Kursus pra-nikah

07/08/2009

Pernahkah anda, wahai para suami dan istri, belajar tentang misalnya:

“Mengapa ya perempuan kok lebih cerewet dari lelaki”

“Mengapa perempuan kurang bisa baca peta”

“Mengapa lelaki enggan bertanya kalau kesasar?”

“Kok bisa ya perempuan menerima telpon sambil memasak sambil momong anak?”

“Kenapa perempuan sering salah omong , ke kiri, padahal maksudnya ke kanan?”

“Kenapa lelaki susah mencari barang dalam kulkas?”

“Kenapa sensor cewek lebih bagus ketimbang cowok?”

“Kenapa suami kurang suka menemani istri keluar masuk toko?”

Saudara-saudaraku yang budiman dan budiwati (weh …aneh nih) …

Retaknya hubungan suami-istri bisa disebabkan hal-hal sepele karena kurang pahamnya masing-masing pihak thdp pihak lainnya.

Saya (wah buka rahasia nih), sering mengalami kejengkelan-2 karena hal-hal kecil yang dilakukan pasangan saya.  Misalnya dia salah tunjuk arah,  waktu saya nyetir dia bilang ke kanan, maksudnya ke kiri, ini benar-2 terjadi, dan merepotkan saya.   Lain kali dia masuk toko mengaduk-aduk isi toko, saya nunggu di luar saja bahkan makan-2 sendiri di sebelah.     Atau yang lebih menjengkelkan, menerima telpon kok ya sambil ngerjain pekerjaan lain, seakan-akan tidak menghargai penelpon.     Isi mobilnya bukan main banyaknya, ada bbrapa pasang sandal dan sepatu, belum lagi kotak makanan atau gelas minuman.     Yang membuat saya ketar-ketir, kalau dia sudah mulai membuka tasnya, dan mencari-cari sesuatu ….. wahhhh saya cuma bisa berdoa, semoga ketemu apa yg dicarinya.    Saya betul-2 sport jantung ketika dia mencari-cari passport-nya, ini kejadian minggu lalu di Bangkok.    Untung ketemu!  Kalau tidak …wah bisa panjang urusannya.    Cara berpikirnya-pun aneh menurut saya.  Seringkali kalau berdiskusi malah jadi kacau dan berakhir tidak menyenangkan.

Mungkin atau pasti, saya juga melakukan hal-2 yang tidak menyenangkan pasangan saya.  Mbuh nih, tanya dia saja.

Nah,  dua hari lalu saya menemukan sebuah buku, dan saya baca.  Ternyata ….. selama ini memang saya tidak tahu bagaimana atau apa bedanya lelaki dan perempuan.  He he he …. sungguh sangat terlambat.     Buku yang saya baca adalah buku “Why men don’t listen and women can’t read maps” karya Allan & Barbara Pease.

Buku ini sungguh hebat, bisa saya temukan landasan ilmiahnya, mengapa mahkluk lelaki dan perempuan ini begitu berbeda dalam bersikap.  Dan kemudian membuat saya mengerti dan paham.   Bahwa selama ini saya memang ternyata tidak paham.  He he he he.   Saya jadi sadar selama ini saya benar-benar salah dalam bersikap.

Selama ini saya tidak pernah mempelajari hal ini sejak TK sampai S3, saya yakin pasangan saya juga tidak mempelajari hal ini.

Nah, saya usul nih, sebelum perkawinan dilaksanakan, maka salah satu syaratnya adalah ikut kursus perkawinan yang materinya antara lain adalah buku tersebut.

Demikian saudara-saudara.


Informasi yang (tidak) informatif

07/08/2009

Kadang, penulis di media massa online lupa bahwa tulisannya bisa dibaca oleh orang-2, tak mengenal batas ruang dan waktu.   Kadang, sang penulis cuma menganggap, bahwa pembaca adalah tetangganya sendiri, atau orang-orang yang tinggal sekota dgnnya saja.

Ambil contoh berita ini “Maspion Adventure Carnival (MAC)” yang ditulis oleh jawapos.co.id hari ini, di sana tidak dituliskan di mana letak geografis atau alamat dari MAC tersebut, dianggapnya semua pembaca sudah tahu seluk beluk Surabaya.   Saya yang tertarik ingin ke sanapun menjadi kesulitan.  Harus bertanya dahulu ke pihak lain.

Bukan hanya media massa yang online, yang offlinepun tak jarang memuat tulisan yang kurang informatif.

Satu contoh, coba perhatikan koran-koran daerah, coba baca iklan bioskop, nah di sana hampir semuanya tidak menuliskan alamat bioskop tersebut.  Jadi sebagai turis lokal, saya tidak bisa langsung mengetahui dengan tepat di mana posisi bioskop tersebut.     Coba deh tengok koran ‘KR’ terbitan Jogjakarta, atau koran-2 lain.

Sepertinya para redaktur sudah harus bekerja lebih giat dan jeli lagi deh, bukan hanya kesalahan ketik (seperti tgl 24 september katanya hari libur natal, ini kata kompas.com nih)  melainkan juga kelengkapan informasinya, jangan hanya setengah-jadi.

Kuwi marak-ke mangkel…

(aku dhewe sing mangkel …, he he he he)


Bandara Sorong vs bandara LCCT dan Svarnabhumi

02/08/2009

Anda tahu di mana kota Sorong?  Iya benar … Sorong ada di Papua, tepatnya di daerah kepala burung, silahkan lihat peta atau google earth utk memastikan.    Bagi anda yang sering ke Sorong, tentu hafal benar bagaimana bandara Sorong ini.   Sebenarnya, bandara Sorong dulu terletak di sebuah pulau kecil, Pulau Jefman namanya.  Ini bandara bekas perang jaman Jepun dulu.   Tapi sejak sekitar delapan tahun terakhir Sorong sudah punya bandara sendiri, di daratan, bukan di pulau.   Nama resminya bandara “Domino Edward Osok”.    Terakhir saya ke sana, bulan lalu, kondisi bandara sudah lumayan dibanding tahun 2004.    Sudah ada tempat parkir yang luas.  Sudah ada gedung ruang tunggu.  Walaupun kecil namun sudah lumayanlah.   Daripada dulu, cuma ada atap seng saja, utk kitorang tunggu pesawat, terlalu sederhana.

