pusat, provinsi ataupu n daerah, melakukan segala upaya agar tidak ada lagi anak-anak usia wajar dikdas 9 tahun yang tidak sekolah. Upaya itu dilakukan melalui program bantuan operasional sekolah (BOS) yang dianggarkan baik pusat, provinsi, daerah, pengadaan beasiswa, buku gratis, hingga baju seragam.

Tahun 2009 ini akan ada block grant untuk baju seragam SD, tuturnya. Program buku pelajaran gratis juga dijalankan tahun 2009 ini dengan anggaran Rp 271 miliar. Di luar ini, masih ada pula bantuan beasiswa siswa miskin. Untuk SD Rp 360.000 per tahun , SMP Rp 576.000 dan SMP terbuka Rp 300.000 per semester. Diakuinya, biaya-biaya individual macam transportasi, buku, dan seragam inilah yang kerap menjadi kendala siswa dalam bersekolah.

Untuk itu, Pemprov Jabar di 2009 ini juga akan memperbanyak program sekolah satu atap. Agar, siswa tidak lagi terbebani transportasi karena SD-SMP berada di dalam satu kompleks. Jika kewajiban pemerintah ini semua sudah terpenuhi, maka tidak lagi ada alasan masyarakat tidak menyekolahkan anaknya. “Jika sepanjang pemerintah belum bisa 100 persen membiayai, maka sanksi itu tidak akan efektif,” ucapnya.

Dalam suatu kesempatan, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan merasa sedih melihat persoalan masih banyaknya siswa wajar dikdas yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya. Lihat, di tingkat SLTP (SMP), dari target (APK) 95 persen, kita hanya baru capai 89 persen. “Posisi kita di nasional pun anjlok dari 5 (tingkat SD) ke nomor 18,” ujarnya.


Beasiswa Rusia, siapa berminat?

21/01/2009

Kompas. Selasa, 20 Januari 2009 | 17:17 WIB

JAKARTA, SELASA — Pemerintah, dalam hal ini Kedubes RI di Rusia, mendorong mahasiswa dan dosen Indonesia untuk memanfaatkan kesempatan belajar di Rusia. Saat ini ada dua jalur yang bisa dipakai yakni beasiswa dari Pusat Kebudayaan Rusia (PKR) dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti).

Hal itu dikatakan Wakil Dubes RI, A Agus Sriyono, dalam konferensi pers di Bakoel Koffie, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Selasa (20/1).

“Inilah momentum untuk mendekatkan kembali hubungan RI-Rusia, terutama dalam hal pendidikan,” tuturnya.

Kerja sama ini, dikatakan Agus, dimulai dari pembentukan joint selection committee dari kedua belah pihak dan penandatanganan MoU antara Universitas Politeknik St Petersburg dengan beberapa universitas, seperti UI, ITB, dan Universitas Hasanuddin. “Sebagai wakil dari Rusia 7 profesor di masing-masing bidang untuk menandatangani MoU pada 14 Januari dengan UI dan ITB. Kalau hari ini penandatanganan dengan Universitas Hasanuddin,” ujar Agus.

Dikatakan Penanggungjawab Penerangan Sosial Budaya KBRI di Moskwa, M Aji Surya, tantangan terbesar dalam kerja sama ini untuk mengomunikasikan kepada masyarakat bahwa Rusia itu bukan lagi negara komunis seperti dulu.

“Sebelum tahun 1965 itu ada sekitar 30.000 mahasiswa, sedangkan dari 1965-1988 tak ada sama sekali mahasiswa yang belajar di Rusia, maka kita dorong bagi dunia perguruan tinggi untuk dapat berpartisipasi,” kata Aji.

Beasiswa dari PKR tersedia 35 lowongan untuk masing-masing program S-1, S-2, dan S-3 setiap tahunnya. “Pendaftaran untuk beasiswa Dikti sudah dimulai dari sekarang untuk tahun ajaran September-Oktober, sedangkan beasiswa dari PKR untuk Februari baru dimulai untuk tahun ajaran yang sama,” kata Aji.

Fasilitas bagi penerima beasiswa dari PKR akan ditanggung biaya pendidikan dan akomodasinya serta mendapat uang saku sekadarnya. Sementara beasiswa dari Dirjen Dikti mendapat fasilitas gratis biaya SPP, akomodasi, transportasi, biaya administrasi buku, dan biaya hidup selama di Rusia.

