Sindrom Menelan Gunung

19/08/2009

Seorang kawan lama tiba-tiba datang ke rumah, pada sore yang berhias langit jernih. Mengenakan pakaian kausal dan bercelana pendek, senyum­nya masih selebar dulu. Yang berubah, body-nya tak seindah dulu lagi; lemak mengendap di balik lapisan kulit dan perutnya. Saya tidak bisa memastikan sebabnya. Mungkin karena kecintaannya pada kuliner yang memang dahsyat. Tapi barang­kali karena kemakmuran…

Setelah larut dalam nostalgia yang bertabur tawa renyah, tiba tiba dia mengeluh, “Sobat, hidupku sudah tidak berguna lagi…”
Saya tertegun. Kalau menyimak caranya berkelakar dan peningkatan signifikan pada taraf kemakmurannya, semua terlihat baik-baik saja. Tapi memang ada satu hal yang selalu ditakuti­nya. Jawabannya datang tidak lama.

“Aku baru pulang dari Jogja, check up.”
“Lho, bukannya rumah sakit di Jakarta lebih Ok?” ujar saya bingung.
“Bukan check up di rumah sakit, tapi di angkringan,” jawab beliau pendek.

Angkringan, adalah warung makan kelas ekonomi khas Jogjakarta. Bertebaran hampir di seluruh pinggir jalan, ujung gang, dan sudut-sudut gelap seantero kota budaya itu, angkringan menyajikan menu khas: ceker bakar dan nasi kucing. Disebut begitu karena materinya cuma sekepal nasi dengan lauk sambal teri, tumis tempe, atau bakmi goreng yang dibungkus daun pisang. Mirip menu buat si meong.

Lebih eksotis lagi jika sebungkus nasi kucing itu disantap dengan lauk ceker ayam potong yang dibacem. Sebelum menjadi lawan nasi, ceker bacem nan legit itu dibakar dulu di atas tungku arang. Bunyi gemeretak dan aroma lemak hangus yang menguar memang sangat mengundang selera.
Kawan kita ini, dulu sewaktu masih menjadi reporter sebuah digest Islami, adalah pemuja angkringan. “Aku sudah berkeliling Nusantara dan selalu mencicipi makanan terbaik yang ada di setiap kota. Tapi ceker bakar angkringan Jogja tetap yang nomor satu!” Demikian ia memproklamasikan konklusi kulinernya. So? “Aku tidak bisa merasakan kelezatan ceker bakar seperti dulu lagi,” ia bergumam sedih.

Jamaah Taushiyah Online yang dimuliakan Allah…

Apakah sebenarnya yang kita cari di dunia ini? Sejak lepas subuh hingga jelang maghrib (bahkan lebih banyak lagi yang membutuhkan waktu hingga jauh melewati isya) dalam barisan manakah kita berada? Alih-alih berada di barisan “para pencari Tuhan”, sebagian besar, bahkan hampir semua dari kita bergegap gempita dalam dalam barisan “para pencari dunia”. Saya tidak malu mengakui­nya.

Hari demi hari berlalu, dan kesibukan memburu rizki duniawi itu seolah tidak berjeda. Lalu apa yang kita dapat? Mari kita telisik lagi rekam jejak perjalanan hidup kita. Saya memastikan, di masa lalu kita begitu banyak hal-hal sepele yang mampu menghadirkan kebahagiaan tak terkira. Anda yang berasal dari dusun yang murni, masihkah bisa merasakan bahagianya berenang-renang di sungai yang airnya berkilau jernih? Ingatkah kita bahwa belajar naik sepeda dan menerbangkan layang-layang pada masa kecil dulu demikian berharga sehingga kalau mungkin, 24 jam kita habiskan saja untuk kesenangan yang bentuknya sangat sederhana itu. Bahkan, waktu itu saya mau menukar apa saja seluruh isi dunia ini dengan waktu berenang di kali, naik sepeda, dan menerbangkan layangan.

Lalu mari kita uji, apakah hal-hal “sepele” itu masih mampu membuat hati kita bahagia? Apakah perubahan karir, kedudukan, taraf ekonomi, pergaulan, dan semua yang dengan susah payah kita perjuangkan mati-matian ini bisa menghadirkan kebahagiaan serupa?

Sahabat saya yang lain baru pulang dari penjelajahan singkat di Borneo. Dia bercerita dengan sangat geram tentang tentang eksploitasi alam yang “gila-gilaan” dan benar-benar menghancurkan keseimbangan alam. Apa yang diburu mahluk Allah yang cerdas ini dengan menghancurkan mahluk lain yang mestinya dikelolanya dengan bijak sebagai khalifatullah?

Saya jadi teringat seorang preman yang biasa mangkal di kawasan Senen. Di dunianya yang keras, entah berapa kali peristiwa mengerikan menimpanya. Itu bukan omong kosong; dia akan dengan senang hati berkisah tentang sebab pitak-pitak di kepalanya yang permanen: “Dulu, waktu musim petrus (penembak misterius), aku ditangkap sekelompok orang bersenjata. Aku melawan, dan kepalaku dihujani bayonet. Jadinya ya pitak-pitak begini.”

“Abang hebat ya…, belajar kesaktian di mana?”
“Oh, Dik, Abang bukan sakti, Cuma beruntung saja tidak mati-mati. Tak usah belajar macam-macam pun, manusia seperti kita ini memang dibekali kesaktian yang tiada tandingan. Coba Adik pikir, jangankan sepiring nasi, bahkan gunung pun sanggup kita telan bukan?” ujar Sang Preman berfilsafat.
Ucapan dia itu menjustifikasi sabda Rasulullah betapa keserakahan manusia nyaris tidak ada batasnya, “Seandainya anak Adam memiliki dua lembah yang dipenuhi harta kekayaan, dia pasti menginginkan lembah yang ketiga” (HR Tirmidzi dari Ibnu Abbas).