Yang menarik, di bandara Sorong ‘Eduard Domino Osok’ ini adalah, adanya dua buah bus, yang mondar-mandir mengantar penumpang dari ruang tunggu ke pesawat atau sebaliknya.    Dan anda tahu berapa jarak dari ruang tunggu ke pesawat?   tak lebih dari 100 meter saja.    he he he, saya pernah ketinggalan bus ini, dan saya jalan kaki saja sampai di pintu pesawat, dan saya tidak tertinggal.

Nah bandingkan sekarang dengan bandara Svarnabhumi, Bangkok atau LCCT Kuala Lumpur.   Jumat kemarin, saya di Svarnbhumi, bener-2 merasa dikerjain oleh bandara,  bayangkan turun dari taxi, harus berjalan arah balik sekitar 200 meteran ke tempat check-in, setelah check-in, balik lagi ke arah imigrasi, sama jauhnya, lalu ke ruang tunggu, kira-2 ada kalau 1 km, jalan kaki bung, ke ruang tunggu E7 ! Sebagian memang ada eskalator-datarnya.  Dengan menyeret dua koper besar, sakit rasanya bahu dan kaki ini.   Saya jadi teringat bandara Osok di Sorong tadi yang begitu nyaman, naik bus utk jarak 100 meter saja.

Ehhhh penderitaan belum berakhir, mendarat di LCCT (Kuala Lumpur), entah apa sebabnya atau memang aturannya, itu pesawat parkir di pojok yang paling jauh dari pintu keluar.   Dan kembali saya berjalan kaki, kira-2 hampir 1 km juga tuh.  Belum pernah saya jalan di bandara sejauh ini.    Dari pintu keluar, ke arah bus, ehhh jauh juga, 250 an meterlah.    Kembali saya teringat bandara ‘Osok’ di kampung halamanku di Sorong sana.

Enak betul lho di ‘Osok’, turun pesawat langsung naik bus, di atas bus tak sampai 2 menit, masuk di ruang pengambilan bagasi, ambil bagasi langung keluar, dan mobil penjemput sudah terlihat di depan hidung.  Kalau mau naik ojeg, yach tinggal melambaikan tangan saja. Beres deh.

Jadi, ternyata bandara ‘Osok’ lebih sip deh ketimbang ‘LCCT’ di KL maupun Svarnabhumi di Bangkok.

(* cuman yaitu, pilotnya harus ekstra hati2, kadang-2 ojeg juga melintas di run-way, dan tampaknya ruang tunggu sudah tak muat, harus dibesarkan lagi … heheheheh *)

Salam utk Pak Walikota Sorong (mantan teman SMA-ku).


Menyusuri sungai Chao Praya Bangkok

02/08/2009

Sungai Chao Praya ini merupakan sungai yang besar, membelah kota Bangkok.   Perkembangan kota Bangkok ini diawali dari sungai ini.  Di sepanjang sungai ini banyak terdapat candi-candi Budha (mereka sebut Wat).    Menyusuri sungai ini, merupakan agenda wajib bagi para turis.   Sekali lewat, kita bisa men-scan banyak tempat tujuan wisata.   Salah dua yang terkenal adalah Grand Palace dan Wat Pho.

Kebetulan saya menginap di Imperial Queen Park Hotel,  sehingga harus naik BTS dua kali (BTS ini sejenis KRL), dari stasiun Pham Prong ke Siam, lalu dari Siam ke Thaksin.  Nah di satsiun BTS Thaksin inilah, kita akan mulai banyak ditawari oleh penjaja tour utk menyusuri sungai.  Berbagai tawaran menggiurkan disampaikan plus foto-2nya dengan harga yang relatif mahal (lebih dari 1000 baht).  Nah ini saatnya anda waspada dan hati-2, saya sarankan anda jangan terpengaruh, dan jangan beli apa-apa disini.   Berjalanlah terus sampai ke bawah, keluar dari stasiun, dan langsung ketemu sungai, ketemu dermaga.

Menurut saya ada dua pilihan yang menarik bgmana cara anda menyusuri sungai yang sangat lebar dan berombak cukup besar ini.  Pilihan pertama, anda bisa ikut perahu khusus turis, bayar 130 baht/orang., anda harus menyisihkan waktu sekitar 4 jam pp, maka sebaiknya datanglah sebelum jam 11.00 di dermaga ini.    Perahu cukup besar, bisa mengangkut sekitar 120 orang, dan ada pemandu berbahasa Inggris.    Perahu ini akan menyusuri sungai dan akan berhenti di dermaga dekat Grand Palace dan Wat Pho, tetapi ingat untuk masuk ke kedua tujuan tersebut, anda harus bayar sendiri 50 baht.

Pilihan kedua, nah ini pilihan yang saya ambil, sebagi turis yang berkantong tipis dan suka tantangan (maksudnya bisa ngirit hehehe).  Pilihlah naik perahu reguler.  Perahu ini melayani rakyat kebanyakan, dan memang sehari-2 untuk transportasi kota, lewat sungai.   Banyak masyarakat menggunakannya.   Ada beberapa jalur (merah, hijau, kuning dan orange).  Pilihlah yang orange,  karena jalur ini akan singgah di GRand palace dan Wat Pho.  Hati-2 jangan salah naik, karena kalau salah anda akan terbawa ke lain tujuan.   Di perahu terlihat benderanya, yang berwarna sama dgn warna jalurnya.  Anda bisa salah naik karena pengumuman selalu menggunakan bahasa Thai, bukan bhs Inggris, so hati-2 kawan …

Tiket bisa dibeli di dermaga, bisa juga di atas kapal, ada kondekturnya, persis seperti kalau naik bis kota di Jawa.   Kalau pas ramai, anak-2 sekolah pulang, atau orang kantoran pulang, maka bisa saja anda tidak kebagian tempat duduk, berdiri bergelantungan juga pemandangan biasa di sini.    Nah, turunlah di dermaga Grand Palace, tiket cuma 20 baht.  Murah bukan?   Oh ya, jangan pilih duduk di depan, nanti terkena air yang muncrat, karena ombak yang cukup besar.

