PHK Tuesday, Apr 1 2008
pendidikan 3:25 am
Dulu kalau orang mendengar kata PHK, pasti berpikiran bahwa itu ada sangkutpautnya dengan Pemutusan Hubungan Kerja. Sebuah singkatan yang populer sejak jatuhnya pemerintahan Eyang Soeharto ytc, bersamaan juga dengan jatuhnya ’saya’. Saya jatuh miskin bersama-sama berjuta-juta orang seantero Indonesia Raya ini. ‘Jatuh’ tadi mbuh kepriben, saya tak tahu sebabnya, apa ada hubungannya dengan Mbah Soros, mbuh ra weruh, bukan bidang saya.
Tapi PHK yang satu ini lain. PHK yang dipopulerkan oleh DIKTI (Direktorat Pendidikan Tinggi). PHK kependekan dari Program Hibah Kompetisi. Ini pemerintah punya program untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia, program yang luhur! Jadi para PTN dan PTS boleh berkompetisi untuk mendapatkan dana dari pemerintah (APBN) dengan cara mengajukan proposal dengan aturan main tertentu. Perlu diingat pemerintah bukan ‘baru’ meluncurkan dana utk PTN/PTS, tetapi sudah lama dan banyak ragamnya dan dari berbagai sumber. (contoh TPSDP dari Bank LN, lupa saya, kalau bukan ADB yang World Bank dll).
Jadi pemerintah ini menurut saya buuaaiiikkk betul. Mau memberikan dana utk PTN/PTS. Pihak PTN/PTS hanya perlu membuat proposal, dengan kata lain ‘menjual persoalan’. Lha, kan wwuuueenakkk. Nulis persoalan, diajukan, berkompetisi, menang, dapat dana, kerjakan, laporkan, beres! Kalau kalah, ya jangan putus asa, mengajukan lagi. (saya hanya gagal sekali dan menang seterusnya, ha ha ha). Bagi teman-teman yang sering berkecimpung dalam bidang ini tentu punya banyak pengalaman menarik.
Ada PHK yang lain lagi, yaitu Pemburu Harta Karun. Ketika saya sedang sibuk menulis proposal PHK di ruang khusus (kebetulan dapat ruangan seperti aquarium, bisa terlihat dari luar), maka teman-teman yang bersliweran dapat dgn mudah melihat saya yg berjumpalitan di dalam ruangan, dan komentar mereka “Itu lho Pemburu Harta Karun”. Maksudnya pemburu dana dikti. Ada-ada saja teman-teman saya itu. Kalau dipkir-pikir betul juga, ber milyar-milyar rupiah sudah saya hasilkan dari laptop axioo butut saya itu, utk memajukan pendidikan di negeri ini. Tapi akibatnya, saya nggak tambah pinter, nggak tambah maju, nggak tambah kaya. Tetap 3B. Ah, bodohnya saya. Istri saya saja dah hampir profesor. Saya masih asisten ahli, enggan meninggalkan ke-’ahli’-an. he he he. Malu nih.
