Sindrom Menelan Gunung

19/08/2009

Seorang kawan lama tiba-tiba datang ke rumah, pada sore yang berhias langit jernih. Mengenakan pakaian kausal dan bercelana pendek, senyum­nya masih selebar dulu. Yang berubah, body-nya tak seindah dulu lagi; lemak mengendap di balik lapisan kulit dan perutnya. Saya tidak bisa memastikan sebabnya. Mungkin karena kecintaannya pada kuliner yang memang dahsyat. Tapi barang­kali karena kemakmuran…

Setelah larut dalam nostalgia yang bertabur tawa renyah, tiba tiba dia mengeluh, “Sobat, hidupku sudah tidak berguna lagi…”
Saya tertegun. Kalau menyimak caranya berkelakar dan peningkatan signifikan pada taraf kemakmurannya, semua terlihat baik-baik saja. Tapi memang ada satu hal yang selalu ditakuti­nya. Jawabannya datang tidak lama.

“Aku baru pulang dari Jogja, check up.”
“Lho, bukannya rumah sakit di Jakarta lebih Ok?” ujar saya bingung.
“Bukan check up di rumah sakit, tapi di angkringan,” jawab beliau pendek.

Angkringan, adalah warung makan kelas ekonomi khas Jogjakarta. Bertebaran hampir di seluruh pinggir jalan, ujung gang, dan sudut-sudut gelap seantero kota budaya itu, angkringan menyajikan menu khas: ceker bakar dan nasi kucing. Disebut begitu karena materinya cuma sekepal nasi dengan lauk sambal teri, tumis tempe, atau bakmi goreng yang dibungkus daun pisang. Mirip menu buat si meong.

Lebih eksotis lagi jika sebungkus nasi kucing itu disantap dengan lauk ceker ayam potong yang dibacem. Sebelum menjadi lawan nasi, ceker bacem nan legit itu dibakar dulu di atas tungku arang. Bunyi gemeretak dan aroma lemak hangus yang menguar memang sangat mengundang selera.
Kawan kita ini, dulu sewaktu masih menjadi reporter sebuah digest Islami, adalah pemuja angkringan. “Aku sudah berkeliling Nusantara dan selalu mencicipi makanan terbaik yang ada di setiap kota. Tapi ceker bakar angkringan Jogja tetap yang nomor satu!” Demikian ia memproklamasikan konklusi kulinernya. So? “Aku tidak bisa merasakan kelezatan ceker bakar seperti dulu lagi,” ia bergumam sedih.

Jamaah Taushiyah Online yang dimuliakan Allah…

Apakah sebenarnya yang kita cari di dunia ini? Sejak lepas subuh hingga jelang maghrib (bahkan lebih banyak lagi yang membutuhkan waktu hingga jauh melewati isya) dalam barisan manakah kita berada? Alih-alih berada di barisan “para pencari Tuhan”, sebagian besar, bahkan hampir semua dari kita bergegap gempita dalam dalam barisan “para pencari dunia”. Saya tidak malu mengakui­nya.

Hari demi hari berlalu, dan kesibukan memburu rizki duniawi itu seolah tidak berjeda. Lalu apa yang kita dapat? Mari kita telisik lagi rekam jejak perjalanan hidup kita. Saya memastikan, di masa lalu kita begitu banyak hal-hal sepele yang mampu menghadirkan kebahagiaan tak terkira. Anda yang berasal dari dusun yang murni, masihkah bisa merasakan bahagianya berenang-renang di sungai yang airnya berkilau jernih? Ingatkah kita bahwa belajar naik sepeda dan menerbangkan layang-layang pada masa kecil dulu demikian berharga sehingga kalau mungkin, 24 jam kita habiskan saja untuk kesenangan yang bentuknya sangat sederhana itu. Bahkan, waktu itu saya mau menukar apa saja seluruh isi dunia ini dengan waktu berenang di kali, naik sepeda, dan menerbangkan layangan.

Lalu mari kita uji, apakah hal-hal “sepele” itu masih mampu membuat hati kita bahagia? Apakah perubahan karir, kedudukan, taraf ekonomi, pergaulan, dan semua yang dengan susah payah kita perjuangkan mati-matian ini bisa menghadirkan kebahagiaan serupa?

Sahabat saya yang lain baru pulang dari penjelajahan singkat di Borneo. Dia bercerita dengan sangat geram tentang tentang eksploitasi alam yang “gila-gilaan” dan benar-benar menghancurkan keseimbangan alam. Apa yang diburu mahluk Allah yang cerdas ini dengan menghancurkan mahluk lain yang mestinya dikelolanya dengan bijak sebagai khalifatullah?

Saya jadi teringat seorang preman yang biasa mangkal di kawasan Senen. Di dunianya yang keras, entah berapa kali peristiwa mengerikan menimpanya. Itu bukan omong kosong; dia akan dengan senang hati berkisah tentang sebab pitak-pitak di kepalanya yang permanen: “Dulu, waktu musim petrus (penembak misterius), aku ditangkap sekelompok orang bersenjata. Aku melawan, dan kepalaku dihujani bayonet. Jadinya ya pitak-pitak begini.”

“Abang hebat ya…, belajar kesaktian di mana?”
“Oh, Dik, Abang bukan sakti, Cuma beruntung saja tidak mati-mati. Tak usah belajar macam-macam pun, manusia seperti kita ini memang dibekali kesaktian yang tiada tandingan. Coba Adik pikir, jangankan sepiring nasi, bahkan gunung pun sanggup kita telan bukan?” ujar Sang Preman berfilsafat.
Ucapan dia itu menjustifikasi sabda Rasulullah betapa keserakahan manusia nyaris tidak ada batasnya, “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang dipenuhi harta kekayaan, dia pasti menginginkan lembah yang ketiga” (HR Tirmidzi dari Ibnu Abbas).

Mengapa tidak berbatas? Sebab keserakahan itu adiktif. Sedangkan ciri khas kecanduan adalah kebutuhan akan dosis yang lebih besar lagi, lagi, lagi… Kalau kita sudah terbiasa menyantap hutan, gunung, dan meminum samudera raya. Jangan harap bisa terpuaskan oleh sepotong cakar ayam dan segelas teh jahe hangat dalam suasana egaliter.

Makanya, Tuhan kita mewajibkan ummatNya menjalani simulasi perang melawan keserakahan selama satu bulan penuh setiap tahun. Kita diwajibkan merasakan kembali kelaparan sepanjang hari dan betapa nikmat makanan paling sederhana kala berbuka puasa. Kita diingatkan pada kodrat kita dengan timbulnya gejala psikologis saat berpuasa yang saya namakan saja “sindrom menelan gunung”.

Mari kita uji diri kita sendiri (dan tidak usah malu melakukan hal ini, karena hanya Anda dan Tuhan yang tahu). Di tengah sengatan terik mentari, didera lapar dan dahaga di tengah waktu berpuasa, bayangkan jenis dan berapa banyak makanan enak dan minuman menyegarkan yang menurut kata hati Anda sanggup kita telan? Cukupkah segelas teh hangat dan sebutir kurma memuaskan dahaga dan lapar kita?

Kemudian, mari kita buka daftar belanja buka puasa kita, terutama di awal-awal Ramadan. Sebagai appetizer, biasanya ada kolak pisang dan pacar cina (yang ekonominya lebih mapan boleh memilih puding aneka rasa), dan masih banyak ragam penganan lainnya. Menu utamanya jangan sayur lodeh yang sudah biasa dong, karena ini bulan istimewa, aneka masakan istimewa pun tentunya ingin kita hidang. Desert-nya? Aneka buah-buahan nampaknya menjadi pilihan ketimbang sekadar air putih yang sebelum ditelan dipakai kumur-kumur dulu.

Tidak heran kalau disinyalir bahwa memasuki bulan Ramadan ini, kesibukan di pasar lebih hebat ketimbang di masjid.
So, walau belum ada penelitian sahih mengenai ini, tapi barangkali sesaknya meja makan dengan berbagai makanan dan minuman kala buka puasa di awal Ramadan karena ibu atau istri-istri kita juga terserang “sindrom menelan gunung” itu.

Lalu apa yang terjadi begitu adzan maghrib berkumandang? Ternyata, segelas teh hangat (mungkin kolak pisang) dan dua tiga potong kurma lebih dari cukup untuk meringkas luasnya ruang imajiner dalam lambung akibat nafsu serakah kita. Sisa hidangan yang melimpah ruah pun mubadzir.
Kita memang mahluk aneh. Disuruh belajar hidup sederhana, eh.., malah foya-foya. Diminta menikmati rasa lapar dan memperbanyak ibadah, malah balas dendam di meja makan dan lalai beribadah karena kekenyangan. Apa boleh buat, keserakahan memang tidak berbatas.

Tapi, kalau kita tidak mau menderita batin seperti kawan saya yang gelisah karena tidak lagi bisa mensyukuri nikmat Allah paling sederhana, belajarlah mengendalikan hawa nafsu kita. Hati-hati lho.., kalau Anda terbiasa rehat sejenak di café, menikmati sajian espresso sambil ngutak atik PR di laptop, bisa-bisa kopi tubruk buatan istri jadi hambar rasanya.