Mengapa tidak berbatas? Sebab keserakahan itu adiktif. Sedangkan ciri khas kecanduan adalah kebutuhan akan dosis yang lebih besar lagi, lagi, lagi… Kalau kita sudah terbiasa menyantap hutan, gunung, dan meminum samudera raya. Jangan harap bisa terpuaskan oleh sepotong cakar ayam dan segelas teh jahe hangat dalam suasana egaliter.

Makanya, Tuhan kita mewajibkan ummatNya menjalani simulasi perang melawan keserakahan selama satu bulan penuh setiap tahun. Kita diwajibkan merasakan kembali kelaparan sepanjang hari dan betapa nikmat makanan paling sederhana kala berbuka puasa. Kita diingatkan pada kodrat kita dengan timbulnya gejala psikologis saat berpuasa yang saya namakan saja “sindrom menelan gunung”.

Mari kita uji diri kita sendiri (dan tidak usah malu melakukan hal ini, karena hanya Anda dan Tuhan yang tahu). Di tengah sengatan terik mentari, didera lapar dan dahaga di tengah waktu berpuasa, bayangkan jenis dan berapa banyak makanan enak dan minuman menyegarkan yang menurut kata hati Anda sanggup kita telan? Cukupkah segelas teh hangat dan sebutir kurma memuaskan dahaga dan lapar kita?

Kemudian, mari kita buka daftar belanja buka puasa kita, terutama di awal-awal Ramadan. Sebagai appetizer, biasanya ada kolak pisang dan pacar cina (yang ekonominya lebih mapan boleh memilih puding aneka rasa), dan masih banyak ragam penganan lainnya. Menu utamanya jangan sayur lodeh yang sudah biasa dong, karena ini bulan istimewa, aneka masakan istimewa pun tentunya ingin kita hidang. Desert-nya? Aneka buah-buahan nampaknya menjadi pilihan ketimbang sekadar air putih yang sebelum ditelan dipakai kumur-kumur dulu.

Tidak heran kalau disinyalir bahwa memasuki bulan Ramadan ini, kesibukan di pasar lebih hebat ketimbang di masjid.
So, walau belum ada penelitian sahih mengenai ini, tapi barangkali sesaknya meja makan dengan berbagai makanan dan minuman kala buka puasa di awal Ramadan karena ibu atau istri-istri kita juga terserang “sindrom menelan gunung” itu.

Lalu apa yang terjadi begitu adzan maghrib berkumandang? Ternyata, segelas teh hangat (mungkin kolak pisang) dan dua tiga potong kurma lebih dari cukup untuk meringkas luasnya ruang imajiner dalam lambung akibat nafsu serakah kita. Sisa hidangan yang melimpah ruah pun mubadzir.
Kita memang mahluk aneh. Disuruh belajar hidup sederhana, eh.., malah foya-foya. Diminta menikmati rasa lapar dan memperbanyak ibadah, malah balas dendam di meja makan dan lalai beribadah karena kekenyangan. Apa boleh buat, keserakahan memang tidak berbatas.

Tapi, kalau kita tidak mau menderita batin seperti kawan saya yang gelisah karena tidak lagi bisa mensyukuri nikmat Allah paling sederhana, belajarlah mengendalikan hawa nafsu kita. Hati-hati lho.., kalau Anda terbiasa rehat sejenak di café, menikmati sajian espresso sambil ngutak atik PR di laptop, bisa-bisa kopi tubruk buatan istri jadi hambar rasanya.

Kalau Anda terpaksa atau sukarela mengimbangi limpahan rizki dengan gaya hidup yang juga semakin berbiaya tinggi, jangan-jangan Anda sedang mendevaluasi nilai kenikmatan yang diberikan Tuhan. Bukankah udara segar yang semestinya gratis kini harus Anda bayar mahal karena untuk memperolehnya mesti pergi ke Puncak di akhir pekan? Bukankah ongkos ke Dufan untuk memenuhi kebutuhan bermain anak-anak kita sebenarnya bisa kita tekan andai kita bisa mengajari mereka cara membuat dan menerbangkan layangan?

Maka, ketika kawan kita yang gundah gulana karena tidak bisa lagi merasakan nikmatnya ceker bakar di warung angkringan Yogyakarta pamit pulang, saya memberi advis sederhana, “Berpuasa­lah.” Marhaban yaa Ramadan.

*) Terimakasih kepada Bapak M Anwar Sani, Direktur Eksekutif Al Azhar Peduli Ummat.


Saat engkau cemberut

10/08/2009

Saat engkau cemberut, engkau telah membungkus senyuman ramahmu untuk sahabat dan saudaramu! Padahal Tuhan menaruh harapan, melalui dirimu, saudaramu yang sedih akan merasa nyaman tinggal di hatimu!

Saat engkau muram dan memalingkan wajahmu kepada orang yang berada dalam kesulitan hidupnya, engkau sebenarnya telah menyembunyikan cinta Tuhan yang engkau percayakan kepadamu. Padahal kehadiranmu diharapkan menjadi tanda cinta-Nya yang membawa harapan.

Saat engkau mencari harga dirimu dan takut wibawamu merosot turun, engkau sebenarnya telah membungkus kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Padahal Tuhan mau menganugerahkan rahmat kebijaksanaan: menjadi mulia dalam kerendahan hati, namun engkau tidak mau untuk terluka sebentar saja.

Saat engkau membuang muka kepada temanmu yang telah menjengkelkan dirimu, engkau telah membungkus rapat hatimu yang penuh belas kasih dan pengampunan. Padahal Tuhan sudah memberikan kepadamu mandat untuk mengampuni, yakni tidak menghakiminya lagi, melainkan justru memberikan kesempatan kepadanya untuk berubah. Begitu besar cinta Tuhan, sampai pengampunan pun dipercayakan kepada manusia, agar manusia dengan mudah memaafkan sesamanya!