Turun di Grand Palace, ikut saja arus orang keluar, nanti ketemu Grand Palace, masuknya bayar 50 baht.  Dari grand Palace anda bisa ke Wat Pho, itu patung Budha yang tiduran, terbuat dari emas, dan buesaaaarrrr sekali.   Dari Grand Palace bisa naik tuk-tuk 40 baht, tidak jauh sih, cuma akan capek kalau jalan kaki.     Di Wat Pho ini anda bisa berfoto-foto, lepas sandal dulu kalau masuk.  Sayangnya itu patung Budha yg tiduran, tidak bisa di foto utuh, sebab terlindungi oleh bangunan dan dikelilingi rantai dengan pengamanan ketat.  Mungkin jaga-jaga siapa tahu ada turis yang mau ‘nyuwil’ jarinya, kan lumayan … berapa gram emas tuh, he he he.

Dari Wat Pho, anda bisa kemana-mana ke Wat Wat yang lain, silahkan lihat peta!  Dan pulangnya nanti, silahkan ke dermaga terdekat, dan naik perahu lagi pilih jalur (warna/bendera) yang singgah di dermaga  Thaksin.  Dar Thaksin ini anda bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan BTS (ini sejenis KRL, tapi dijamin jauh lebih aman dan nyaman ketimbang  KRL jabotabek).

OK, ada pertanyaan?

silahkan, saya tunggu.


Hati-2 belanja di Pat Pong – Bangkok

02/08/2009

Sama juga dengan belanja di kaki lima Malioboro Yogyakarta Indonesia, atau di Petaling Chinatown KL Malaysia, namanya tempat tujuan wisata,  pasti sipenjual pengin ambil untung sebanyak-banyaknya.   Siapa tahu ada turis yang lagi pusing dan nggak mikir soal nilai-tukar uang, sehingga benar-2 bisa dikerjain.

Nah, dua hari lalu saya ke Pat Pong,  memang ini red-district area, tapi saya bukan mau ‘jajan’ di sana melainkan cuma mau mejeng alias berfoto saja, bukti bahwa sudah sampai Pat Pong he he hehe.   Dari hotel Imperial Queen Park tempat saya menginap, saya jalan kaki menuju Phram Phong BTS station (KRL nya Bangkok).  Dari Phram Phong ini naik BTS dan turun di Siam Station, ganti BTS menuju ke Sala Daeng.  Turun di Sala Daeng (ambil yg kiri sepur, bukan yang kanan), lalu menyusuri pertokoan.  Kira-2 75 meter, sampailah di Pat Pong.   Berfoto sejenak, hehehe.  Dan memang betul itu daerah lampu merah, banyak tempat hiburan malam.   Saya anjurkan sebaiknya jangan ke sini kalau memang mau jalan-jalan saja, karena akan banyak gangguan.   Banyak orang menjajakan ‘gituan’ tanpa tedeng aling-aling, dan ini mengganggu perjalanan saya yang memang cuma mau jalan-2.    Pat Pong ini ada dua jalan, satunya masih mending, karena banyak penjual macam-2 barang seperti halnya di Petaling (KL).   Sedang satunya lagi, wow … hati-2 banyak pondan yang cakep-2 dan bisa memaksa anda utk jajan.  Nah, ternyata, ketika saya mencoba menawar suatu barang, wah wah wah harganya bukan main mahal, ditawarkan dengan harga setinggi langit saudara-saudara …  tas yang seperti di pasar wonokromo saja, ditawarkan 4800 baht, saya pikir dia gila tuh… perkiraan saya 200 ribu rupiah saja lah.     Dan, para penjual itu selalu ‘memaksa’ agar kita membeli, kadang dengan cara kasar.  Memang boleh menawar, tetapi dengan pasang harga awal setinggi itu, kita mau berani nawar berapa?   Seandainya kita menawar separuhnya, maka dia sudah untung berlipat-lipat ganda.  Itu tas saya tawar 100 baht, dia muring-2, saya juga muring-2, tetapi dgn bahasa masing-2 …, tak pisuhi … jiannnnnc*k dia nggak ngerti hehehe dan sebaliknya.   Jadi kalau tak berani adu urat leher, jangan coba-2 menawar barang di sini.

Singkat kata, sebagai tips utk rekan-2 yang mau belanja di sana, tawarlah dengan harga sepersepuluh dari yang ditawarkan.   Dan ini tips jitu, biasanya berhasil, dan dia sudah untung serta kita tidak rugi, ini subyektif lho menurut pengalaman saya.   Sebagaimana di Malioboro kalau menawar, tawarlah sekitar seperempat dari yang ditawarkan penjualnya.

Memang begitulah penjual, selalu ingin cari untung besar, namun kalau penawaran awal terlalu tinggi, saya kira sudah tidak bermoral lagi tuh penjual.   Mestinya harga dikontrol pemerintah, dan keuntungan juga diatur.   Untuk hal seperti ini banyak negara yang belum bisa melakukan.

Bangkok (dan Pat Pong) ini, kalau tidak dibenahi, maka sektor turisme akan tiarap, dari koran yang saya baca hari itu, ternyata jumlah turis sudah turun sebesar 38% dibanding tahun lalu.    Saya jadi teringat, di Jogja dulu juga ada aturan dari pemda agar penjual makanan lesehan (di malioboro) wajib menampilkan daftar harga makanan, agar pengunjung tidak kena ‘thuthuk’ alias bayar muaahhhaaalll.

Salam.

hs


Pengamanan pasca BOM

18/07/2009

saya amati, biasanya setelah terjadi ledakan bom, maka prosedur pengamanan diperketat, baik di lokasi ledakan maupun di lokasi-2 yang serupa. misalnya kalau ledakan di hotel, maka hotel-2 yang serupa (kelasnya terutama) melaksanakan pengamanan yang ekstra ketat. juga restoran, mal-2 yang sekelas.

kisah terbaru, kemarin terjadi ledakan bom di Ritz-C dan JWM Jakarta, maka JWM Surabaya juga kemudian melakukan pengamanan yang katanya siaga-1.

ini hal yang klasik, setelah kejadian, baru diadakan pengamanan. bukan hanya soal bom, soal pesawat celaka juga sama, setelah ada satu pesawat rusak rodanya misalnya, maka ramai-2 pesawat lain juga memeriksa roda-nya. menurut saya, ini bagus, daripada tidak diperiksa sama sekali. ada contohnya, ketika pesawat express-air celaka, karena pilotnya kaget melihat anjing melintas di runway, ternyata setelah kejadian itu, tidak ada pengamanan yang dilakukan di bandara-2 sejenis. di sorong itu, ojek masih lewat, di manokwari ehh ada juga sapi berkeliaran, kepriben coba.