MYS


Quo Vadis FK

14/01/2009

Masuk FK di Indo cukup sulit, hanya tersedia 18% via SNMPTN. Dengan berbagai ‘dalih’, prosentase ’sisa’ nya dijual sangat mahal. Al hasil, hanya orang kaya yang sanggup masuk FK.

Untuk orang miskin, ada jatah juga, masalahnya, banyak orang yang tidak masuk kategori miskin, tapi memang benar-2 tak sanggup membiayai, jadi ya ‘forget it’, lupakan mimpi jadi dokter.

Angka 18% tadi, jadi persaingan yang sangat sengit.

Di sisi lain, katanya Indonesia butuh dokter banyak. Di sisi lain lagi, ternyata 30% daya tampung diisi oleh mahasiswa asing. Dus orang Indo jadi dokter tambah sulit saja.

Karena mbayar mahal, maka logikanya, nanti kalau jadi dokter juga harus balik modal. Ngitung untung-rugi. Pasien diperas. Ini sudah rahasia umum, rumah sakitpun jadi bidang bisnis, bukan sosial lagi, info ini dari dokter sendiri lho. Belum ngomong soal obat, wisss jangan ke sana deh, ini dunia lain yang tak kalah mencengangkan.

Soal ‘pendidikan kedokteran’ ini kalau kita naikkan ke pendidikan spesialis, wowww lebih ‘edan’ lagi. Tanya menteri kesehatan deh, beliau pasti tahu, nggak mungkin tidak.

Bagaimana kondisi kesehatan masyarakat Indonesia di tahun-tahun (katakanlah 10 tahun) mendatang? Mbuh bayangkan sendiri saja.

Dokter langka, ke rumah sakit or ke dokter mahal, mending ke dukun atau terkun saja (baca: “pengobatan alternatif”). Makanya di Surabaya di buka sekolah utk jadi ‘dukun’. Laris manis.

(ingat lho dukun yang saya maksud bukan dalam arti negatif lho, tapi orang yg mampu mengobati dgn cara alternatif, contoh: Romo Loogman)

Kalau saya jadi Presiden, saya akan ‘cetak’ dokter sebanyak-banyaknya, anak-2 yang nilai UANnya ‘10′ saya beri kesempatan utk jadi dokter secara gratis. Masyarakat ke puskesmas gratis, tidak bayar sepeserpun.

(* ssstttt ini ide nyontek dari negri jiran *)

!@#$%^&*(*&*()*%#$&

wis ah pusing … (mikirin gimana caranya bisa jadi presiden)


Gila, Fakultas Kedokteran Didominasi Mahasiswa Asing

14/01/2009

Rabu, 18 Juni 2008 | 20:43 WIB. Kompas.com
JAKARTA, RABU- Menteri Kesehatan menyesalkan makin banyaknya mahasiswa asing yang kuliah di Fakultas Kedokteran di beberapa universitas negeri di Indonesia, sementara probabilitas siswa SMA di Indonesia untuk masuk Fakultas Kedokteran hanya empat persen. Artinya, mahasiswa asing lebih berpeluang masuk Fakultas Kedokteran.

“Bayangkan, probabilitas siswa dari Malaysia untuk masuk Fakultas Kedokteran itu 30 persen. Waktu di RS Sanglah Bali, saya kaget kok banyak mahasiswa berwajah India,” kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari dalam rapat kerja dengan Panitia Ad Hoc III dan IV Dewan Perwakilan Daerah di Jakarta, Rabu (18/6).

Menurut Menkes, di FK Universitas Hasanuddin saja ada sekitar 300 mahasiswa asing. Alasan perguruan tinggi negeri menerima mahasiswa asing hanya karena ingin dibilang world class. “Yang saya sedihkan, mereka ini praktik di Rumah Sakit pendidikan yang dananya dibiayai oleh pemerintah,” kata Menkes.

Sementara itu, Indonesia sendiri masih sangat kekurangan tenaga dokter. Jika mahasiswa asing itu nantinya lulus, mereka bisa langsung jadi dokter di Indonesia tanpa adaptasi, sedangkan dokter-dokter kita bisa jadi kuli. “Ini sangat ironi, ” tegas Menkes.