Saat engkau menolak anakmu untuk bersandar pada bahumu, saat itulah juga engkau kehilangan kesempatan untuk merasakan tangisan, detak jantung anakmu yang mempercayakan hidupnya kepadamu. Begitulah anakmu percaya kepadamu, orang tuanya. Anakmu yakin engkau tidak akan menyakiti hatinya, melukai tubuhnya, melainkan anakmu percaya, engkau orangtuanya akan mendidik dan merawatnya penuh kasih! Tuhan pun percaya dan menaruh harapan kepadamu sebagai orang tua.

Saat engkau menyalahgunakan kehendak bebasmu untuk berbuat dosa, di situlah sebenarnya rahmat belas kasih Tuhan yang maharahim berlimpah limpah. Namun rahmat itu tidak akan dirasakan kalau kita masih “hidup”: membela diri terus dengan 1001 alasan yang membenarkan diri sendiri meskipun sudah ditunjukkan kesalahanmu. Kita butuh belajar “mati”: kehilangan harga diri, agar kita mampu menemukan rahmat Tuhan yang berbelas kasih kepada orang berdosa. Itulah ibarat, ikan yang hidup di tengah lautan tidak akan menjadi asin meski air lautnya asin.Namun hanya ikan mati yang dapat diasini karena fungsi “self defense mecanism” ikan itu sudah tidak berjalan lagi. Begitulah diri kita sebenarnya. “Kamu adalah garam dunia”. Mungkinkah kita akan menjadi garam bila kita tidak “mati”? Kita akan menjadi garam kalau berani kehilangan “sikap membela diri”.

Tanah yang subur, mudah dicangkul dan menyerap air apa saja. Tanah itu selalu siap untuk ditanam “biji-bijian” yang menjadi benih tanaman untuk bertunas. Apakah kita ini siap menjadi biji gandum, biji rambutan, biji padi, yang siap ditanam? Tanah itu bisa jadi hidup kita bersama, ada yang tandus, ada yang subur, ada yang dikelilingi semak berduri, atau seperti tanah di atas bebatuan, atau seperti tanah di pinggir jalan? Terhadap orang lain, kita dipanggil menjadi tanah yang subur agar sahabatku, bagaikan biji padi, siap bertunas, tumbuh dan berbuahkan bulir padi yang bermutu. Bagi diri sendiri, kita dipanggil untuk menjadi “biji” yang siap mati untuk ditanam, di manapun kita akan hidup. Tuhanlah yang memberi hidup dan pertumbuhan kepada biji itu…dan kitalah yang dipanggil saling merawat dan memupuk tanah kehidupan bersama.

Semoga hari esok ada banyak kejutan yang membuat hidupmu menjadi tanah yang subur bagi banyak orang! Semoga kita mau menjadi biji padi yang jatuh ke tanah dan mati, agar berlimpah buah padinya saat panen nanti.


Wanita cantik, pengin pria kaya

07/05/2009

Seorang gadis muda n cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah
terkenal, dengan judul:

“Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?”

Saya jujur ttg apa yang saya katakan di sini. tahun ini saya berumur
25 th saya sangat cantik, mempunyai selera fashion yg bagus. saya
ingin menikahi pria dgn penghasilan min $500ribu/th. anda mungkin
berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/th hanya dianggap sebagai
kelas menengah di New York. persyaratan saya tidak tinggi. apakah ada
di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun? apa kalian semua
sudah menikah? yang saya ingin tanyakan: apa yang harus saya lakukan
untuk menikahi orang kaya seperti anda?
dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan: imana para lajang2 kaya hang out?
kisaran umur berapa yang harus saya cari? mengapa kebanyakan istri dari
orang2 kaya hanya berpenampilan standar? saya pernah bertemu dgn
beberapa wanita yang memiliki penampilan tidak menarik, tapi mereka
bisa menikahi pria kaya?
bagaimana, anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa
yang hanya bisa menjadi pacar?

ttd.
Si Cantik

Inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di Financial Wall Street:

saya telah membaca surat mu dengan semangat. saya rasa banyak gadis2
di luar sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. ijinkan saya untuk
menganalisa situasi mu sbg seorang profesional.

pendapatan tahunan saya>$500rb, sesuai syaratmu, jadi saya harap
semuanya tidak berpikir saya main2 disini. dari sisi seorang bisnis,
merupakan keputusan salah untuk menikahimu. jawabannya mudah saja,
saya coba jelaskan, coba tempatkan “kecantikan” dan “uang” bersisian,
dimana anda mencoba menukar kecantikan dgn uang: pihak A menyediakan
kecantikan, dan pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk akal. tapi
ada masalah disini, kecantikan anda akan menghilang, tapi uang saya
tidak akan hilang tanpa ada alasan yang bagus. faktanya, pendapatan
saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan
bertambah cantik tahun demi tahun.

Karena itu, dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan
meningkat, dan anda adalah aset yang akan menyusut. bukan hanya
penyusutan normal, tapi penyusutan eksponensial.

jika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat
mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. dari aturan yg kita gunakan di
Wall Street, setiap pertukaran memiliki posisi, kencan dengan anda
juga merupakan posisi tukar. jika nilai tukar turun, kita akan
menjualnya dan adalah ide buruk untuk menyimpan dalam jangka lama,
seperti pernikahan yang anda inginkan. mungkin terdengar kasar, tapi
untuk membuat keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai depresiasi
besar akan di jual atau “disewakan.. ” siapa saja dengan penghasilan
tahunan $500rb, bukan orang bodoh, kami hanya berkencan dengan anda,
tapi tidak akan menikahi anda.