kembali ke soal bom.
menurut pengamatan saya, bom tidak akan meledak ditempat yang sama dalam waktu yang sekuens (hitungan hari/minggu misalnya), artinya hari atau minggu berikutnya bahkan bulan berikutnya, tidak ada kejadian bom meledak berulang. jadi sebetulnya peningkatan pengamanan yang dilakukan ya sia-sia saja. (hmmm gimana? tidak sependapat? boleh kok).

mestinya -usul saya nih- .. pengamanan dilakukan setiap saat, setiap hari, bukan setelah ada bom meledak, tetapi dengan cara-cara yang ’soft’, tidak terkesan ‘menakutkan’ atau gamblang. gimana tuh? saya yakin petugas keamanan tahu soal ini (kalau belajar dgn betul). kayak pramusaji di rumah makan tuh, jangan bengong nungguin tamu makan di deket mejanya, melainkan berdiri jauh sambil terus memonitor apa yg terjadi pada tamu dan meja makannya, dari jauh boleh, dari balik kaca searah juga boleh, remote boleh, cctv juga boleh, pasti ada caranya deh.

jadi, mestinya, ketika ada orang nyeret-2 tas hitam atau koper ke restoran, mondar-mandir mencurigakan, mestinya sudah tahu dan curiga dan segera diamankan, tapi tidak dilakukan ‘kan? keburu meledak itu isi tas!

singkat kata, jangan lengah sedetikpun! tapi jangan kasat mata ketika memonitoring, ini ilmu biasa saja kok!

salam eksplosif !


terbalik

16/07/2009

kalau anda dihadapkan pada tabel yang berisi misalnya field nama dan nomor KTP, kemudian diminta melakukan pencarian, maka keyword apakah yang anda masukkan? nama atau nomor KTP?

sudah pasti jawaban anda 90% adalah nama, bukan nomor KTP. yang menjawab nomor KTP sebagai keyword, hanya orang iseng saja yang mencari “siapa ya yang bernomor KTP xxx xxx xxx”.

tapi, tunggu dulu, itu semua tergantung kepentingan, misalnya kalau tabel berisi field DNS dan IP Address, maka seringkali justru IP address yang kita jadikan keyword untuk mencari DNS-nya. contoh: blog saya ini ada yang mengakses dari nomor IP 58.139.248.9 , nah siapa tuh atau dari mana sipengakses berada, gitu.

umumnya, keyword adalah yang diketahui, dan berdasarkan keyword itulah field lain pada record yang sama akan ditampilkan (itu yang dicari). jadi, ya tak mungkinlah kita mencari nama kita berdasarkan keyword nomor KTP kita, edan po?

ini hal yang sederhana, tapi masih ada juga pihak-2 yang mengembangkan aplikasi (berbasis web juga), yang masih melakukan kesalahan fatal ini, contohnya di http://nisn.jardiknas.org atau http://npsn.jardiknas.org/

mana ada orang mencari nama sekolah berdasarkan NPSN-nya, mana ada orang mencari nama siswa berdasarkan NISN-nya, itu namanya kebalik. lagi pula utk memasukkan keyword berupa nomor-2 itu, belum tentu kita tahu formatnya, berapa character dlsb. apa anda ingat, format nomor KTP/NISN/No Passport/No apa saja milik anda? paling-2 yang anda ingat cuma nomor pin ATM anda, he he he …. iya nggak?

nomor-nomor itu, angka-angka itu (baca key field) itu tak berarti untuk entitasnya (physical entity), justru sangat berarti untuk ‘mesin’-nya (baca: proses di komputer), karena key-field adalah penentu, penciri dari suatu record.

tapi ya sekali lagi tergantung kepentingan atau kebutuhannya, siapa tahu ada orang yang butuh mengetahui namanya sendiri, karena lupa namanya sendiri, justru dia hanya ingat nomor KTP-nya. tapi berapa persen sih yang edan kayak gini?

nah, anda pengembang perangkat lunak SI, hati-hati soal ini ya …coba cek lagi produk anda …

salam database !!!


Bandara

15/07/2009

Minimal, bandara mestinya tertutup, entah apa kelas bandara tersebut. Jangan sampai ada ‘pihak tak berkepentingan’ masuk bandara. Jadi, bandara mestinya dipagar dgn ketat, tak boleh sembarangan orang bisa keluar masuk bandara, mestinya hanya penumpang dan petugas saja yg bisa masuk ke bandara. Pengantar-pun harusnya diberi tempat yang jelas, dan terpisah dr penumpang. Para pengangkut barang, mestinya juga harus berada di luar, di teras saja, tidak perlu masuk sampai bisa mengambil bagasi segala. Atau lebih baik lagi tidak perlu ada pengangkut barang, cukup disediakan troli saja.

Saya yakin, untuk bandara-2 di tingkat kabupaten, hal ini bisa dilakukan, kalau tidak bisa maka sebaiknya tidak usah ada bandara – belum waktunya- , artinya sikon (budaya, sdm, sop, manajemen, infrastruktur) belum siap.

Risih dan tidak aman rasanya, bila turun dari pesawat, masuk ruang utk ambil bagasi, di sana sudah dikerubuti para pengangkut barang dan sopir taxi/ojeq. (contoh: bandara-2 di Papua). Padahal, hal ini mestinya tidak perlu terjadi, dan saya yakin bisa di atasi.

Aneh juga rasanya, ada pengantar yang bisa masuk sampai dalam pesawat, lalu turun lagi, karena memang cuma mengantar. Aneh dan ajaib pula ternyata di bandara ada ojeq melintas di ‘run-way’. Belum lagi berbagai binatang yang berseliweran, misalnya anjing, babi, sapi dll termasuk burung-2. (ingat ada pilot kaget ketika anjing melintas di bandara, dan membuat pesawat celaka?)

Sekali lagi, mestinya, minimal bandara di-isolasi dari pihak-2 yg tidak berkepentingan, pasang pagar, buat aturan, dan jalankan aturan, saya yakin bisa dilakukan.