Kalau Anda terpaksa atau sukarela mengimbangi limpahan rizki dengan gaya hidup yang juga semakin berbiaya tinggi, jangan-jangan Anda sedang mendevaluasi nilai kenikmatan yang diberikan Tuhan. Bukankah udara segar yang semestinya gratis kini harus Anda bayar mahal karena untuk memperolehnya mesti pergi ke Puncak di akhir pekan? Bukankah ongkos ke Dufan untuk memenuhi kebutuhan bermain anak-anak kita sebenarnya bisa kita tekan andai kita bisa mengajari mereka cara membuat dan menerbangkan layangan?

Maka, ketika kawan kita yang gundah gulana karena tidak bisa lagi merasakan nikmatnya ceker bakar di warung angkringan Yogyakarta pamit pulang, saya memberi advis sederhana, “Berpuasa­lah.” Marhaban yaa Ramadan.

*) Terimakasih kepada Bapak M Anwar Sani, Direktur Eksekutif Al Azhar Peduli Ummat.


Tujuh Belasan

13/08/2009

Bulan Agustus datang, orang ramai-ramai menulis tentang kemerdekaan, arti kemerdekaan, merebut kemerdekaan, mengisi kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan, pokoknya ada kata ‘kemerdekaan’.

Saya juga ikutan !

Bulan Agustus, selalu datang setiap tahun, dan setiap kali, pasti ada keramaian berbagai pihak ‘memperingati’ hari kemerdekaan.   Namun sejauh yang saya amati, ternyata kebanyakan yang terjadi adalah bukan ‘memperingati’, melainkan mengadakan kegiatan untuk bersenang-senang, meriah, dapat hadiah dalam lomba ini-itu.    Membuat gapura, membuat tulisan dirgahayu, pasang lampu warna-warni, mengecat sana-sini.   Ada juga karnaval, mulai dari jalan kaki, bersepeda roda dua, sampai kendaraan kelas berat roda enam-belas.    Lalu di berbagai instansi dan sekolah, ada upacara bendera, yang formatnya sudah tertentu.   Bahkan kadang-2 upacara dilakukan secepat-kilat, karena para boss mau ikut upacara lagi di level lebih tinggi.    Anak-2 sekolah habis upacara bisa jadi langsung bertebaran entah kemana, yg jelas tidak melanjutkan pelajaran di sekolah.

Setelah hiruk pikuk ‘memperingati’ hari kemerdekaan usai, maka kita semua kembali ke dalam rutinitas seperti biasa.    Anak sekolah ya tetap bersekolah dgn segala tetek-bengeknya, dgn UAN-nya yang menakutkan misalnya.  Orang tua kembali sibuk dengan pekerjaannya, dengan kepusingannya mengelola penghasilan yang tak sebanding dgn pengeluarannya, sibuk mencari peluang, baik yang halal maupun yang agak halal.   Dalam hati saya bertanya, “apa yang kita dapatkan, baik secara tangible maupun intangible, dari hiruk pikuk memperingati kemerdekaan itu, berkaitan dengan kehidupan kita berbangsa dan bernegara?”.

Saya pribadi – yg sudah tua ini -, tidak merasakan manfaat dari hiruk-pikuk ‘memperingati kemerdekaan’ itu.

—ooOoo—

Duluu, ketika masih SD, diajari menyanyikan lagu-2 cinta tanah air (kami sebut lagu-2 wajib kala itu), cukup banyak.  Setiap Senin ada upacara, menaikkan bendera merah-putih, menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ dengan khidmat.  Membaca Pancasila, Pembukaan UUD 45, bahkan saya termasuk salah satu yang hafal Pembukaan UUD 45 itu (sampai sekarang lho).    Setelah mendengar wejangan dari bapak kepsek, upacara selesai, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu-lagu cinta tanah air tadi.     Saya (yg masih anak-anak) waktu itu, sangat ‘terpengaruh’ oleh kegiatan/suasana saat itu.   Pendek kata, sadar menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Di SMP , dan SMA juga demikian.   Kami bisa menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan baik, juga lagu-lagu lainnya.   Puncaknya biasanya pada saat upacara 17-an tiba.   Semua berkumpul di lapangan utk upacara di tingkat kabupaten.    Hampir semua sekolah mengirimkan wakil siswa-siswinya dalam upacara tersebut.   Dan saya? tidak pernah absen, bahkan boleh dikatakan hampir selalu menjadi petugas upacara.  Misalnya petugas menaikkan bendera dll.    Rasanya bangga betul, walau di tingkat kabupaten.   Dan rasanya ‘Indonesia’ banget gitu lho.    Apalagi, ketika saya melihat bapak saya (yg pahlawan itu) lengkap dgn pakaian dinas upacaranya, berdiri di deretan depan.  Dan juga tak jarang kakak saya yg alumnus akabri itu, berdiri tegap menjadi komandan upacara.    Lebih-lebih, ketika saya diberi penghargaan dalam upacara 17-an tersebut, sebagai pelajar teladan.  WUihhhhh rasanya Indonesia ini menjadi milik saya, bangga betul jadi anak Indonesia.

Itu cerita duluuuu sekali, waktu jadi anak sekolah.

–ooOoo–

Ketika kuliah?  wah…. saya kehilangan moment-2 istimewa di hari kemerdekaan, mungkin pas angkatan saya saja yang tidak terlibat.   Seingat saya, selama kuliah saya tidak pernah hadir upacara bendera 17-an di kampus saya., padahal pengin banget ikut kalau ada.

Ketika bekerja juga sama saja, bahkan karena kesibukan mencari uang ini, sudah tidak memperdulikan lagi ttg hal-hal seperti itu, lagu Indonesia Raya mulai jarang, amat jarang saya nyanyikan.   Semoga saja tidak lupa syairnya.   Pancasila dan Pembukaan UUD 45 memang masih hafal, tapi cuma hafal doang, tidak lagi ‘concern’ dgn makna yang tersirat di dalamnya, itu buang-2 waktu saja.      Makin lama rasa kebanggaan thdp tanah air, makin tidak jelas, masih ada atau tidak.   Terjun dalam masyarakat, semakin ruwet melihat kenyataan yang ada.

Makin hari kenyamanan dan kesejahteraan tidak meningkat, jumlah kendaraan dan polusi yang jelas meningkat! Kayaknya makin jauh dari cita-cita di Pembukaan UUD 45.   Ranking korupsi masih tinggi, human development index masih jelek.   Kerukunan bagai api dalam sekam.   Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.   Mbah Surip yang biasa itu jadi terkenal, sementara orang Indonesia pasti banyak yang nggak kenal sama cewek yang bernama Soetjen Marching.

–ooOoo–

Memperingati kemerdekaan, sudah tanpa makna. Setelah selesai memperingati hari keramat ini, kita kembali ‘eker-ekeran’ dhewe.   Terus kemana rasa kebangsaan kita ini?  Lihat saja perilaku para elit politik, lihat saja KPK vs POLRI, atau KPU vs MK, kapan kita bisa ‘rangkulan’ utk membangun negri ini ke arah yang lebih baik ya?

Barangkali, kita harus mendeklarasikan, perang, mengangkat senjata melawan negara lain,  ostrali umpamanya, baru kita bisa ‘rangkulan’.

gitu kali ya …

salam,

harisxyz di luar negri, bukan ostrali.


Saat engkau cemberut

10/08/2009

Saat engkau cemberut, engkau telah membungkus senyuman ramahmu untuk sahabat dan saudaramu! Padahal Tuhan menaruh harapan, melalui dirimu, saudaramu yang sedih akan merasa nyaman tinggal di hatimu!

Saat engkau muram dan memalingkan wajahmu kepada orang yang berada dalam kesulitan hidupnya, engkau sebenarnya telah menyembunyikan cinta Tuhan yang engkau percayakan kepadamu. Padahal kehadiranmu diharapkan menjadi tanda cinta-Nya yang membawa harapan.

Saat engkau mencari harga dirimu dan takut wibawamu merosot turun, engkau sebenarnya telah membungkus kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Padahal Tuhan mau menganugerahkan rahmat kebijaksanaan: menjadi mulia dalam kerendahan hati, namun engkau tidak mau untuk terluka sebentar saja.

Saat engkau membuang muka kepada temanmu yang telah menjengkelkan dirimu, engkau telah membungkus rapat hatimu yang penuh belas kasih dan pengampunan. Padahal Tuhan sudah memberikan kepadamu mandat untuk mengampuni, yakni tidak menghakiminya lagi, melainkan justru memberikan kesempatan kepadanya untuk berubah. Begitu besar cinta Tuhan, sampai pengampunan pun dipercayakan kepada manusia, agar manusia dengan mudah memaafkan sesamanya!

Saat engkau menolak anakmu untuk bersandar pada bahumu, saat itulah juga engkau kehilangan kesempatan untuk merasakan tangisan, detak jantung anakmu yang mempercayakan hidupnya kepadamu. Begitulah anakmu percaya kepadamu, orang tuanya. Anakmu yakin engkau tidak akan menyakiti hatinya, melukai tubuhnya, melainkan anakmu percaya, engkau orangtuanya akan mendidik dan merawatnya penuh kasih! Tuhan pun percaya dan menaruh harapan kepadamu sebagai orang tua.