Saya menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi
orang kaya. lebih baik anda menjadikan diri anda orang kaya dengan
pendapatan $500rb/tahun. ini kesempatan lebih bagus daripada mencari
orang kaya bodoh. mudah2an balasan ini dapat membantu. Jika anda
tertarik untuk servis “sewa pinjam,” hubungi saya.

ttd,
carlo


Kartini

21/04/2009

Hari Kartini, simbol emansipasi perempuan Jawa eh Indonesia. Tapi, coba perhatikan, bagaimana kebanyakan orang atau instansi memperingatinya. Taruhan deh, pasti paling banyak adalah acara berpakaian ‘kebaya nasional’ yang tidak begitu jelas apa arti kata nasional tersebut. Mungkin ada banyak jenis kebaya, setahu saya sih cuman ada dua besar yaitu yang ber ‘kuthubaru’ dan yang tidak. Nah loooo, nggak ngerti kan?

Biasanya bukan hanya para perempuan yang pada hari Kartini ini berkebaya, para laki-lakipun ikut-ikutan berpakaian tradisional, soalnya kapan lagi, nggak ada hari Kartono sih. Kalo ulang tahun Pak St. Kartono guru beken dari JB sih ada. (halo Pak, masih jaga UNAS yg pesertanya cuman 4 orang yach?). Para laki-laki cuman nebeng doang di hari Kartini.

Yang saya herankan, mengapa harus pakai kebaya yach? bukankah hari Kartini mencerminkan emansipasi wanita? persamaan derajat dengan para laki-laki? Kalau saya artikan sendiri sih, emansipasi perempuan adalah meluasnya lingkup arena kiprah perempuan sehingga tidak lagi terbatas pada dinding kerja domestik. Wuihhh, cek angel-e, istilah opo kuwi. Wis, pokoknya, menurut saya emansipasi perempuan membuat perempuan bisa bekerja dan dapat duit, gitu aja. Kembali ke kebaya tadi, saya kira kok kurang pas memperingati hari Kartini dengan berpakaian kebaya. Ini bukannya saya tidak suka lho, saya justru sangat suka lihat istri saya tampil pakai kebaya, tambah cantik, he he he he, habis tiap hari pakai celana panjang mlulu, mboseni.

Kenapa memperingati hari Kartini harus pakai kebaya? kok nggak pakai celana jean plus T-shirt polo, sepatu kets aja? Bukankah pakai kebaya itu ribet? dan lagi bisa kesrimpet-srimpet (hmmm bhs jawa lagi nih sorry). Kesrimpet itu artinya jalan terhambat karena memakai kain panjang (jarit? jarik? or what?). Berjalan menjadi tidak leluasa, langkah menjadi terbatas, apalagi wiron-nya harus dijaga agar tidak buyar.

Jadi?

Menurut saya tidak cocok, kalau memperingati hari kartini dengan memakai kebaya, itu justru simbol ‘kesrimpet’, bukan simbol emansipasi. nah, kalo gitu apa ya simbol emansipasi? lha ini pertanyaan sulit, sesulit yang dihadapi golkar he he he. Bingung juga saya, sampai sekarang tidak punya usulan. Lha masak pada hari Kartini semua wanita diminta memakai jean dan kaos tadi?
kan nggak lucu.

Kegiatan yg positif yg bisa dilaksanakan mungkin ya seminar hasil penelitian, misalnya apa betul Kartini itu pahlawan emansipasi?
Kenapa Kartini dimadu kok mau saja, kok tidak menolak. Bu Tien malah menghasilkan PP.10. Atau dengan mencari Kartini-Kartini lain di Indonesia, kita ungkap kelebihannya, kita tulis sejarahnya. Saya yakin tidak hanya Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien, tentu masih ada wanita lain yang hebat.

Atau kegiatan lain berupa pemberdayaan wanita. Menurut saya banyak sekali wanita hebat di Indonesia ini, tapi karena satu dan dua puluh tujuh hal mereka hanya jadi house-wife saja. Padahal kemampuan mereka (baik akademik maupun non akademik) hebat. Coba, saudara-saudara sekalian melihat di lingkup keluarga atau tetangga atau kenalan, banyak bukan wanita seperti itu? Menurut saya, itu kerugian nasional. Banyak wanita yang bisa diBerdayakan, tapi tidak termanfaatkan, atau manfatnya hanya minimal, hanya dikeluarganya, padahal mestinya bisa meluas. Bgmana caranya? wah saya tidak mau usul, nanti malah saya jadi mentri urusan peranan perempuan.

—ooo—

Beberapa hari di rumah, tanpa istri, saya melakukan pekerjaan domestik. Bangun pagi, masak air, bikin minum dan sarapan untuk anak. Lalu ngantar sekolah. Pulangnya mampir pasar Setan (padahal saya belum pernah bertemu setan di sana, nggak tahu kenapa namanya setan). Belanja di pasar, tampaknya suatu yang sepele, tapi ternyata berat buat saya. Saya harus bisa memutuskan mau masak apa, harus belanja apa, dengan berbagai batasan yang ada, harus bisa dioptimasi. Jadi ada Objective functionnya, ada constraintnya maka decision harus dibuat yang optimal, gitu kalau di genetic algorithm. Nah semua itu harus saya lakukan dengan waktu yg terbatas. Hmmm baru terasa sulitnya belanja di pasar. Beberapa hari saya lakukan, ternyata saya hanya menguasai 4 jenis masakan saja, dari belanja sampai memasak. Hari kelima sudah berputar menunya. Dan anak-anak sudah komplen, ayam lagi ayam lagi …. padahal ayam juga mahal 22 rebu per kilo.

Itu soal belanja, soal memasak. Wah … ini dia, kalau salah prosedur bisa gaswat. Ada proses-2 yang sekuensial, ada yg bisa paralel, ada pula yang irreversibel (jemur dulu baru goreng, jangan dibalik), kalau tidak menguasai itu semua, bisa kacau, lama dan rasanya ‘aneh’. Belum lagi, kadang ada interrupt, maka address pointer harus dicatat supaya tidak lupa kalau interrupt sudah selesai, kadang ada pula nested interrupt, tengah-tengah masak bel pintu berbunyi, keluar ehhh ada sales nawarin macam-macam, lha waktu sibuk menolak sales, Bu Ijal tetangga sebelah muncul, ngobrol soal macam-macam. Weleh-weleh, soft skill bener-2 harus dipakai.