Kalau tidak bisa? Hmmmm coba beri saya wewenang, 1 bulan saja utk membereskan masalah ini, saya yakin bisa mengatasinya.

(* he he he …siapa juga yg mau memberi wewenang … *)


70 Persen Perokok, Menengah Bawah

13/07/2009

http://cetak. kompas.com/ read/xml/ 2009/07/01/ 03481187/ 70.persen. .perokok. menengah. bawah

Rokok

70 Persen Perokok Menengah Bawah

Rabu, 1 Juli 2009 | 03:48 WIBJakarta, Kompas – Saat ini lebih dari 70 persen dari 60 juta perokok di Indonesia adalah mereka yang berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah.
“Ada lingkaran setan antara merokok, kemiskinan, malanutrisi, dan kebodohan. Anak-anak juga menjadi korban. Rokok itu pintu gerbang kehancuran bangsa,” kata mantan Menteri Kesehatan Prof Farid Anfasa Moeloek saat peluncuran buku berjudul Tembakau: Ancaman Global di Jakarta, Selasa (30/6).
Buku yang diterjemahkan dari karya John Crofton dan David Simpson ini disunting oleh Muherman Hasan, dokter ahli paru- paru. John Crofton adalah tutor dari Muherman Hasan selama 20 tahun untuk upaya pemberantasan tuberkulosis (TB).
Kini konsumsi rokok di Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia setelah China dan India. Semula Indonesia nomor lima. Tidak heran jika lebih dari 60 juta orang membelanjakan uangnya untuk membeli rokok. Mereka rata-rata menghabiskan 11 batang rokok per hari.
Secara nasional belanja bulanan untuk rokok pada keluarga perokok menempati urutan terbesar kedua (9 persen) setelah beras (12 persen).
Yang lebih memprihatinkan, dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2006, kelompok keluarga miskin terbukti mempunyai proporsi belanja rokok yang lebih besar (12 persen) daripada kelompok terkaya yang hanya 7 persen.
“Belanja bulanan rokok pada keluarga miskin tahun 2006 setara dengan 15 kali biaya pendidikan dan sembilan kali biaya kesehatan. Jumlah tersebut setara dengan 17 kali pengeluaran untuk daging, dua kali lipat untuk membeli ikan, serta lima kali lipat untuk beli susu dan telur,”kata Tulus Abadi, anggota Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).
Survei tahun 1999-2003 pada lebih dari 175.000 keluarga miskin di perkotaan menunjukkan, tiga dari empat kepala keluarga (78,8 persen) adalah perokok aktif. Belanja mingguan membeli rokok menempati peringkat tertinggi (22 persen), jauh lebih besar daripada pengeluaran makanan pokok beras (19 persen). Sementara itu, pengeluaran untuk telur hanya 3 persen dan ikan hanya 4 persen.
Perilaku merokok kepala rumah tangga berhubungan erat dengan gizi buruk, yaitu prevalensi anak sangat kurus, berat badan rendah, dan anak sangat pendek.
“Studi sejenis pada 2000-2003 pada lebih dari 360.000 rumah tangga miskin di perkotaan dan pedesaan membuktikan kematian bayi dan anak balita lebih tinggi pada keluarga yang orangtuanya merokok daripada yang tak merokok,” ujar Tulus. (LOK)


Merpati tak pernah (tak) ingkar janji

13/07/2009

Ada film, novel dan lagu yang berjudul “Merpati tak pernah ingkar janji”. Merpati ini memang melambangkan ‘kesetiaan’, komitmen!!!

Tetapi penglaman saya dengan “Merpati” yang satu ini, sungguh berbeda.

Begini ceritanya.

Lewat adik saya di WITA-TOUR, saya membeli tiket penerbangan Surabaya-Manokwari dan Manokwari-Sorong. Tiket ini saya beli jauh-2 hari sebelumnya dengan maksud agar perjalanan nyaman dan tepat waktu. Ketika hari ‘H” tiba, saya berangkat ke bandara Juanda, lalu check-in dan masuk dalam ruang-tunggu. Awalnya semua tampak lancar. Namun ketika jam menunjukkan pukul 23.00, tidak ada tanda-tanda apapun, padahal itu adalah jam keberangkatan sesuai dgn yg tercantum dalam tiket. Lalu ada pengumuman, penerbangan ditunda 1 jam. Satu jam berlalu, kemudian ada pengumuman lagi, penerbangan dibatalkan karena alasan teknis. Hanya itu saja pengumuman yang terdengan dari pengeras suara. Maka tak ayal lagi banyak penumpang berkerumun di meja petugas utk meminta penjelasan, suasana menjadi ribut dan hiruk pikuk. Seharusnya diberikan pengumuman dengan jelas, misalnya penumpang diberi penginapan, ditunda utk penerbangan berikutnya, atau tiket dikembalikan dan diberi kompensasi, atau apasajalah yang menenangkan penumpang, bukan dibiarkan begitu saja sehingga terjadi keributan. Kasihan juga petugas darat merpati dikeroyok banyak penumpang! Setelah situasi agak reda, giliran saya yg bertanya pada petugas, “Mas mas, siapa bos-nya di sini, tolong antarkan saya pada beliau, saya mau tanya, mengapa terjadi seperti ini, dan saya yakin Masnya kan tidak tahu dan tidak salah, jadi antarkan saya pada boss anda”. Ehh responnya positif, saya diajak keluar utk ditemukan pada bossnya, ..,…dalam perjalanan saya ngobrol dgn Mas petugas itu, “kenapa sih pengumumannya kok cuma ..dibatalkan begitu saja …” dia menjawab lha memang begitu yg dia dapatkan, dan masih menunggu kepastian ‘hotel/penginapannya”…lalu saya katakan “lha itu yg penting, harus disampaikan kepada penumpang kalau memang harus menunggu..”…lalu saya putuskan utk tidak jadi menemui boss-nya, kita kembali saja, menunggu.

Ketika kembali ke ruang tunggu, ehhhh ada pengumuman lagi, “dipersilahkan naik ke pesawat udara, penerbangan ke Manokwari tidak jadi dibatalkan, kita mendapatkan ijin utk terbang”, jam menunjukkan pukul 00.30. Maka berbondong-bondong penumpang yg masih setia, utk naik pesawat, sebagian lagi sudah ngacir meninggalkan bandara, pulang atau entah kemana.