Saat engkau menyalahgunakan kehendak bebasmu untuk berbuat dosa, di situlah sebenarnya rahmat belas kasih Tuhan yang maharahim berlimpah limpah. Namun rahmat itu tidak akan dirasakan kalau kita masih “hidup”: membela diri terus dengan 1001 alasan yang membenarkan diri sendiri meskipun sudah ditunjukkan kesalahanmu. Kita butuh belajar “mati”: kehilangan harga diri, agar kita mampu menemukan rahmat Tuhan yang berbelas kasih kepada orang berdosa. Itulah ibarat, ikan yang hidup di tengah lautan tidak akan menjadi asin meski air lautnya asin.Namun hanya ikan mati yang dapat diasini karena fungsi “self defense mecanism” ikan itu sudah tidak berjalan lagi. Begitulah diri kita sebenarnya. “Kamu adalah garam dunia”. Mungkinkah kita akan menjadi garam bila kita tidak “mati”? Kita akan menjadi garam kalau berani kehilangan “sikap membela diri”.

Tanah yang subur, mudah dicangkul dan menyerap air apa saja. Tanah itu selalu siap untuk ditanam “biji-bijian” yang menjadi benih tanaman untuk bertunas. Apakah kita ini siap menjadi biji gandum, biji rambutan, biji padi, yang siap ditanam? Tanah itu bisa jadi hidup kita bersama, ada yang tandus, ada yang subur, ada yang dikelilingi semak berduri, atau seperti tanah di atas bebatuan, atau seperti tanah di pinggir jalan? Terhadap orang lain, kita dipanggil menjadi tanah yang subur agar sahabatku, bagaikan biji padi, siap bertunas, tumbuh dan berbuahkan bulir padi yang bermutu. Bagi diri sendiri, kita dipanggil untuk menjadi “biji” yang siap mati untuk ditanam, di manapun kita akan hidup. Tuhanlah yang memberi hidup dan pertumbuhan kepada biji itu…dan kitalah yang dipanggil saling merawat dan memupuk tanah kehidupan bersama.

Semoga hari esok ada banyak kejutan yang membuat hidupmu menjadi tanah yang subur bagi banyak orang! Semoga kita mau menjadi biji padi yang jatuh ke tanah dan mati, agar berlimpah buah padinya saat panen nanti.


Influenza baru H1N1, swine flu, flu babi

06/08/2009

1. Apa yang disebut dengan influenza baru H1N1?
Influenza baru H1N1 merupakan influenza (flu) yang disebabkan oleh virus influenza tipe A subtipe H1N1 baru strain Meksiko. Virus ini tidak ada kaitannya dengan virus influenza musiman yang ada selama ini (seasonal influenza).

2. Apa perbedaan influenza baru H1N1 dengan flu biasa dan flu burung?
Influenza baru H1N1 cukup berbahaya, mudah menular dan dapat menimbulkan kematian karena virus strain baru influenza H1N1 ini lebih berbahaya dibanding flu musiman seperti virus flu A H1N1, H2N1, H3N1 dan H3N2 yang biasa terdapat pada sesorang yang
menderita flu musiman. Penyebaran flu baru H1N1 telah menyebar di 99 negara dengan 55.867 kasus yang dilaporkan dan 238 kematian, sehingga Badan Kesehatan Dunia (WHO) menaikkan status kewaspadaan pandemi influenza baru A H1N1 dari fase 5 ke fase 6 yang
merupakan fase tertinggi. Mekipun angka kematiannya (Case Fatality Rate/CFR) hanya sekitar 0,5% namun flu baru H1N1 ini mudah menular. Sampai saat ini (24 Juni 2009) di Indonesia sudah dilaporkan 2 kasus positif flu H1N1 dan keduanya merupakan kasus impor
yang artinya mereka tertular dari negara lain. Sedangkan flu burung H5N1 juga sangat berbahaya karena mematikan. Angka
kematiannya lebih dari 80%. Namun saat ini di Indonesia penularan flu burung H5N1 masih sebatas dari unggas ke manusia (fase 3). Sampai saat ini belum ada penularan flu burung H5N1 antar manusia.

3. Bagaimana seseorang dapat tertular influenza baru H1N1?
Virus dapat menular dari manusia ke manusia semudah seperti flu musiman biasa yang dapat ditularkan lewat paparan percikan ludah (droplet) seorang yang terinfeksi melalui batuk atau bersin yang terhirup atau yang mencemari tangan atau permukaan benda.
Untuk mencegah terjadinya penularan, seorang yang menderita flu harus melakukan etika batuk/bersin dengan menutup mulut dan hidung ketika batuk atau bersin, bila flu berat sebaiknya tinggal di rumah sementara waktu, cuci tangan setelah beraktivitas, dan menjaga
jarak dengan orang yang sehat.

4. Apa gejala seseorang menderita flu baru H1N1?
Gejala flu baru H1N1 yang dapat sama dengan seperti flu biasa (influenza like-illnes), seperti demam (> 38oC), batuk, pilek, letih, lesu, sakit tenggorokan mungkin disertai mual, muntah dan diare, bila semakin berat akan mengakibatkan sesak napas atau napas sesak
yang menyebabkan terjadinya pneumonia yang mengakibatkan kematian.

5. Seberapa besar kita harus waspada terhadap penyebaran flu baru H1N1?
Kita perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit ini karena pada tanggal 11 Juni 2009, dunia telah dinyatakan Pandemi oleh WHO.  Sebelumnya kita mengenal flu musiman biasa menyerang berbagai lapisan masyarakat. Banyak masyarakat yang memiliki kekebalan terhadap virus flu musiman tersebut sehingga memungkinkan terbatasnya penyebaran infeksi. Namun kasus kematian akibat flu musiman di negara dengan 4 musim masih cukup tinggi (5% -15%). Sedangkan virus influenza baru A H1N1 merupakan virus strain baru (Meksiko) yang sebagian besar orang belum memiliki kekebalan atau mempunyai kekebalan yang lemah kemudian bisa lebih parah dibandingkan flu musiman. Tingkat keparahan penyakit ini mulai dari ringan sampai berat yang mengakibatkan kematian. Sebagian besar orang yang terjangkit virus tersebut mengalami sakit yang ringan dan dapat sembuh tanpa obat antiviral atau tanpa pelayanan medis. Pada kasus yang lebih parah, lebih dari separuh dirawat di rumah sakit akibat minimnya pelayanan medis, tidak tersedianya antiviral yang cukup dan sistem kekebalan yang lemah.

6. Bagimana cara untuk mencegah tertular flu baru H1N1?

  1. Biasakan cuci tangan memakai sabun dengan air bersih sesering mungkin. Jagalah kebersihan diri dan lingkungan di sekitar Anda.
  2. Etika batuk/bersin yaitu bila bersin atau batuk, tutup hidung dan mulut dengan tisu dan tisu dibuang di tempat sampah. Jaga jarak atau kontak dengan orang lain terutama jika terlihat sakit flu. Jangan meludah di sembarang tempat.
  3. Bila mengalami gejala flu segera ke dokter, Puskesmas, Rumah Sakit atau klinik terdekat.

7. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah menyatakan bahwa flu baru H1N1 telah
mencapai fase 6 dalam kewaspadaan pandemi, apa yang perlu Anda lakukan untuk
mencegah tertular flu baru H1N1?

  1. Hindari kontak dengan orang yang yang berasal atau baru bepergian dari negaraterjangkit (lihat informasi negara yang terjangkit flu ini yang dikeluarkan oleh WHO).
  2. Apabila sangat diperlukan harus bepergian ke negara terjangkit, lakukan tindakan pencegah yang diperlukan seperti cuci tangan sesering mungkin, menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar, hindari kontak dengan orang yang sedang flu, dan menggunakan masker yang telah direkomendasikan oleh Pejabat Berwenang Kesehatan setempat.
  3. Bila menderita flu, segeralah periksa ke klinik terdekat, dokter praktek, Puskesmas, atau Rumah Sakit. Sehingga semakin cepat diperiksa kesehatannya akan semakin cepat mendapatkan pelayanan kesehatan.