Soal membersihkan rumah, mencuci setrika huhhhh, bener-bener menyita waktu dan tenaga, pantesan banyak bisnis laundry menjamur, 3 rb per kilo 3 jam jadi.

So what?

Jangan sepelekan peran ibu rumah tangga.

Kalau Ibu keluar rumah, bekerja, jadi Doktor Fisika, mengajar di PT ternama, punya penelitian tingkat internasional, jadi pejabat PT, …. weleh weleh ….. terus siapa ya yang mengerjakan pekerjaan domestik?

yup betul … pembantu rumah tangga …atau suami?

jadi jangan sepelekan pembatu rumah tangga or suami.

jadi?

suami = pembantu rumah tangga.

wis wis wis .. ngelantur kemana-mana. …

—000—

saya cuma mau bilang, emansipasi itu kadang juga harus dibayar mahal,
maka harus itung-2 an, dan jangan lupa bagian yg intangible !!!

Selamat hari Kartini !!

NB.
heran eh, hari ini kok nggak ada berita ttg hari Kartini yach?
apa kalah sama caleg gendheng?


Asal Gebug !

30/01/2009

Saya kebagian tempat di city-campus, kecil saja bangunanannya, dibandingkan main-campus atau cubic-campus. Opss Cubic tuh bangunan berbentuk kubus milik pabrik creative-technology, nyewa aja.

Di city-campus ada lab komputer, di mana saya biasa berhahahehe dgn teman-2 seperjuangan. (kalau lagi serius sih di bilik khusus tersendiri). Nah di lab kom, ada komputer yang tidak disukai teman-2, pasalnya, monitornya sering ngadat. Komputer ini yang justru sering saya pakai, kalau ngadat tinggal GEBUG saja body samping monitornya, beres, he he he.

Selasa lalu, ketika semua orang libur tahun baruan (di sini libur lama kalau tahun baru cina), saya masuk sendirian, pakai kompie yang biasa itu di lab, sudah saya gebug berkali-kali tetap ngadat…. akhirnya kembali ke laptop …

–oo0oo–

Hari Senin pagi-pagi sebelumnya, saya ngantar Boss pulang kampung, seperti biasa pakai Proton Wira kesayangannya menuju bandara. Kali ini saya agak ‘khawatir’, masalahnya fuel-pump nya sudah sering rewel. Konon ini salah satu kelemahan Proton Wira (selain power-windownya). Kalau rewel, mogoklah si wira ini.

Dan benar saja, ketika ‘ngampiri’, Bang Hombing utk teman seperjalanan (sebab saya ngantukan bahaya kalau nyetir), ternyata si Wira ini benar-benar ngadat di rumah Bang Hombing. Untung ada teman penyelamat, sang pakar otomotif, Mr. Herd, dia buka jok belakang, dan bagian bawahnya dia GEBUG berkali-kali, ehhhh ternyata sukses, si wira hidup lagi.

Tadi sore, ketika si wira mau dihidupkan, ngadat lagi, saya pakai teori gebug itu, berkali-kali, ehhhh tetap saja ngadat. Fuel-pump tak ber-reaksi, dan akhirnya saya tinggalkan itu wira, balik naik sepeda motor saja.

–ooOoo–

Jadi, jangan asal gebug, harus cari akar permasalahannya, dan selesaikan, teori gebug tak akan selalu berhasil.

(* hari gini masih main gebug *)


Kepercayaan (4)

14/01/2009

water_recycle1
Jangan berprasangka apa-apa terhadap gambar ini, kalau memang sudah percaya pada sesuatu, ya biarin aja, no problem, no comment, kita hargai saja ‘kepercayaan’ orang lain.


Kepercayaan (3)

14/01/2009

Suatu kali saya nyasar ke Bugis (salah satu pasar senggol di Singapore), jalan mondar-mandir kesana kemari, bolak-balik, muter, semuanya kok ya masih mahal menurut ukuran rupiah.

Saya bukan mau ngomong soal shopping di Spore, nggak level, level saya kurang tinggi, saya kalau belanja di pasar Setan (bukan Isetan lho).

Nah, ketika blusukan di Bugis tadi, saya menemukan sebuah Kuil Hindu, waktu itu nggak ada aktivitas, biasa wae, adem ayem. Lalu saya berjalan lurus mengikuti jalan yg sama, baru kira-2 50 meter, ehhh saya menemukan ‘Klenteng’ (kayaknya sih). Nah di sini ramai orang. Banyak orang Cina yang ’sembahyang’ di sana. Masing-2 memegang sesuatu seperti ‘lidi’ yang diobong ujungnya, yang baunya bikin saya pilek. Menundukkan badan, sambil komat-kamit. Uniknya lagi, ternyata ada beberapa orang yang tidak menghadap ke dalam, malah menghadap keluar, ke arah saya, he he he, saya jadi besar kepala, apa nyembah saya ya, pasti tidak. Malah saya potret sekalian dengan kamera dijital pinjaman.

Hmmm, mereka berdoa, memohon sesuatu kepada ’sesuatu’ yang mereka percayai, yang menguasai mereka.

Mau menghadap ke dalam kek, ke luar kek, ke samping kek, saya selaku ‘turis’, tidak terpengaruh apa-apa. Cuma jadi tau saja, ohh ada yang kayak gini di Bugis. Dan menurut saya baguslah, masih percaya bahwa ada yang ‘lebih berkuasa” ketimbang mereka sendiri.

Kalau orang merasa paling berkuasa, wah gunung bisa di-emplok dewe.


