Reuni berkat Inherent Tuesday, Apr 1 2008 

DIKTI meluncurkan PHK TIK INherent, kami ikut berkompetisi dan Alhamdulillah menang. Tahun berikutnya ikut lagi dan menang lagi.  Maka jadilah instansi kami ‘connect’ ke inherent.  Sekarang tiap minggu ada forum vicon dgn berbagai topik.  Milis inherent-pun ramai.Bagi saya pribadi, yang menarik adalah bahwa, saya bisa bertemu teman-teman lama yang tak terduga sebelumnya.   Bisa bertemu Pak Chan yang sekarang sudah profesor.  Beliau tuh dulu asisten matematika, saya pesertanya.  Beliau dua tahun di atas saya, kakak angkatan.  Lalu saya bertemu Pak Adhi dari UI, yang ngurusi jaringan inherent UI, nah Pak Adhi ini teman satu atap saya dulu waktu kuliah S2, tidur bareng, makan bareng, mandi sendiri-sendiri :)

Ada lagi teman dari padang, yang tiba-tiba saja berkirim email, dan katanya sering baca postingan saya di milis inherent, Pak Zul, ini dulu juga teman senasib. Juga Pak Ekosed dari UKSW, beliau dulu teman seperjuangan juga.

Nah yang paling mengejutkan adalah, saya bertemu kepala Puskom UNIPA, Pak Ery Atmodjo, beliau ini adalah teman SD saya, teman waktu belajar sepeda onthel.  Sekolah Dasar !!!.  Lha…. lama sekali.  Pak Ery ini tinggal di Manokwari, saya sempat mampir ke rumah beliau di Manokwari, dan dipameri antena kaleng-nya. Luar biasa perjuangan Pak Ery ini dengan dukungan minimal, bisa berjaya di bidang IT di UNIPA. Padahal Pak Ery ini berlatarbelakang pertanian, ekonomi dan seni.  Dan kami pernah melakukan vicon berduaan saja (Jawa-Papua) ngobrol kesana kemari, maklum kangen-kangenan, pakai fasilitas INHERENT, ha ha ha, jangan bilang siapa-siapa ya. Itu ketika vicon baru kami install dan bingung bagaimana mencobanya, maka kami coba berduaan begitu.

Thanks INHERENT, yang mempertemukan kami para ‘Umar Bakri’ di negri ini.

Jalan-jalan ke Genting Highland Saturday, Mar 15 2008 

Dari rumah, saya sudah super-siap, pakai pakaian rapih, bersepatu baru dan mengkilap!  Maksudnya, nanti akan masuk ke casino di Genting Highland, dan akan bertemu dengan cewek-cewek cakep seperti di film James Bond. 

Setelah sempat nyasar di tengah KL metropolitan (ini memang nasib saya, di kota selalu nyasar, maklum sopir ndeso,  di Jakarta juga nyasar-nyasar) maka sampailah di Genting Highland.  Mobil saya parkir di tempat yang seharusnya, kemudian segera menuju gondola.   Ini gondola yang konon terpanjang di Asia.  Saya baru naik yang di TMII saja! Cukup lama, 18 menit-an lah.  Bagi yang takut ketinggian sebaiknya ‘merem’ saja! Turun dari gondola langsung bergegas ke casino, dijaga satpam yang kekar-2.  Dengan lagak super-PD seperti penjudi ulung saya masuk melewati mereka dengan sukses.  Maklumlah, tempat ini terlarang untuk ‘tampang melayu’, dan tampang saya memang ‘mlayu-mlayu’ alias nggak jelas.

Sampai di dalam, saya berputar-putar ke berbagai sudut, dan celakanya, saya nggak ngerti semua apa yang dimainkan di sana. ha ha ha …..  berlagak sok tahu.  Lha wong tahunya cuma main ‘omben’ doang.  Dan celakanya lagi, ternyata tidak ada tuh cewek-cewek cakep di sana, yang saya temui cuma engkong-engkong dan emak-emak yang sudah pada ubanan, ya nasib ……

 Maka keluarlah saya dari arena tersebut, dan makan siang di bagian dalam mall.  Cukup mahal, RM23 hanya dapat nasi goreng. (ini menu putus asa, karena nggak bisa milih yang lain) 

Akhirnya, hanya jalan-jalan dan main-main saja di tempat mainan anak-anak yang seperti di dufan itu :(

yang berkesan ya itu tadi ‘lost in KL’ itu.