Kira-kira setengah jam dalam pesawat yang panas bukan main (AC tak hidup), semua penumpang gelisah, pesawat tak bergerak, dan akhirnya ada pengumuman, “penumpang dipersilahkan turun, pesawat tak dapat terbang”. Wow ….amazing ..man.
Kami semua kembali turun ke ruang tunggu, dan diumumkan bahwa penerbangan ke Manokwari ditunda dua hari lagi. Sekali lagi dua hari (DUA HARI) saudara-saudara. Dipersilahkan mengambil bagasi dan menuju hotel yang telah disediakan.

Maka setengah mengemis dan memasang tampang memelas, saya mohon utk dipindah ke penerbangan lain, dan menurut petugas darat saya diminta kembali ke bandara pukul 05.00 pagi. Setelah tidur sebentar di hotel, maka kam 05.00 saya sudah berada di bandara kembali, dan menemui petugas. Dan Alhamdulillah, saya dapat tiket pesawat lain pagi itu, yaitu pesawat “express air’, tanpa dipungut biaya apapun, thanks banget Merpati, walau saya tertunda sehari.

Singkat kata, acara di Manokwari sukses walau harus sedikit ‘akrobat’ dgn jadwal. Nah, giliran terbang ke Sorong nih. Ketika tiba di manokwari saya segera konfirmasi tiket saya ke Sorong, dan dijawab merpati status OK, ini terjadi hari Senin. Dan jadwal saya ke Sorong hari Jumat. Pada hari Kamis sore, iseng-2 saja saya mampir ke kantor merpati, menanyakan lagi status tiket saya, bagai disambar petir saya terima berita bahwa “besok tidak ada pesawat ke Sorong”, kata petugas, “kenapa?” tanya saya,” memang di jadwalnya tidak ada, uang tiket dapat dikembalikan dan dipersilahkan mencari sendiri penerbangan pengganti”
WOWWWW…. ini dia nih, terjadi juga hal-2 yg saya khawatirkan. Bayangkan saudara-saudara, uang dikembalikan sebesar yang tertera di tiket, dan diminta mencari penerbangan pengganti sendiri. Atau kalau masih beruntung bisa ikut penerbangan merpati berikutnya di hari minggu (artinya dua hari lagi). Saya tidak mau beradu argumen, sudah jelas masalahnya bahwa merpati sudah angkat tangan, maka dengan senyum manis dan ramah saya minta uang saya sebesar 670ribu, dan kemudian mencari tiket lain yaitu “express air”, seharga 1,2jt, beruntung saya dapat ‘katut’ di express air, maklum lewat jalur amat khusus yaitu jalur ‘intel’ (thanks to aparat intel Manokwari, thanks buat Mr. X yang ganteng dan gondrong padahal polisi, yg mengantarkan saya kemana-mana dgn rush or innova hitam). Saya naik express-air hanya berbekal boarding-pass, tanpa tiket, entah apa jadinya jika pesawat itu lenyap, nama saya pasti tak tercantum dalam daftar, hehehhe.

Sampai di Sorong dgn selamat, dan pada hari minggu, keponakan saya yang anggota KPU itu menelpon dari bandara “Edward Osok Sorong”, “Om tolong jemput saya ya, saya dari manokwari mau ke jakarta pakai Merpati, tapi pesawatnya olinya bocor, jadi tidak bisa terbang, tadi landingnya kasar sekali, pesawat ditunda senin katanya”. walah …. itu kan pesawat yang ditawarkan kepada saya tempo hari, ternyata bermasalah juga. Lalu saya tancap gas Kuda Mitsubishi hitam ke bandara, dan kita tertawa ngakak bersama, akhirnya besok senin kita berangkat bareng, saya ke SBY dia ke JKT, tapi saya naik express-air, dan dia naik ‘Merpati”. Sempat bertemu ketika transit di makasar, dua hari berikutnya kita bertemu di jogja, dorong-2 karimun biru yg mogok kerena tali alternator putus.

Ketika di Manokwari, saya diberitahu oleh teman-2 yang sering mondar-mandir naik pesawat, pesannya adalah, “jangan naik merpati, letakkan merpati pada pilihan terakhir, karena merpati seringkali ingkar janji”. dan ternyata memang benar apa kata teman-teman saya tersebut.

Cerita masih berlanjut.

Di Surabaya, setelah membereskan acara ‘bedol-desa’, alias pindah rumah dari Jogja ke Surabaya, adik saya yang sedang bertugas di Malang memberitahu saya, mau mampir ke rumah, dan menginap, karena akan ke Sorong pada hari Senin pakai merpati. NAIK MERPATI? walah …walah timbul kekhawatiran saya. Singkat kata, adik saya itu nyangkut di makasar sehari, pesawat rusak katanya.

Masih ada cerita yang terselip lho.

Waktu di Manokwari, sehari setelah saya tiba, keesokan harinya teman saya (Rektor Unipa) juga nyangkut di Makasar, naik merpati juga, hal itu membuat acara teman saya juga berantakan.

–ooOoo–

Itu secuil kisah saya bersama Merpati. Mungkin ada baiknya jika pihak Merpati mulai mengevaluasi diri, dan menetapkan langkah-langkah kongkrit untuk meningkatkan performancenya. Bagaimanapun transportasi di papua banyak mengandalkan penerbangan.

Selain itu utk pemerintah (daerah?), kiranya baik kalau ijin penerbangan juga diberikan dengan mudah ke berbagai maskapai penerbangan lain, sehingga akan banyak alternatif, dan dapat menurunkan harga, serta pada gilirannya kelak dapat memajukan tanah Papua (ini tanah tempat saya dibesarkan lho). Juga, saya kira baik sekali kalau mulai dipikirkan pembuatan infrastruktur (misalnya jaringan jalan raya) antar kabupaten di Papua.

Dan akhirnya buat saudara-saudara saya di Papua, baik di pemda atau non-pemda, tetaplah semangat dan selalu meningkatkan kinerja anda dengan meletakkan kepentingan umum (masyarakat luas) di atas kepentingan pribadi atau golongan demi memajukan tanah Papua.

Bravo Papua.

Amoke.


Hilangnya ‘R’ di Malaysia.