Kepercayaan (1)

14/01/2009

Setiap bangun tidur, kami melihat tempat sampah di depan rumah kami sudah bersih, sudah diangkut oleh tukang sampah. Tetapi kami semua tidak tahu siapa yang mengangkutnya. Saya percaya bahwa ada tukang sampah yang mengangkut, buktinya tempat sampah selalu kosong kembali ketika kami bangun tidur. Semua orang seisi rumah juga percaya, tak perlu membuktikan, lha wong sudah cetha wela-wela.

Di perumahan yang lain, teman saya yang namanya Pak IB, mereka sekeluarga juga percaya ada tukang sampah yang mengangkut sampah mereka dengan menggunakan mobil pikup. Saya tak peduli apakah mereka percaya soal itu atau tidak, yang jelas menurut saya pasti baguslah karena kebersihan terjaga, itu saja. Paling-paling saya merasa agak sedih kalau mendengar misalnya tidak ada tukang sampah yang mengangkut sampah mereka, pasti akan kotor. Dan lambat laun (suwe banget ‘kali), sampah akan menggunung dan mengganggu saya juga (kayak di Bandung dulu itu lho).

Mengenai keberadaan tukang sampah ini, saya dan Pak IB tidak pernah mempersoalkan, tidak pernah jadi masalah, seandainya saya bertanya kepada pak IB “Pak, tukang sampah kalian itu cowok atau cewek?”, apapun jawabannya tidak akan mempengaruhi hubungan saya dengan pak IB.

Yang jelas, adanya tukang sampah, membuat lingkungan jadi bersih, semua orang sudah tahu lah yauuuwww, bersih pangkal sehat.


Aku terganggu (1)

30/12/2008

Kemarin, kami sekeluarga makan di resto ‘XO-suki’, di sebuah mall terbesar di Surabaya. Menu utamanya sih ’steam boat’. Tidak ada yang luar biasa, resto bersih rapi, layanan prima, ‘rasa’ juga lumayan, cocok utk orang yg sering pilek kayak saya.

Yang istimewa bagi saya, justru pemandangan di meja sebelah. Sebuah keluarga besar (chinese) sedang makan bersama, mengelilingi meja bundar yang di tengahnya ada pemanas ’steam boat’ sebagaimana meja lainnya. Beberapa anak balita juga ada di lingkaran tersebut, semua makan dengan lahap dan riang gembira, kecuali satu orang, wanita berseragam putih-putih, bersepatu trepes, kulit sawo matang. Wanita itu pasti baby-sitter mereka. Dia juga duduk di samping ‘momongannya’ yg masih balita, sambil menyuapi. Dan dia sendiri tidak makan apapun, tidak minum apapun.

Pemandangan seperti ini sudah lazim di Surabaya (mungkin juga kota-kota besar lain di indonesia). Sepuluh tahun yang lalu pun pemandangan spt ini juga sudah lazim. Sudah biasa. Mungkin, hanya saya sendiri yang merasa agak terganggu. Lha wong semuanya makan kok ada satu orang di tempat yang sama tidak makan, malah kerja, sambil ‘ngiler’ lihat orang makan. Bagi saya, ini tidak manusiawi.

Menurut saya lebih baik kalau si baby di momong di luar resto oleh baby sitternya, atau lebih baik baby sitter di tinggal di rumah, utk beres-beres rumah, sementara si baby sekali-sekali di ‘mong’ oleh ortunya sendiri.

Om saya almarhum, dulu selalu membeli sendiri makanan anjingnya, walaupun dia punya beberapa orang pembantu. Dia tidak mau pembantunya tahu harga makanan anjing itu.


Selamat Tahun Baru 2009

30/12/2008

Orang hidup itu, harus punya misi, punya ‘goal’. Misi harus dijalankan, jadi memang harus punya rencana jangka puanjaaannng, lalu rencana jangka menengah dan rencana jangka pendek, agak pendek, pendek sekali, sampai harian, bahkan utk setiap menarik nafas, kita harus ‘on the right track’, sesuai misi.

Setiap ganti tahun, harus melihat ke belakang, apa capaian tahun kemarin, dan apa target tahun depan, harus ‘inline’ dengan misi hidup kita.

Secara duniawi, tentu saja kegiatan harian kita sangat terkait dgn profesi kita. Yang jadi mahasiswa, punya target lulus 5 tahun misalnya, maka setiap tahun bahkan semester, harus mentarget berapa jumlah SKS dan IP yg harus dicapai. Bisa juga ditambahi target lain misalnya TOEFL harus 550, harus sudah punya pacar pada saat selesai skripsi, pacarpun harus yang cantik, pintar, kaya, baik hati, religius dan tidak gila. Kalau kita ’setia’ pada target-2 tsb, tentu setiap langkah kita ‘menuju’ target tsb. Targetnya TOEFL 550 tapi latihan soal TOEFL saja nggak pernah, ya jelas susah mannnn. Pengin pacar baik hati dan religius, tapi kluyurannya ke diskotik, ya lamaaa banget baru dapet. Keburu kena bom tuh diskotik.

Pendek kata, hidup ini tak boleh mengalir begitu saja, bisa-bisa kita hanyut tau-tau dipanggil KPK. Bisa-bisa harus bayar fiskal 2,5 juta karena tak punya npwp. Kita harus ‘men-drive’ hidup kita sendiri ke arah misi dan goal kita.

Nah, secara general misi hidup kita ini, semua sama, yaitu untuk ‘mati’. Maka kita harus mempersiapkan kematian kita, yang ’sayang’ nya kita tak tahu pasti kapan saat itu tiba. Mungkin tahun ini, jadi masih ada waktu utk siap-siap, mungkin besok pagi. Nah, telat lu!

Selamat tahun baru evribadi !