Biaya hidup di negri Hang Tuah (Melaka) Sunday, Feb 10 2008 

Pokoknya UMR di sini RM 1500/bulan, jadi anda harus punya penghasilan lebih dari itu kalau mau taraf hidup lebih dari TKI (PRT).  Di Melaka sebaiknya punya kendaraan sendiri seperti orang sini, sebab angkot tak ada, bus tak terjadwal, taxi jarang dan mahal.  Proton Saga baru harganya RM 31,000, bekas paling tidak RM 7,000 tgt kondisi dan tahun. Ingin tahu lebih detil? layangkan email anda ke harisxyz@yahoo.com

kamus melayu-indonesia Sunday, Feb 10 2008 

Melayu  (Indonesia)

sejuk(dingin), kereta(mobil), motosikal(sepeda motor), basikal (sepeda), tak(tidak), jemput(undang), pangsapuri(apartemen), letak kereta (tempat parkir), mata (poin), duduk(tempat tinggal), nak(mau/akan), bilik(ruang), tandas(toilet), pandu(sopir), kereta sewa (taksi), pusing (putar), cilipadi(cabe-rawit), semulajadi(natural), segera(instan), masa(waktu), pejabat(kantor), ibu pejabat (markas besar), selekoh (belokan), lencongan (tikungan), mangga(gembok), pelan(rencana), gambar (foto), belanja (traktir), belibelah(belanja),  pensyarah (dosen), pengajian siswazah (pascasarjana), cik gu (guru), tuan/encik (bapak), puan (ibu/nyonya), cik (nona), perisian (software), maklumat (informasi), tayar (ban), pengurusan (manajemen), pendrive(flashdisk), kasut(alaskaki), stor(toko), pengurup(penukaran), lesen(ijin), isipadu(volume), melabur (investasi), bagi(beri), bimbit(telp genggam), bengkel(latihan), workshop(bengkel), makmal(laboratorium), temuduga(wawancara), kedai(warung/toko kecil), api(listrik), padam(hapus), tewas(kalah), berjaya(sukses), maut(mati), makrempit(ha ha ha, ini yang membuat saya tertawa, artinya pengemudi spd motor freestlye). 

ada yg mau menambahkan?

aku selebritis temporer Saturday, Jun 16 2007 

Saya pernah iseng berkunjung ke ‘dunia lain’ yaitu dunia ‘acting’ alias jadi pemain sinema elektronik.  Saya pernah bermain di beberapa judul FTV,  yang saya ingat antara lain “Kembang Padang Ilalang” (bermain bersama Dian Fajarwati - entah dimana tuh orang sekarang, terakhir jadi presenter di TVRI Jogja),  ”Kaca buram seorang bintang” (kalau tak salah ada Saiful Jamil juga di situ), dan lain-lain saya lupa judulnya maklum sudah agak lama, yang jelas produksi Indosiar dan SAV.

Kesan saya, ini benar-benar dunia lain, biasanya saya berada dalam dunia akademik dgn ilmu keras (teknik-mipa).  Awalnya saya menjadi ‘alien’ di sana, tetapi lama-lama bisa beradaptasi walau ada perlawanan mendasar dalam benak.  Ada hal-2 positif yg saya dapatkan dari sana.

Saya kagum pada ‘team-work’ , mulai dari sutradara, astrada, kamerawan, sampai juru lampu, tukang pegang mic, tukang photo, penjaga genset, sopir, catering.  Semua bekerja keras dgn jadwal yang tepat dan padat dan sinergis, makanya kalau ada pemain yang datang telat, wah betul-2 bisa merusak suasana dan jadwal kerja, bisa rugi banyak.  

Pengalaman di ‘dunia lain’ ini membuat saya juga jadi paham tentang ‘make-up’ (terimakasih pada make-up-man, teman-2 dari ISI, yg mengajari saya).  Seumur-umur sebelumnya saya nggak pernah pakai bedak, pembersih muka, bando, lipstick.  (paling-2 pakai pelembab bibir waktu ke negri sebrang).  Ini hal yang menggelikan dan mengasyikan.  wis tho, pokoke aneh!

Dan akhirnya saya berhenti, penyebabnya adalah jadwal yang padat, saya tidak bisa mengaturnya.  Kalau shooting sampai malam hari dan berhari-hari, mengakibatkan performanceku di siang hari jadi turun.  Padahal siang hari harus bekerja keras mengajar, membuat proposal (oh PHK … Oh DIKTI), menjaga jarkom, melakukan penelitian dll. 

Mungkin lain kali, kalau ada waktu luang saya akan mampir lagi ke ‘dunia lain’ itu.

Oh ya, saya nulis ini karena saya ingat, pertama kali shooting di hotel tempat saya kemarin ambil sertifikasi mikrotik, “Jogja Plaza Hotel”.