31/05/2009

Anak-anak balita di Jawa, ketika belajar mengucapkan huruf ‘R’, kadang diminta mengucapkan sepotong kalimat ini “laler menclok rel”. Lalu ulangi dengan cepat “laler menclok rel”, “laler menclok rel” …gitu. Kalau sudah lancar tentu tidak akan ‘terpeleset’, dan kalau terpeleset, maka diangap kejadian yang lucu dan menggembirakan. Di balik itu tutuntutan untuk dapat mengucapkan/melafalkan huruf ‘R’ ini cukup tinggi, sehingga hanya sebagian kecil orang Indonesia yang tidak dapat mengucapkan ‘Rrrrrrrr’.

Saya sering memperhatikan bahwa orang Malaysia, benar-benar telah kehilangan ‘R’ itupun seandainya dulu mereka punya ‘R’. Orang Malaysia, akan menghilangkan huruf R di akhir kata atau suku kata. Misalnya kata ‘tidur’ mereka akan mengucapkan dengan ‘tidu’, benar-benar tanpa ‘R’. Demikian juga kata-kata yang lain yang berakhir dengan ‘R’. Misalnya ‘benar’, ‘besar’, ‘lapor’, ‘wajar’, ‘lancar’, ‘kejar’, ‘Selangor’, ‘Kuala Lumpur’, semua diucapkan benar-benar tanpa ‘R’ bukan sedikit ‘R’. Kata ‘kerja’ juga diucapkan ‘keje’ gitu aja, bukan hanya ‘R’ yang hilang, namun ‘A’ pun berubah jadi ‘e (pepet)’. (Masih ingat Pak Harto dulu mengucapakan akhiran ‘kan’ dengan ‘ken’? nah ini mirip)

Sedangkan kata-kata yang di tengahnya mengandung ‘R’ maka akan diucapkan sedikit ‘R’, seperti anak kecil yang sedang belajar mengucapkan ‘R’, atau orang bilang agak ‘celat’ begitu. Misalnya kata ‘berita’, ‘hari’, ‘kereta’ dll, coba tengok di TV kalau ada iklan surat kabar “BERITA HARIAN”, bisa kita cermati pengucapan ‘R’ yang unik di sana.

Sejak kapan ‘R’ hilang? dan apa sebabnya?

Wah, saya tidak tahu, saya bukan pakar Bahasa Melayu. Nilai Bahasa Indonesia sayapun tidak sebagus nilai matematika saya. Tetapi saya duga, ini semua gara-gara Inggris yang menjajah Malaysia, sehingga bahasa Inggris benar-benar sangat mempengaruhi Bahasa Melayu terutama dalam wacana lisan (bukan tulisan). Seperti kita tahu, dalam bahasa Inggris, ‘R’ memang tidak kentara, hanya sayup-sayup saja. Nah, makin lama hal ini berlaku turun-temurun di Malaysia. Sehingga alat artikulasi utama mereka tidak terlatih untuk mengucapkan ‘R’. Saya amati, anak-anak kecil sekarang (usia TK, SD), di Malaysia, sudah tanpa ‘R’, dan tidak berusaha mengucapkan ‘RRRR’ yang benar-benar bunyi ‘RRRRR’.

Rico, anak teman saya, ketika di Indonesia sering diolok-olok temannya karena belum bisa mengucapakan ‘R’, ketika pindah di Malaysia, senangnya bukan main. Karena semua teman-temannya sama celatnya dengan dia.

Nah, coba ucapkan ‘laler menclok rel’ (ini bahasa Jawa lho).


Pakai tissue atau air ?

29/05/2009

Maaf nih ya, mau ngomong jorok!

Sejak kecil, kalau ke belakang, saya selalu menggunakan WC model jongkok, karena adanya ya cuma jenis itu. Maka sudah terbiasa bagi saya untuk menggunakan WC jongkok dan, membilasnya pakai air. Itupun bukan model semprotan taman spt sekarang, melainkan pakai gayung dan bak air. Jadi, pembersihan dilakukan dengan menggunakan air. Bukan yang lain.

Sekarang ini, di rumah saya, ada dua WC yang satu WC jongkok yang satunya lagi WC duduk. Entah sejak kapan saya sudah lupa, kapan saya mulai pakai WC duduk. Yang jelas, sungguh sulit bagi saya berubah dari gaya jongkok ke gaya duduk. Beneran nih, suwer wer wer. Ketika pakai gaya duduk, wah …nggak bisa berlangsung dengan lancar. Bahkan dulu sering, WC model duduk, saya pakai dengan jongkok style, nangkring di atasnya, walhasil, itu WC jadi ‘uglak-uglik’ alias nyaris copot, he he he.

Perlu waktu yang sangat lama bagi saya utk mengubah style dari jongkok ke duduk. Sekarang, sudah biasa….., sudah bisa …. bisa karena biasa …begitu. Tapi ada kebiasaan yang tidak bisa saya tinggalkan, yaitu baca koran sambil nongkrong di WC. Yang ini masih berlangsung sampai sekarang.

Tapi masih ada satu masalah besar bagi saya, ketika dengan terpaksa menggunakan WC yang duduk style, dan tidak tersedia air tapi hanya tersedia tissue. Wah ini betul-betul problem besar buat saya. Bagaimana cara memakai tissue pun tidak pernah ada yang mengajari. Wis jaaaan, semprul tenan. Jadi ya makai tissue sebisa-bisanya, dan walau habis segulung, tetap saja merasa belum bersih. Aneh memang menurut saya. Bagaimana membersihkan ‘itu’ kok pakai tissue. Biasanya, saya tetap mencari air (dan sabun tentunya) walau sudah memakai tissue tadi.

Untungnya, kini di beberapa tempat ada dua pilihan, WC pakai air, atau WC pakai tissue. Di beberapa bandara sudah tersedia dua pilihan ini (luar negri maksud saya). Termasuk di kantor saya sekarang ini, sudah ada dua jenis WC. Semua boleh pilih sesuai selera. Jadi, ….sudah tidak masalah.

Saya paling takut kalau sampai ada fatwa yang mengharuskan ke WC harus pakai tissue, dan tidak tersedia alternatif pakai air.

Hmm bisa gaswat saya.
bagaimana dengan anda?