8. Apakah di Indonesia sudah ada yang terjangkit flu baru H1N1 (strain Meksiko)?
Sampai saat ini di Indonesia sudah dilaporkan adanya 2 (dua) penderita flu baru H1N1. Menkes Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) pada hari Rabu, 24 Juni telah menyatakan bahwa dua kasus positif Influenza A H1N1 tersebut merupakan kasus impor, artinya mereka
tertular dari negara lain. Mereka itu adalah WA (Pria, 37 tahun), warga negara Indonesia (WNI), pekerjaan pilot. Sebelum sakit, WA pada tanggal 14 Juni 2009 terbang ke Perth, Australia dan kemudian tanggal 18 Juni 2009 pergi ke Hongkong. Pada tanggal 19 Juni
2009 yang lalu, WA masuk RS Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso dengan keluhan demam. Kondisi kesehatan pasien membaik dan saat ini masih diisolasi di rumah sakit tersebut. Kasus kedua adalah BM (wanita, 22 tahun), warga negara Inggris, tinggal di Melbourne
Australia. Ia berkunjung ke Bali tanggal 19 Juni 2009. Tanggal 20 Juni 2009 BM merasa panas dan batuk. Kemudian berobat ke rumah sakit dengan membawa Health Alert Card yang didapat dari Bandara Ngurah Rai dan langsung dirujuk ke RSUP Sanglah Denpasar.
Kondisi pasien saat ini baik dan masih diisolasi di rumah sakit tersebut. Departemen Kesehatan telah menetapkan langkah-langkah untuk mengatasi penyakit yang sudah merebak di 99 negara di dunia, dengan:

  1. Meningkatkan kewaspadaan di seluruh jajaran kesehatan serta mengirimkan Surat Edaran baru dari Menkes dan Dirjen P2PL yang menyatakan adanya kasus influenza H1N1 baru di Bali dan Jakarta.
  2. Meningkatkan aktivitas semua fasilitas kesehatan di RS, KKP, Laboratorium dan sarana kesehatan lainnya.
  3. Meningkatkan kesiapan logistik serta kemampuan SDM.
  4. Meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi kepada masyarakat (Jumpa Pers, Iklan Layanan Masyarakat, Talkshow di Radio dan Televisi, Poster dan Leaflet) .
  5. Masyarakat dapat menghubungi Posko Kejadian Luar Biasa (KLB) : Telp. (021) 4257125; Fax : (021) 42877588 ; Email : poskoklbp2pl@yahoo.com ; Call Center: (021) 30413700; Website Depkes :www.depkes.go.id dan www.penyakitmenular.info

9. Apakah sudah ada obat atau vaksin yang ampuh untuk flu baru H1N1?
Sampai saat ini belum ada vaksin yang ampuh untuk mencegahanya. Obat antiviral yang masih efektif untuk pengobatan adalah Oseltamifir (Tamiflu), dengan catatan segera mendapatkan pengobatan setelah merasa sakit flu.


Prosedur Ganti Nama

14/07/2009

Prosedur ganti nama
Karena Akta Kelahiran merupakan dokumen hukum, maka perubahannya pun harus melalui penetapan Pengadilan Negeri seperti tertulis dalam Pasal 52 UU No. 23 Th. 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Berikut penjelasan Kepala Bidang Pencatatan Sipil Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, Sudhar Indopa, mengenai prosedur ganti nama.

1. Orangtua (bagi anak di bawah 17 tahun) atau si anak sendiri (bila sudah 17 tahun ke atas) harus mengajukan permohonan ke Panitia Perdata Pengadilan Negeri setempat (sesuai domisilinya) dengan menyebutkan alasan penggantian nama tersebut.
2. Menyertakan dokumen berupa KTP suami-istri, Kartu Keluarga, Akta Perkawinan, dan Akta Kelahiran anak yang ingin diubah namanya. Untuk anak 17 tahun ke atas, cukup menyertakan KTP, KK, dan Akta Kelahiran.
3. Setelah menjalani proses persidangan dengan membawa saksi-saksi (biasanya minimal 2 orang) dan melengkapi bukti-bukti yang diperlukan, Pengadilan Negeri akan mengeluarkan amar keputusan.
4. Berdasarkan amar keputusan yang dikeluarkan Pengadilan Negeri tadi, di balik lembar Akta Kelahiran akan dibuatkan Catatan Pinggir yang memuat keterangan mengenai perubahan nama tersebut.
5. Berdasarkan amar keputusan itu pula, Pengadilan Negeri akan memerintahkan Kantor Catatan Sipil tempat Akta Kelahiran tersebut diterbitkan untuk mencatat perubahan nama tersebut. Jadi, kalau yang bersangkutan lahir di Aceh, contohnya, sementara ia kini berdomisili di Jatinegara, Jakarta Timur, maka ia tidak perlu repot-repot mengurus ganti nama di Pengadilan Negeri Aceh, melainkan cukup di Pengadilan Negeri Jakarta Timur.


70 Persen Perokok, Menengah Bawah

13/07/2009

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/07/01/ 03481187/ 70.persen. .perokok. menengah. bawah

Rokok

70 Persen Perokok Menengah Bawah

Rabu, 1 Juli 2009 | 03:48 WIBJakarta, Kompas – Saat ini lebih dari 70 persen dari 60 juta perokok di Indonesia adalah mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.
“Ada lingkaran setan antara merokok, kemiskinan, malanutrisi, dan kebodohan. Anak-anak juga menjadi korban. Rokok itu pintu gerbang kehancuran bangsa,” kata mantan Menteri Kesehatan Prof Farid Anfasa Moeloek saat peluncuran buku berjudul Tembakau: Ancaman Global di Jakarta, Selasa (30/6).
Buku yang diterjemahkan dari karya John Crofton dan David Simpson ini disunting oleh Muherman Hasan, dokter ahli paru- paru. John Crofton adalah tutor dari Muherman Hasan selama 20 tahun untuk upaya pemberantasan tuberkulosis (TB).
Kini konsumsi rokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia setelah China dan India. Semula Indonesia nomor lima. Tidak heran jika lebih dari 60 juta orang membelanjakan uangnya untuk membeli rokok. Mereka rata-rata menghabiskan 11 batang rokok per hari.
Secara nasional belanja bulanan untuk rokok pada keluarga perokok menempati urutan terbesar kedua (9 persen) setelah beras (12 persen).
Yang lebih memprihatinkan, dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006, kelompok keluarga miskin terbukti mempunyai proporsi belanja rokok yang lebih besar (12 persen) daripada kelompok terkaya yang hanya 7 persen.
“Belanja bulanan rokok pada keluarga miskin tahun 2006 setara dengan 15 kali biaya pendidikan dan sembilan kali biaya kesehatan. Jumlah tersebut setara dengan 17 kali pengeluaran untuk daging, dua kali lipat untuk membeli ikan, serta lima kali lipat untuk beli susu dan telur,”kata Tulus Abadi, anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).
Survei tahun 1999-2003 pada lebih dari 175.000 keluarga miskin di perkotaan menunjukkan, tiga dari empat kepala keluarga (78,8 persen) adalah perokok aktif. Belanja mingguan membeli rokok menempati peringkat tertinggi (22 persen), jauh lebih besar daripada pengeluaran makanan pokok beras (19 persen). Sementara itu, pengeluaran untuk telur hanya 3 persen dan ikan hanya 4 persen.
Perilaku merokok kepala rumah tangga berhubungan erat dengan gizi buruk, yaitu prevalensi anak sangat kurus, berat badan rendah, dan anak sangat pendek.
“Studi sejenis pada 2000-2003 pada lebih dari 360.000 rumah tangga miskin di perkotaan dan pedesaan membuktikan kematian bayi dan anak balita lebih tinggi pada keluarga yang orangtuanya merokok daripada yang tak merokok,” ujar Tulus. (LOK)


Merpati tak pernah (tak) ingkar janji

13/07/2009

Ada film, novel dan lagu yang berjudul “Merpati tak pernah ingkar janji”. Merpati ini memang melambangkan ‘kesetiaan’, komitmen!!!

Tetapi penglaman saya dengan “Merpati” yang satu ini, sungguh berbeda.

Begini ceritanya.

Lewat adik saya di WITA-TOUR, saya membeli tiket penerbangan Surabaya-Manokwari dan Manokwari-Sorong. Tiket ini saya beli jauh-2 hari sebelumnya dengan maksud agar perjalanan nyaman dan tepat waktu. Ketika hari ‘H” tiba, saya berangkat ke bandara Juanda, lalu check-in dan masuk dalam ruang-tunggu. Awalnya semua tampak lancar. Namun ketika jam menunjukkan pukul 23.00, tidak ada tanda-tanda apapun, padahal itu adalah jam keberangkatan sesuai dgn yg tercantum dalam tiket. Lalu ada pengumuman, penerbangan ditunda 1 jam. Satu jam berlalu, kemudian ada pengumuman lagi, penerbangan dibatalkan karena alasan teknis. Hanya itu saja pengumuman yang terdengan dari pengeras suara. Maka tak ayal lagi banyak penumpang berkerumun di meja petugas utk meminta penjelasan, suasana menjadi ribut dan hiruk pikuk. Seharusnya diberikan pengumuman dengan jelas, misalnya penumpang diberi penginapan, ditunda utk penerbangan berikutnya, atau tiket dikembalikan dan diberi kompensasi, atau apasajalah yang menenangkan penumpang, bukan dibiarkan begitu saja sehingga terjadi keributan. Kasihan juga petugas darat merpati dikeroyok banyak penumpang! Setelah situasi agak reda, giliran saya yg bertanya pada petugas, “Mas mas, siapa bos-nya di sini, tolong antarkan saya pada beliau, saya mau tanya, mengapa terjadi seperti ini, dan saya yakin Masnya kan tidak tahu dan tidak salah, jadi antarkan saya pada boss anda”. Ehh responnya positif, saya diajak keluar utk ditemukan pada bossnya, ..,…dalam perjalanan saya ngobrol dgn Mas petugas itu, “kenapa sih pengumumannya kok cuma ..dibatalkan begitu saja …” dia menjawab lha memang begitu yg dia dapatkan, dan masih menunggu kepastian ‘hotel/penginapannya”…lalu saya katakan “lha itu yg penting, harus disampaikan kepada penumpang kalau memang harus menunggu..”…lalu saya putuskan utk tidak jadi menemui boss-nya, kita kembali saja, menunggu.