Kisah Nyata Yuan

20/11/2008

True Story !!!
Yu Yuan Gadis Kecil Berhati Malaikat, yang berjuang hidup dari Leukimia Ganas. Setelah merasa tidak dapat disembuhkan lagi, ia rela melepaskan segala-galanya dan menyumbangkan untuk anak-anak lain yang masih punya harapan. Sungguh .. tak abis kata2 untuk Yu Yuan. Terima kasih telah memberikan contoh mulia kepada kami…

Kisah ini tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya adalah “saya pernah datang dan saya sangat penurut”. Anak ini rela melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian, yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan pengobatannya.

Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya. Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi orang yang mau dilamar olehnya.

Pada tanggal 30 November 1996, tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam 12.

Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata, “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian, papanya memberikan dia nama Yu Yan.

Ini adalah kisah seorang pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.

Yu Yuan yang hidup dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan marah.

Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan soal-soal yang susah untuk menguji papanya.

Setiap kali melihat senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.

Begitu tiba di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu Yuan.

Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit. Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.

Melihat mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya, air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa saya ingin mati”.

Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit ini.”

Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan. Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pemakamannya sendiri.

Hari itu juga setelah pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”. Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya. Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya. . Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang ditiup angin.

Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng. Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini, dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini. Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi setiap orang.

Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.

Setelah itu, pengumuman penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan anakku tercinta.”

Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus. Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak terbendung.

Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan menjawab, “Anak yang baik”.. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.

Tetapi efek samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan, apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain.. Fisik Yu Yuan jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan semakin lemah.

Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya? Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab, karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan. “Tante ini adalah surat wasiat saya.”

Fu yuan kaget, sekali membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat tinggal tante Fu Yuan.

Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan. Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam mimpi. Tolong jaga papa saya.. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa dibagikan kepada sekolah saya.. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi pipinya.

Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus, karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut menangis.

Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya. Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.

Dikecamatan She Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan. Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit, kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari seorang pemuda tersebut.

Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.

Di depan kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov 1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya dirimu.

Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.

Pada tanggal 24 September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat patuh”.


A Kiong

16/10/2008

A Kiong, orang cina, sahabatku waktu masa SMP dulu, kulitnya kuning hampir putih. Aku orang pribumi (mungkin?), kulit sawo bosok, alias hampir item. Tanpa sebab-sebab yang jelas kami berdua bersahabat, itu menurut saya. Karena si A Kiong ini hanya bercurhat kepada saya, saya juga. Dan tumbuh saling pengertian yg dalam di antara kami.

Kami ini, berbeda bagai bumi dan langit. Saya suka matematik, A Kiong suka olah-raga, saya suka musik dia suka kung-fu, saya tak bisa berenang, dia jagonya. Dia sekolah jalan kaki plus naik Johnson, kadang terbalik dan berenang, sedang saya diantar naik sedan mewah plat merah. Saya juara kelas, dia selalu di rombongan belakang. Dia suka jajan nasi kuning, sampai 5 bungkus, sedang saya nyaris tak pernah jajan sama sekali. Belakangan saya tahu ketika saya belajar ilmu komputer di UI, dia malah jualan komputer di Glodok. (kok nggak ketemu ya, padahal waktu itu saya sering ke Glodok cari buku bajakan lho)

A Kiong, ini tinggal di pulau ‘Doom’, sekitar 20 menit naik perahu motor (kami menyebutnya Johnson, itu nama mesinnya) dari daratan pulau besar yang saya tinggali.

Suatu hari saya lihat, si Akiong ini kulitnya mulai menghitam terbakar matahari, makin hari makin menghitam aneh gitu. Sampai akhirnya kulitnya terkelupas, kayak panu, jadi olok-olok teman sekelas. Setelah terkelupas semua, maka kulitnya kembali asal, kembali ke aslinya, kuning keputih-putihan sebagaimana orang cina pada umumnya.

Saya sempat bertanya waktu itu “Kiong, ko pu kulit kenapa ka ? Sa liat ko tambah itam saja .., ko bikin apa deng ko pu kulit?”

A Kiong menjawab “sa ingin seperti ko, kulit gelap begitu”. “Tiap hari sa berenang di laut, trus jemur badan di bawah panas matahari”. “Tapi taratau sa pu kulit jadi begini, macam kena panu ka”.

———————————————————————————-
Kita tidak bisa meminta ataupun memilih, untuk dilahirkan dari rahim siapa dan di mana.
———————————————————————————-
NB. Ini kisah nyata.


Terima Apa Yang Ada

16/10/2008

Sahabat…
Setiap orang pasti ingin bahagia
Setiap orang ingin memiliki cinta
Ingin memberi rasa cinta pada orang tepat
Dan ingin menerima cinta dari orang yang diharapkannya

Tujuan cinta adalah bahagia…
Dan salah satu cara memasuki gerbang kebahagiaan adalah…
…dengan cara “Menerima apa yang ada”
…” Merawat apa yang kita miliki”

Sahabat…
Setiap orang memang bebas memiliki keinginan
Itu sebagai driver agar kita selalu berjuang dengan sungguh – sungguh
Namun ketahuilah……bahwa
“Tidak selalu apa yang kita inginkan selalu terwujudkan”

Seringkali kita melihat sisi yang tidak kita miliki
Jika kita merasa miskin, …kita beranggapan bahwa kekayaan adalah solusinya …
sehingga orang kerja mati – matian …tidak kenal malam untuk istirahat …
tidak kenal sabtu minggu untuk keluarga
Semua dipakai kerja karena beranggapan bahwa uang adalah segalanya
Dan setelah uang serta kekayaan terkumpul…
Ia pun kan kembali melihat sisi lain yang belum dimilikinya
Dan begitu seterusnya sehingga bahagia itupun takkan pernah menghampirinya

Jika kita merasa tidak memilki cinta,
…kita berusaha memiliki pasangan dengan multi kriteria
Ketika kita belum memiliki pasangan…
…kita beranggapan bahwa dengan pasangan akan bahagia selamanya
Dan ketika kita sudah memiliki pasangan …seringkali kita beranggapan bahwa
pasangan kita tidak bisa membahagiakan …
…kurang perhatian lah…
…kurang pengertian lah…
Dan ternyata kita memang seringkali melihat sisi yang tidak kita miliki
…maka akhirnya bahagiapun menjadi impian yang semakin jauh

Sahabat…
Terimalah apa yang kita miliki saat ini apa adanya
Itulah kekayaan terbesar atas amanah Allah pada kita
Mungkin masih banyak kekurangannya…
Tapi walau bagaimana pun…itulah yang kita miliki
Dan ketika kita bisa menerimanya dengan ikhlas…
Lalu bersyukur terhadap apa yang ada…
Maka percayalah…,
…bahwa Allah akan menambah nikmat buat kita
Namun sebaliknya, jika kita tidak mau bersyukur …
malah selalu melihat dari sisi yang tidak dimiliki …
maka kita akan semakin menderita
Apa yang ada…,
itulah nikmat Allah untuk kita
Kita tidak bisa menutupi atau menyangkalnya…
Nikmat Allah yang manakah yang bisa kita dustakan ?


Pemuda Yang Banyak Bicara

20/09/2008

.
.
Seorang pemuda yang sedang jatuh cinta berusaha selama berbulan-bulan untuk mengambil hati pujaannya, namun gagal. Ia merasa sakit hati karena ditolak. Namun akhirnya si jantung-hati menyerah. ‘Datanglah di tempat anu pada jam anu,’ katanya.

Pada waktu dan di tempat anu tersebut, akhirnya si pemuda sungguh jadi duduk bersanding dengan jantung-hatinya. Lalu ia merogoh saku dan mengeluarkan seberkas surat-surat cinta, yang telah ia tulis selama berbulan-bulan, sejak ia mengenal si jantung-hati. Surat-surat itu penuh kata-kata asmara, mengungkapkan kerinduan hatinya dan hasratnya yang membara untuk mengalami kebahagiaan karena dipersatukan dalam cinta. Ia mulai membacakan semua suratnya itu untuk jantung
hatinya.

Berjam-jam telah lewat, namun ia masih juga terus membaca.

Akhirnya si jantung hati berkata:

‘Betapa bodoh kau! Semua suratmu hanya tentang aku dan rindumu padaku. Sekarang aku disini, bahkan duduk di sampingmu. Dan kamu masih juga membacakan surat-suratmu yang membosankan itu!’

(* de Mello *)


Telinga Pemimpin

18/09/2008

Adalah Raja Zhao yang memerintah sebuah kerajaan di abad ketiga, mengirim putranya pangeran Chao Chan yang telah beranjak dewasa ke sebuah kuil dimana seorang guru besar Pan Ku berada. Chao han akan dididik menjadi seorang pemimpin agar kelak siap menggantikan ayahnya sebagai raja.

Sehari setelah tiba di kuil, Chao Chan merasa aneh karena Pan Ku justru mengajak Chao Chan masuk kedalam hutan lalu meninggalkannya seorang diri di sebuah rumah yang telah disediakan baginya ditengah hutan itu. “Tinggallah disini dan belajarlah pada alam, satu bulan lagi aku akan datang menjemputmu” demikian kata Pan Ku.

Satu bulan kemudian Pan Ku datang menjenguk sang pangeran di dalam hutan dan bertanya: “Katakanlah, selama sebulan di hutan ini suara apa saja yang sudah kau dengar?”

“Guru,” jawab pangeran, “Saya telah mendengar suara kokok ayam hutan, jangkrik mengerik, lebah mendengung, burung berkicau, serigala melolong….” dan masih banyak suara-suara lainnya yang disebutkan oleh Chao Chan.

Usai pangeran Chao Chan menjelaskan pengalamannya, guru Pan Ku memerintahkannya untuk tinggal selama tiga hari lagi untuk memperhatikan suara apa lagi yang bisa didengar selain yang telah disebutkannya. Untuk kesekiankalinya Chao Chan tidak habis mengerti dengan perintah sang guru, bukankah ia telah menyebutkan banyak suara yang didengarkannya?

Chao Chan termenung setiap hari namun tetap berpikir keras ingin menemukan suara yang dimaksud oleh Pan Ku, tetapi tetap saja tidak menemukan suara lain dari yang selama ini sudah didengarnya.

Pada hari ketiga menjelang matahari terbit, Chao Chan bangun dari tidurnya kemudian duduk bersila di rerumputan dan mulailah bermeditasi. Dalam kesunyian itulah sayup-sayup Chao Chan mendengar suara yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya.

Semakin lama suara itu semakin jelas, dan saat itulah Chao Chan mengalami pencerahan. “Pasti inilah suara-suara yang dimaksud guru.” teriaknya dalam hati.

Akhirnya tanpa menunggu Pan Ku datang mengunjunginya, sang pangeran bergegas kembali ke kuil untuk melaporkan temuannya.

“Guru”, ujarnya “Ketika saya membuka telinga dan hati saya lebar-lebar, saya dapat mendengar hal-hal yang tak terdengar seperti suara bunga merekah, suara matahari yang memanaskan bumi dan uara rumput minum embun pagi.”

Pan Ku tersenyum lega seraya manggut-manggut mengiyakan, lalu katanya: “Mampu mendengarkan suara yang tak terdengar adalah pelajaran wajib yang paling penting bagi siapapun yang ingin menjadi pemimpin yang baik.”

“Karena, baru setelah seseorang mampu mendengar suara hati pengikutnya, mendengar perasaan yang tidak ter-ekspresikan, kesakitan yang tak terungkapkan, keluhan yang tidak diucapkan, maka barulah seorang pemimpin akan paham betul apa yang salah dan niscaya akan mampu memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya dari para pengikutnya”.