Ketika kembali ke ruang tunggu, ehhhh ada pengumuman lagi, “dipersilahkan naik ke pesawat udara, penerbangan ke Manokwari tidak jadi dibatalkan, kita mendapatkan ijin utk terbang”, jam menunjukkan pukul 00.30. Maka berbondong-bondong penumpang yg masih setia, utk naik pesawat, sebagian lagi sudah ngacir meninggalkan bandara, pulang atau entah kemana.

Kira-kira setengah jam dalam pesawat yang panas bukan main (AC tak hidup), semua penumpang gelisah, pesawat tak bergerak, dan akhirnya ada pengumuman, “penumpang dipersilahkan turun, pesawat tak dapat terbang”. Wow ….amazing ..man.
Kami semua kembali turun ke ruang tunggu, dan diumumkan bahwa penerbangan ke Manokwari ditunda dua hari lagi. Sekali lagi dua hari (DUA HARI) saudara-saudara. Dipersilahkan mengambil bagasi dan menuju hotel yang telah disediakan.

Maka setengah mengemis dan memasang tampang memelas, saya mohon utk dipindah ke penerbangan lain, dan menurut petugas darat saya diminta kembali ke bandara pukul 05.00 pagi. Setelah tidur sebentar di hotel, maka kam 05.00 saya sudah berada di bandara kembali, dan menemui petugas. Dan Alhamdulillah, saya dapat tiket pesawat lain pagi itu, yaitu pesawat “express air’, tanpa dipungut biaya apapun, thanks banget Merpati, walau saya tertunda sehari.

Singkat kata, acara di Manokwari sukses walau harus sedikit ‘akrobat’ dgn jadwal. Nah, giliran terbang ke Sorong nih. Ketika tiba di manokwari saya segera konfirmasi tiket saya ke Sorong, dan dijawab merpati status OK, ini terjadi hari Senin. Dan jadwal saya ke Sorong hari Jumat. Pada hari Kamis sore, iseng-2 saja saya mampir ke kantor merpati, menanyakan lagi status tiket saya, bagai disambar petir saya terima berita bahwa “besok tidak ada pesawat ke Sorong”, kata petugas, “kenapa?” tanya saya,” memang di jadwalnya tidak ada, uang tiket dapat dikembalikan dan dipersilahkan mencari sendiri penerbangan pengganti”
WOWWWW…. ini dia nih, terjadi juga hal-2 yg saya khawatirkan. Bayangkan saudara-saudara, uang dikembalikan sebesar yang tertera di tiket, dan diminta mencari penerbangan pengganti sendiri. Atau kalau masih beruntung bisa ikut penerbangan merpati berikutnya di hari minggu (artinya dua hari lagi). Saya tidak mau beradu argumen, sudah jelas masalahnya bahwa merpati sudah angkat tangan, maka dengan senyum manis dan ramah saya minta uang saya sebesar 670ribu, dan kemudian mencari tiket lain yaitu “express air”, seharga 1,2jt, beruntung saya dapat ‘katut’ di express air, maklum lewat jalur amat khusus yaitu jalur ‘intel’ (thanks to aparat intel Manokwari, thanks buat Mr. X yang ganteng dan gondrong padahal polisi, yg mengantarkan saya kemana-mana dgn rush or innova hitam). Saya naik express-air hanya berbekal boarding-pass, tanpa tiket, entah apa jadinya jika pesawat itu lenyap, nama saya pasti tak tercantum dalam daftar, hehehhe.

Sampai di Sorong dgn selamat, dan pada hari minggu, keponakan saya yang anggota KPU itu menelpon dari bandara “Edward Osok Sorong”, “Om tolong jemput saya ya, saya dari manokwari mau ke jakarta pakai Merpati, tapi pesawatnya olinya bocor, jadi tidak bisa terbang, tadi landingnya kasar sekali, pesawat ditunda senin katanya”. walah …. itu kan pesawat yang ditawarkan kepada saya tempo hari, ternyata bermasalah juga. Lalu saya tancap gas Kuda Mitsubishi hitam ke bandara, dan kita tertawa ngakak bersama, akhirnya besok senin kita berangkat bareng, saya ke SBY dia ke JKT, tapi saya naik express-air, dan dia naik ‘Merpati”. Sempat bertemu ketika transit di makasar, dua hari berikutnya kita bertemu di jogja, dorong-2 karimun biru yg mogok kerena tali alternator putus.

Ketika di Manokwari, saya diberitahu oleh teman-2 yang sering mondar-mandir naik pesawat, pesannya adalah, “jangan naik merpati, letakkan merpati pada pilihan terakhir, karena merpati seringkali ingkar janji”. dan ternyata memang benar apa kata teman-teman saya tersebut.

Cerita masih berlanjut.

Di Surabaya, setelah membereskan acara ‘bedol-desa’, alias pindah rumah dari Jogja ke Surabaya, adik saya yang sedang bertugas di Malang memberitahu saya, mau mampir ke rumah, dan menginap, karena akan ke Sorong pada hari Senin pakai merpati. NAIK MERPATI? walah …walah timbul kekhawatiran saya. Singkat kata, adik saya itu nyangkut di makasar sehari, pesawat rusak katanya.

Masih ada cerita yang terselip lho.

Waktu di Manokwari, sehari setelah saya tiba, keesokan harinya teman saya (Rektor Unipa) juga nyangkut di Makasar, naik merpati juga, hal itu membuat acara teman saya juga berantakan.

–ooOoo–

Itu secuil kisah saya bersama Merpati. Mungkin ada baiknya jika pihak Merpati mulai mengevaluasi diri, dan menetapkan langkah-langkah kongkrit untuk meningkatkan performancenya. Bagaimanapun transportasi di papua banyak mengandalkan penerbangan.

Selain itu utk pemerintah (daerah?), kiranya baik kalau ijin penerbangan juga diberikan dengan mudah ke berbagai maskapai penerbangan lain, sehingga akan banyak alternatif, dan dapat menurunkan harga, serta pada gilirannya kelak dapat memajukan tanah Papua (ini tanah tempat saya dibesarkan lho). Juga, saya kira baik sekali kalau mulai dipikirkan pembuatan infrastruktur (misalnya jaringan jalan raya) antar kabupaten di Papua.

Dan akhirnya buat saudara-saudara saya di Papua, baik di pemda atau non-pemda, tetaplah semangat dan selalu meningkatkan kinerja anda dengan meletakkan kepentingan umum (masyarakat luas) di atas kepentingan pribadi atau golongan demi memajukan tanah Papua.

Bravo Papua.

Amoke.


Obat tradisional yang ditarik dari peredaran

04/06/2009

KAMIS, 4 JUNI 2009 | 16:01 WIB
KOMPAS.com — Berikut merek-merek obat tradisional yang mengandung bahan kimia obat berbahaya :
A. Obat Pelangsing
1. Qianjiali Kapsul Pelangsing produksi Beijing Medi-Tech Development Co Ltd dengan importir PT True Man Segar Jakarta (mengandung sibutramin hidroklorida, izin edar dibatalkan).
2. Lasmi Kapsul produksi PJ Herbalindo SM (mengandung sibutramin hidroklorida, izin edar dibatalkan).
3. Sera Kapsul produksi PJ Herbalindo SM (mengandung sibutramin hidroklorida, izin edar dibatalkan).
4. Sulami Kapsul produksi PJ Herbalindo SM (mengandung sibutramin hidroklorida, izin edar dibatalkan).
5. Li Da Dai Dai Hua Jiao Kapsul produksi Kunming Dali Industri & Trade Co Ltd (mengandung sibutramin hidroklorida, tidak terdaftar).
6. New Pro Slim Kapsul produksi the Trird Pharm Manufactory Harbin China (mengandung sibutramin hidroklorida, tidak terdaftar).

B. Penambah Stamina Pria
1. New Idola Kapsul produksi PT Pyridina Farma Cianjur (mengandung tadalafil, izin edar dibatalkan).
2. Ratax Kapsul produksi PT Pyridina Farma Cianjur (mengandung tadalafil, izin edar dibatalkan).
3. Sahe Hiki Kapsul produksi PT Sumber Waras Perkasa Cianjur (mengandung sildenafil sitrat, izin edar dibatalkan).
4. King Cobra 10X Lebih Kuat Serbuk produksi PJ Cobra Ayu Makassar (mengandung sildenafil sitrat, nomor izin edar fiktif).
5. Suwe-Xi kapsul produksi PJ Kaki Langit Jawa Tengah (mengandung sildenafil sitrat, nomor izin edar fiktif).
6. Tang Pe Fu Serbuk produksi PJ Alami Makassar (mengandung sildenafil sitrat, nomor izin edar fiktif).
7. Purwoceng Serbuk produksi PJ Sidowaras (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).
8. Tangkur Buaya Super Kapsul produksi PD Meringis Sehat Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
9. World Quick Strong Kapsul produksi World (Tianjin) Nutrition & Health Food Co Ltd/PT Woo Tekh Indonesia (mengandung tadalafil, tidak terdaftar).

C. Obat Tradisional Lain
1. Yin Chiao Tablet produksi Cengde Trad. Chinese Medicine Factory/PT Tjahaja Baru Surabaya (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
2. Zhongganling Pian Tablet produksi Guangdong Jiaying Pharm Co Ltd/PT Intra Aries Jakarta (mengandung metampiron, izin edar dibatalkan).
3. Zhong Gan Ling Pian Tablet produksi Heping Pharmaceutical Factory Guangdong Cina/PT Sinar Herba Radix Jakarta (mengandung metampiron, izin edar dibatalkan).
4. Wan Tong Pegal Linu Kapsul produksi PJ Herbalindo SM (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
5. Wan Tong Pegal Linu Rheumatik produksi PJ Herbalindo SM (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
6. Pegal Linu Cap Putri Sakti Cairan Obat Dalam produksi H Moh Khusni Banyuwangi (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
7. Salurat Putri Sakti Cairan Obat Dalam produksi H. Moh. Khusni Banyuwangi (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
8. Jaya Asli Anrat Serbuk produksi PJ Jaya Asli Cilacap (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
9. Akar Dewi Putri Multi Khasiat Serbuk produksi CV Laser Group (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
10. Pamong Raga Pegel Linu Serbuk produksi IKOT Kopja Aneka Sari Unit I Cilacap (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
11. Pegal Linu Kalimajaya Serbuk produksi Drs H Moh Nur Hidayat, Kopja Aneka Sari Unit IX Sifaul Mustajab Cilacap (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
12. Pegalinu No 2 Serbuk produksi PJ Cipta Rasa (mengandung fenilbutason, izin edar dibatalkan).
13. Randa Linu (Asam Urat) Serbuk produksi Kopja Aneka Sari Unit III/PJ Gunung Sugih Cilacap (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
14. Sari Buana Serbuk produksi Kopja Aneka Sari Unit VII (mengandung parasetamol, izin edar dibatalkan).
15. Turrat Serbuk produksi Serbuk produksi IJ Sinar Mujarab Mojokerto (mengandung, parasetamol, izin edar dibatalkan).
16. Darah Tinggi Serbuk produksi CV Sinar Mujarab Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
17. Gatal Eksim Serbuk produksi PJ Sinar Mujarab Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
18. Sehat Boyok Sakit Pinggang Serbuk produksi CV Sinar Mujarab Mojokerto (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
19. Sekalor Serbuk produksi CV Sinar Mujarab Jawa Timur (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
20. Untabat (Batuk Pilek) Serbuk produksi CV Sinar Mujarab Mojokerto (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
21. Arum Jaya Gemuk Sehat Serbuk produksi PJ Arum Jaya Cilacap (mengandung deksametason, tidak terdaftar)
22. Asam Urat Akar Dewi Putri Serbuk produksi UD Lazer Group, Lamongan (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
23. Asam Urat cap Unta Kapsul produksi PJ Unta Mas Indonesia (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).
24. Asam Urat, Flu Tulang & Pengapuran Buah Merah Serbuk produksi PJ Buah Alam Papua, Purwokerto, (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
25. Asam Urat Nyeri Tulang Tjap Dua Daun Serbuk produksi PJ Brotowali, Solo, (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
26. Asam Urat Rheumatik Akar Sirih Serbuk produksi PJ Inti Sehat Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
27. Brantas, Obat Asam Urat Rheumatik, Nyeri Tulang Kapsul produksi PJ Ampuh Jaya, Cilacap, (mengandung parasetamol dan fenilbutason, tidak terdaftar).
28. Buah Naga, Asam Urat dan Nyeri Tulang Kapsul produksi PJ Dua Walet, Kopja Aneka Sari, Cilacap (mengandung parasetamol dan fenilbutason, tidak terdaftar).
29. Daun Dewa Kapsul produksi PJ Daun Dewa Makassar (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).
30. Dewi Bulan Capsul Sakit Gigi & Sakit Kepala Cekot-cekot Kapsul produksi PJ Songgo Geni, Tangerang (mengandung parasetamol dan asam mefenamat, tidak terdaftar).
31. Dua Walet Amrat Serbuk produksi PJ Dua Walet, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
32. Gemuk Sehat/Ideal Tirta Sehat Serbuk produksi PJ Tetap Sehat, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
33. Gemuk Sehat PJS Serbuk produksi PJ Pusaka Jaya Sakti, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
34. Gemuk Sehat SP Serbuk produksi Sehat Perkasa, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
35. Kembang Wijaya Serbuk produksi PJ Fisabillah, Cilacap (mengandung metampiron, tidak terdaftar).
36. Kencing Manis Serbuk produksi PK Tetap Sehat, Cilacap (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
37. Kuat Sehat Cap Kuda Liar Serbuk produksi RCK Jabar (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
38. New Singa Majapahit Serbuk produksi PD Lestari Wiji Dadi (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
39. Pasti Joss Tablet produksi PJ Mega Raya, Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
40. Ramuan Tradisional Remagel Serbuk produksi PJ Kasturi Dewi, Jawa Tengah (mengandung deksametason dan parasetamol, tidak terdaftar).
41. Ramuan Tradisional Sarang Semut plus Sirih Merah Tablet produksi PJ Cespleng Jaya, Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
42. Samurat Extra Serbuk produksi PJ Serbat Mustajab, Jawa Tengah (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
43. Simakit Serbuk produksi PJ Candi Wulan, Banyumas (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).
44. Temu Ginseng Plus Buah Merah Kapsul produksi PJ Sumber Utama Ginseng Indonesia (mengandung parasetamol, tidak terdaftar).
45. Walet Kembar Asam Urat Serbuk produksi PJ Kunci Sehat, Cilacap (mengandung fenilbutason, tidak terdaftar).


Pakai tissue atau air ?

29/05/2009

Maaf nih ya, mau ngomong jorok!

Sejak kecil, kalau ke belakang, saya selalu menggunakan WC model jongkok, karena adanya ya cuma jenis itu. Maka sudah terbiasa bagi saya untuk menggunakan WC jongkok dan, membilasnya pakai air. Itupun bukan model semprotan taman spt sekarang, melainkan pakai gayung dan bak air. Jadi, pembersihan dilakukan dengan menggunakan air. Bukan yang lain.

Sekarang ini, di rumah saya, ada dua WC yang satu WC jongkok yang satunya lagi WC duduk. Entah sejak kapan saya sudah lupa, kapan saya mulai pakai WC duduk. Yang jelas, sungguh sulit bagi saya berubah dari gaya jongkok ke gaya duduk. Beneran nih, suwer wer wer. Ketika pakai gaya duduk, wah …nggak bisa berlangsung dengan lancar. Bahkan dulu sering, WC model duduk, saya pakai dengan jongkok style, nangkring di atasnya, walhasil, itu WC jadi ‘uglak-uglik’ alias nyaris copot, he he he.

Perlu waktu yang sangat lama bagi saya utk mengubah style dari jongkok ke duduk. Sekarang, sudah biasa….., sudah bisa …. bisa karena biasa …begitu. Tapi ada kebiasaan yang tidak bisa saya tinggalkan, yaitu baca koran sambil nongkrong di WC. Yang ini masih berlangsung sampai sekarang.

Tapi masih ada satu masalah besar bagi saya, ketika dengan terpaksa menggunakan WC yang duduk style, dan tidak tersedia air tapi hanya tersedia tissue. Wah ini betul-betul problem besar buat saya. Bagaimana cara memakai tissue pun tidak pernah ada yang mengajari. Wis jaaaan, semprul tenan. Jadi ya makai tissue sebisa-bisanya, dan walau habis segulung, tetap saja merasa belum bersih. Aneh memang menurut saya. Bagaimana membersihkan ‘itu’ kok pakai tissue. Biasanya, saya tetap mencari air (dan sabun tentunya) walau sudah memakai tissue tadi.

Untungnya, kini di beberapa tempat ada dua pilihan, WC pakai air, atau WC pakai tissue. Di beberapa bandara sudah tersedia dua pilihan ini (luar negri maksud saya). Termasuk di kantor saya sekarang ini, sudah ada dua jenis WC. Semua boleh pilih sesuai selera. Jadi, ….sudah tidak masalah.

Saya paling takut kalau sampai ada fatwa yang mengharuskan ke WC harus pakai tissue, dan tidak tersedia alternatif pakai air.

Hmm bisa gaswat saya.
bagaimana dengan anda?


Dress Code

29/05/2009

Ouggghhhhh, mata ini tak bisa menghindar, ketika melewati sekelompok mahasiswi yang duduk-duduk di tepi taman. Kebetulan mereka duduk membelakangi jalan – di mana saya lewat -, sehingga nampak oleh saya punggung mereka yang mulus-mulus, sampai celana dalamnya- yang aneka warna – juga kelihatan, mengintip dari ujung atas celana jean. T-shirt yang dikenakan kependekan, sehingga mau tidak mau (opsss mau ding …), itu sebagian punggung dan sebagian CD nongol. “Ini mode …Om, jangan ketinggalan mode, kunoooo”, sebagian hati berbisik begitu.

Saya amati, sebagian besar, mahasiswi di sini (universitas ‘XYZ’ tidak saya sebutkan ya, japri aja kalo mo tahu) berpakaian model begitu. Celana jean, dan T-shirt ketat yg (agak) kekecilan. Sehingga body-body yang aduhai semlohay itu semakin mantap dilihat. Wow… Saya tunggu-tunggu kok belum ada ya mahasiswi yang pakai bikini ke kampus, he he heh, atau minimal pakai rok mini atau hotpant, atau tank-top atau ‘you can see everything’. Belum ada …belum nemu…. (kalau di OZ atau UK bagaimana Bu Soe Tjen?)

Belum ada penelitian, berpakaian seperti itu (jean + T-Shirt tadi) apakah akan menimbulkan gangguan poleksosbudhankamnas. Tetapi ada beberapa universitas yang menuliskan aturan cara berpakaian di kampusnya. Ini contohnya (http://library.utem.edu.my/index.php?option=com_content&task=view&id=24&Itemid=63).

Saya pernah diundang oleh perusahaan gede, dalam rangka peluncuran produknya (saya lupa Intel atau Microsoft) waktu itu. Dalam undangan disebutkan ‘dress code’ – nya, yaitu pakai pakaian tradisional. Wah …celaka tiga belas setengah nih. Betapa tidak …..masak saya harus pakai koteka? bisa ditangkap satpol pepe ntar. Saya telpon panitianya dan saya menawar, akhirnya saya datang berbaju batik! Beres dah …

–ooOOoo–

Ke TP atau ke GM, wah …cuci mata nih. Bisa lihat dan mengamati perkembangan mode di Surabaya. Yang saya harapkan tadi terlihat di kampus, sebagian bisa dilihat di sini. Berbagai macam gaya berbusana bisa ditemui di sini, tapi tetap yang berbikini tak ada bahkan tank-top pun tak kutemukan. Edan po, ke mall pakai bikini? he he hehe.

Ternyata, saya menemukan cewek-2 berpakaian seksi, tak jauh-jauh dari apartemen tempat saya tinggal. He he he … tiwas mencari kemana-mana. Jebulnya (opo iki rek?), setiap malam ketika saya pulang sekitar pukul 12.00 tengah malam, mereka baru keluar rumah he he he, seksi semua. Biasanya berpapasan di gate depan, saya masuk mereka keluar jalan kaki. FYI, apartemen saya terletak di tengah kota, dikelilingi oleh berbagai tempat hiburan malam, tak kurang dari 8 buah bar dan diskotik, yang berjarak selemparan granat dari apartemen saya.

–ooOOoo–

Bu Megawati, beberapa hari lalu mengatakan, “saya tidak akan latah memakai jilbab, saya akan menunjukkan jati diri saya sesuai dengan kemauan saya sendiri”. Nah !!! (http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/05/29/08160377/Megawati.Tak.Ingin.Latah.Berjilbab). Selama ini saya lihat, Bu Mega sudah berpakaian sopan dan bagus. Nggak pernah terlihat pakai UcanC, he he he. Sementara teman saya yang dulu di seberang meja saya si Farah (hallo ayo cepetan S3-nya, ntar disalib anak saya lho heheh), yang berjilbab itu, menurut saya juga cantik dan modis. Memang susah kalau dress-code dihubungkan dengan politik dan kampanye. Bisa kalah telak tuh pasangan Ono-Ono wae dibanding pasangan KLA-WIR. Opsss kok ngomong politik …

–ooOOoo–

Menurut saya sih, orang berpakaian itu memang untuk menunjukkan jati dirinya, untuk menegaskan siapa dia. Jangan sampai ngajar di depan kelas pakai baju yang bolong-bolong, bersandal, tidak sikat gigi lagi, wahhhh. Mestinya kan ya mandi dulu, sikat gigi, sedikit wangi (jangan berlebihan kayak bu Guru SMA 8 itu, bikin pilek), pakai baju yang rapih dan bersih. Jangan yang habis ketumpahan tinta pulpen! … harus tampil prima …supaya menarik perhatian siswa, tampil menyenangkan dan menyegarkan !

Para siswa/i (mahasiswa/i) juga begitu, harus rapi dan bersih, jangan bersandal jepit, rambut gondrong tak terurus penuh kutu dan bau. Saya pernah kaget ketika ke jogja dulu (10 tahun yg lalu), lha kok para mahasiswa tampilannya lusuh, baju dekil, sandalan, rambut gondrong. Mending kalau prestasinya bagus, jeblok lagi. wah wis jan nggilani tenan!

Kalau ke mall, pakai baju sing ketok wudel-e, ya terserahlah, tapi kalau ke kampus kayaknya kok belum sesuai, nanti mengganggu keamanan lingkungan belajar. Maklum para cowok ‘belum terbiasa’ dengan pemandangan spt itu. Prestasi mereka bisa merosot (he he he, ayo diteliti para pengamat soksial . betul nggak nih.)

Jadi, berpakaian dapat mencitrakan kita seperti apa dan harus lihat-lihat mau kemana. Kalau pakai hot-pant dan tank top kayak tetangga saya tadi, ya sudah jelaslah, wong kerjanya di bar n diskotik. Pergi ke kampus tentu harus beda dengan pergi ke mall atau ke pantai. Apalagi ke gereja, atau tempat ibadah lainnya. Teman saya yang pastor itu, mati-matian harus konsentrasi ketika membagikan hosti, kalau umatnya cewek cakep berpakaian leher rendaaahhh.

Wis, mikir DWDW, gimana kita harus berpakaian !!!


Capres – Cawapres

15/05/2009

Ini dia pasangan capres-cawapres Rekiplik Impian tahun 2009-2014

1. KLA-WIR
2. ONO-ONO
3. GAWAT-BRO

Silahkan pilih yang menguntungkan diri anda, jangan golput !

he he he jangan marah ya, ini cuma gojegan saja, menurunkan tegangan …
saya sudah tegang sejak pileg yang lalu nih ….


Lagu pemilu yang membuat pilu

14/05/2009

Sebetulnya semuanya ini diawali oleh Mubarok yang menyanyikan lagu “I started a joke”. Hal itulah yang kemudian membuat JK tersinggung dan bersenandung “Ada apaaa denganmu”. Di jawab oleh SBY dengan lagu dari grup band kesayangannya “Kapan kapan ..kita bersama lagi”.

Maka JK masih tak percaya, lalu melantunkan:
“jujurlah padaku bila kau tak lagi cinta, tinggalkanlah aku bila tak mungkin bersama, jauhi diriku, lupakanlah aku .. ..selamanya.”

Sementara itu, Mas-mas di PAN, PKB dan PKS koor bersama “Willingly I’ll be yours …”.

Tapi ternyata SBY benar-benar punya pilihan sendiri:
“aku sudah ada yang punya …”

Kontan saja PKS menyanyikan “Kucing Garong”, dan PKB “Blue …blue …my life is blue …”, dan PAN masih celingak-celinguk cari lagu yang cocok, he he he.

Tak lama berkumandanglah lagu maju “Mau tak gentar” dari kubu JK-WIN, dibawah pohon beringin yang mulai rontok daunnya diterpa lesus. Di tengah ramainya orang-2 Golkar mennyanyikan lagu anak-anak “Diobok-obok partaiku diobok-obok …..sampai anggotanya pada mabok …”

Dengan kalem sebelumnya pak Wir menyanyikan lagu sentimentil “Aku masih …seperti yang dulu ….”.

Tak ketinggalan, Prabowo Subianto melagukan “Soldier of fortune” (prajurit ra iso mati). Mencari bala kemana-mana, sampai ke kubu Bu Mega. Bu Mega sendiri sak jan-jane tidak menderita PDIP (Penurununan Daya Ingat Permanen), beliau masih ingat kudatuli. Makanya agak enggan berteman dengan Gerindra. Tapi akhirnya menyanyikan juga lagu bossas “Ingin aku …membencimu, ingin aku menjauh darimu …, namun semakin lama, aku mencobaa, kau ternyata …makin mempesona …”

Tapi ada seorang duduk sendirian di pojok sana menyanyikan lagu Bimbo “Sendiri ….kini daku sendiri lagi …”, itu Bang Yos, ora sida jadi capres.

Menjelang hari-hari terakhir pendafaran SBY terpaksa menyanyikan lagu “Pleasee .. don’t you ever go … please don’t desert me, cause I just to want yo ..so please don’t ever goooo” …

Endingnya, SBY menyanyikan lagu “we are the champion …”, unggul tipis dari JK-Win.

Dan rakyat tetep saja dangdutan :
“kau yang mulai kau yang mengakhiri kau yang berjanji kau yang mengingkari … ya nasib ya nasib …. ..”

Eh ada yang tertinggal, itu Rizal Ramli ternyata dengan gembira bernyanyi “I am single an very happy ….”.

he he he …


Wanita cantik, pengin pria kaya

07/05/2009

Seorang gadis muda n cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah
terkenal, dengan judul:

“Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?”

Saya jujur ttg apa yang saya katakan di sini. tahun ini saya berumur
25 th saya sangat cantik, mempunyai selera fashion yg bagus. saya
ingin menikahi pria dgn penghasilan min $500ribu/th. anda mungkin
berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/th hanya dianggap sebagai
kelas menengah di New York. persyaratan saya tidak tinggi. apakah ada
di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun? apa kalian semua
sudah menikah? yang saya ingin tanyakan: apa yang harus saya lakukan
untuk menikahi orang kaya seperti anda?
dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan: imana para lajang2 kaya hang out?
kisaran umur berapa yang harus saya cari? mengapa kebanyakan istri dari
orang2 kaya hanya berpenampilan standar? saya pernah bertemu dgn
beberapa wanita yang memiliki penampilan tidak menarik, tapi mereka
bisa menikahi pria kaya?
bagaimana, anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa
yang hanya bisa menjadi pacar?

ttd.
Si Cantik

Inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di Financial Wall Street:

saya telah membaca surat mu dengan semangat. saya rasa banyak gadis2
di luar sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. ijinkan saya untuk
menganalisa situasi mu sbg seorang profesional.

pendapatan tahunan saya>$500rb, sesuai syaratmu, jadi saya harap
semuanya tidak berpikir saya main2 disini. dari sisi seorang bisnis,
merupakan keputusan salah untuk menikahimu. jawabannya mudah saja,
saya coba jelaskan, coba tempatkan “kecantikan” dan “uang” bersisian,
dimana anda mencoba menukar kecantikan dgn uang: pihak A menyediakan
kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk akal. tapi
ada masalah disini, kecantikan anda akan menghilang, tapi uang saya
tidak akan hilang tanpa ada alasan yang bagus. faktanya, pendapatan
saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan
bertambah cantik tahun demi tahun.

Karena itu, dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan
meningkat, dan anda adalah aset yang akan menyusut. bukan hanya
penyusutan normal, tapi penyusutan eksponensial.

jika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat
mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. dari aturan yg kita gunakan di
Wall Street, setiap pertukaran memiliki posisi, kencan dengan anda
juga merupakan posisi tukar. jika nilai tukar turun, kita akan
menjualnya dan adalah ide buruk untuk menyimpan dalam jangka lama,
seperti pernikahan yang anda inginkan. mungkin terdengar kasar, tapi
untuk membuat keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai depresiasi
besar akan di jual atau “disewakan.. ” siapa saja dengan penghasilan
tahunan $500rb, bukan orang bodoh, kami hanya berkencan dengan anda,
tapi tidak akan menikahi anda.

Saya menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi
orang kaya. lebih baik anda menjadikan diri anda orang kaya dengan
pendapatan $500rb/tahun. ini kesempatan lebih bagus daripada mencari
orang kaya bodoh. mudah2an balasan ini dapat membantu. Jika anda
tertarik untuk servis “sewa pinjam,” hubungi saya.

ttd,
carlo


Aji mumpung !

03/05/2009

Judul ini pasti kurang sesuai dengan isi tulisan ini. He he he .. kok bisa ya? lihat eh baca saja …

Rani, si kambing hitam, waduh …. kasihan cantik-cantik kok dikatakan kambing, hitam lagi. Dia ini mahasiswi dari STMIK Raharja yang menggemparkan berita di tanah air Indonesia. Popularitasnya nyaris menyamai para tokoh parpol yang sedang pusing dua puluh tujuh setengah keliling.

Tadinya sih, si mahasiswi ini hanya dikenal sebatas lingkungan orang-2 penggemar kegiatan memasukkan bola ke lubang yang diameternya 10 cm lebih dikit di seputar modern-land sana. Namanya jadi terkenal setelah Pak Nasrudin tewas tertembak, dan Pak Antasari Ashar terseret dalam kasus tersebut. Dan si mbak Rani ini konon terkait dengan kedua orang besar ini.

–ooOoo–

STMIK Raharja, tempat kuliah Mbak Rani, barusan saya cek di www.evaluasi.or.id , jumlah mahasiswanya 855 orang, sekarang berkurang satu karena dipecat. Sebelumnya saya memang tidak pernah mendengar ada STMIK Raharja, kalau Gunadarma atau Binus tentu saya kenal dengan baik. Informasi yang ada sebatas yang ada di situsnya saja (www.raharja.ac.id) , …. hmm apa benar situs itu ya.

Ada hal yang menarik, ketika kasus Mbak Rani ini mencuat, yaitu STMIK Raharja ini langsung memecat Mbak Rani setelah diketahui tidak aktif kuliah selama dua bulan (berita TV-ONE). Kenapa menarik? karena, STIMIK ini luar biasa peraturannya (?), ada mahasiswa tidak aktif dua bulan saja langsung dipecat (entah dgn hormat atau tidak). Di beberapa PT lain yang saya ketahui, keaktifan mahasiswa ditentukan awalnya dari registrasi di awal semester, sehinggal selama dalam semester tersebut si mahasiswa terdaftar. Entah masuk atau mbolos, statusnya tetap terdaftar. Kalau banyak bolos (misalnya lebih dari 25%) maka konsekwensinya biasanya tidak boleh ikut UAS, bukan dipecat. Nah, bila tiba saatnya semester baru, si mahasiswa harus daftar ulang, kalau tidak mendaftar maka statusnya ya tidak terdaftar pada semester tersebut. Berikutnya bisa ada peraturan lanjutan, misalnya bila dua kali berturut-turut si mahasiswa tidak daftar-ulang maka dianggap mengundurkan diri, misalnya begitu. Jadi menurut saya bila baru dua bulan tidak hadir lalu dipecat, maka sangsi itu terlalu keras. Apalagi belum diketahui kesalahannya (mestinya pakai asas praduga tak bersalah). Belum tentu dia pembunuhnya, salah apa dia? kawin siri? wah itu bukan kejahatan, banyak orang kawin ketika kuliah dan boleh-boleh saja.

Nah, jadi, judul tulisan ini memang tak sesuai isinya bukan?


Buah jatuh tak jauh dari pohonnya

02/05/2009

Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Kemudian jika buah tersebut tumbuh menjadi pohon baru, di bawah pohon induknya, apakah bisa sebesar induknya? Bahkan suatu saat nanti, ketika pohon induk mati, dia dapat menggantikan pohon induknya?

Tanaman atau pohon perlu sinar matahari untuk bertumbuhkembang dengan baik. Kalau dia terlindungi atau terhalangi, sehingga tidak diterpa sinar matahari maka tentu pertumbuhannya akan terganggu. Apalagi kalau induknya tidak mati-mati, maka ketinggian sang anak juga akan mentok terkena cabang-2 atau ranting-2 sang induk. Dan akar merekapun bisa-bisa berebutan makanan sendiri.

Bagusnya kalau si anak ditumbuhkan di lokasi yang (agak) jauh dari induknya, di lahan yang kondusif untuknya, tingkat keasaman yang sesuai dengan speciesnya, dan lain-lain variabel internal dan eksternal.

Tapi bagaimana bisa, si buah jatuh (agak) jauh dari pohonnya?
Tentu harus ada faktor eksternal yang berperan, misalnya terkena angin kencang, ada gempa bumi, atau di bawa oleh makhluk hidup lain misalnya burung atau bahkan campur tangan manusia.

..ooOOoo..

Bayi hewan, kalau kita amati, pasti tingkahnya lucu-lucu, misalnya bayi kucing, bayi anjing atau bayi harimau dll. Bayi-bayi itu bergerak dan bermain dengan lincahnya biasanya juga bersama dengan induknya. (silahkan nonton di beberapa channel TV, atau ASTRO atau yang lain). Mereka bermain bukan tanpa maksud, melainkan berlatih fisik agar kelak mampu berdikari. Dan ketika sudah mulai kuat, maka diajari untuk mencari makan, berburu mencari mangsa bagi yang carnivora. Alamiah. Itulah hebatnya sistem daur ulang kehidupan. Itulah hebatnya Sang Pencipta.

..ooOOoo..

Hmmm, mau ngomong apa sih artikel ini? kok cerita soal beginian?
He he he, sederhana saja, itu lho, saya amati banyak sekali para politikus mengajak anaknya untuk ikut jadi politikus, coba deh hitung sendiri, ada berapa, siapa saja? jangan cuma lihat anak SBY atau anak MSP atau anak AR lho, cari sampai tingkat anggota DPR! nah, kalau sudah anda temukan, silahkan evaluasi sendiri. Apakah mereka benar-2 ‘cocok’ masuk ke bidang itu, bahkan ada yang digosipkan mau dijadikan cawapres segala! Wuihhhh, saya iri lho!

..ooOOoo…

SSSSttttt, ini bisik-2 saja, bapak saya dulu, sampai tiga kali masa jabatan lho jadi anggota DPR. Tapi kok saya tidak jadi politikus ya? jangankan jadi politikus, diajak omong soal politik saja nggak pernah, he he he. Mungkin almarhum bapak saya itu tahu, saya tidak berbakat. Bakat saya justru main sinetron. (beneran lho saya pernah main produksi Indosiar). Hmmm tapi kan sekarang lagi musim artis jadi anggota DPR.

weeeiitttssss pusing saya.