Teks Lucu

27/05/2009

saya sering pergi-pergi, paling seneng pergi lewat darat. sering saya temui tulisan yang mengundang senyum, terutama di box truk, di bagian belakang bus, atau di bagian belakang angkot/angkudesa atau berbagai moda angkutan lainnya.

ini beberapa yang saya temui:

1. “antar kota antar nona” di belakang bus AKAP Jogja-Surabaya
2. “ber-2-1-7-an” di pantat ojek pretelon janti
3. “ku-5-won” di truk pasir magelang

dll,

yang paling bikin saya terpingkal-pingkal adalah:

MBEL-GHEDEZ-BENZ

di sebuah bis Mercy Jkt-jogja.

ada ada saja ekspresi wong-cilik, lucu dan menyegarkan …
lha kalau wong gedhe kepriben? ….paling-paling saling sindir terus stress terus stroke !


Sate Celup Capitol – Mallaca

24/05/2009

satecelup3
Ini di Mallaca atau orang Melayu bilang Melaka.

Ke kota bersejarah warisan dunia ini, jangan lupa mampir ke Sate Celup Capitol, letaknya di dekat Gereja Katolik St. Francis. Dari gereja tsb jalan saja ke selatan, lalu ada pertigaan belok kiri, nah rumah makan sate celup ada di sana. Tetapi jangan salah masuk, di jalan tersebut ada dua Sate Celup, ambil yang paling ujung.

Sate Celup Capitol ini ramai dikunjungi orang terutama pada saat ‘week-end’, so kalau ke sana pas week-end, maka harus antri dengan sabar, sebab kapasitas meja hanya 8 biji, yang antri bisa 30-an orang. Parkirpun sulit, maka sebaiknya parkir saja di dekat gereja tadi, lalu jalan kaki! Kemarin saya ke sana pas hari Kamis, tidak ramai.
satecelup1
Apa istimewanya?

Di tengah meja bundar itu ada bolongannya, ada kompor gasnya, nah di atas kompor itu diletakkan ‘kuah utk mencelup sate’, yang berbumbu macam-macam. Entah apa saja, katanya itu bumbu ’sulit’ (maksudnya rahasia). Yang jelas, terasa seperti bumbu kacang. (ingat bumbu gado-gado atau bumbu siomay Bandung). Nah, sateya berupa rebusan setengah matang segala macam jenis makanan yang telah ditusuk dalam bentuk sate. Ada kerang, udang, tahu, jamur, kangkung, fish-ball, dan entah apa lagi, kulit sapi (rambak orang Jawa bilang) juga ada. Satu tusuk harganya 70 sen.

Silahkan anda pilih satenya, lalu masukkan ke dalam kuah tadi dan tunggu hingga matang. Harus tahu kapan matang atau masih mentah atau bahkan over-cooking. (saya ingat sewaktu makan yakiniku, nggak tahu kalau masih mentah, saya makan saja, dan akhirnya sakit tenggorokan dua bulan).

Rasanya? Hmmmmm … kata teman saya sih sedap banget. Tapi kata saya sih biasa saja, nggak ada istimewanya, yah soal selera boleh beda kan? he he he he. Saya masih lebih memilih makan di XO Tunjungan Plasa.
satecelup2
Ada yang menarik di sana, yaitu jika anda wanita dan mampu menghabiskan 81 tusuk sate, maka tidak usah bayar, alias gratis!
Hmm, aneh aneh saja promosinya.

Satu lagi, waitress-nya orang Indonesia, saya panggil ‘mbak …mbak ..tolong ambilkan degan’, eh dia noleh dan ngerti, jebul wong Tulungagung!


Saya mau keluar dari facebook!

21/05/2009

fb
Saya mau keluar dari facebook!

Kenapa?

He he he …. saya jadi kecanduan, tiap hari tiap saat selalu mengecek facebook, dan itu ternyata membutuhkan banyak waktu. Memang pinter bener tuh yang buat facebook. Sampai-sampai penjualan eblek-eblek-beri meningkat tajam, juga hape dan pelanggan operator seluler. Ini membuat orang ‘nempel terus’ sama gadget-nya. Ruarrrr biasa perkembangan pengguna dan penggunaan facebook ini, silakan cek di www.alexa.com.

Selain kecanduan, saya juga kadang-kadang kurang teliti menuliskan atau mengunggah sesuatu melalui account facebook saya. Dan itu, bisa berakibat fataaaallll. Untung saja hal itu belum terjadi. Bayangkan saja, saya terjaring dengan banyak orang yang saya kenal, ada teman kerja, ada teman SMA bahkan teman SD, ada boss saya, ada anak buah saya, ada juga boss saya di tempat kerja yang lain lagi, ada keponakan-2 saya, ada juga anak-anak saya yang masih kecil, semua terjaring dengan saya. Dan, ketika saya mau mengunggah atau menulis sesuatu, saya harus berpikir bahwa hal itu akan dibaca oleh semua ‘teman’ saya tadi. Padahal mungkin saja unggah-an saya tidak cocok untuk beberapa pihak (sakin variatif-nya ‘teman’ saya). Jadi, justru merepotkan saya.

Asyiknya adalah, kita bisa tahu situasi/kabar/keadaan teman kita (kalau dia menuliskan statusnya lho), dan kita bisa memberi komentar balik. Kadang kita bisa langsung chatting, jadi bisa ngobrol, saling curhat mungkin. Atau ada yang menggunakan utk mengecek anak-buahnya, kalau saya mengecek anak saya. Atau seperti mas Bowo yang punya 90 ekor kuda itu, dia selalu memberi info pada fans-nya. Ada juga kuis, game dll yang sifatnya semua hanya for fun saja. Fun ? iya …. jadi sebetulnya utk refreshing lah …., tentu tersenyum gembira dan terpingkal-pingkal ketika saya melihat foto saya ketika masih SMA dan sedang bermain gitar. Atau foto-2 waktu SMP yang masih culun-culun. Kadang terlihat narsis-nya juga, hampir semua peserta facebook menampilkan foto ketika mereka di luar negri. Mungkin “ini lho saya sudah sampai Jerman, hehehehe”, tidak apa-apa sih. Hampir nggak ada yang mejeng di tempat pembuangan akhir sampah (opsss sorry ya Mbok De).

Dan menurut saya, informasi yang diberikan, bagi saya 90% tidak bermanfaat, hanya basa-basi biasa. Tapi mungkin justru inilah kekuatan facebook ini, karena memang sebagian besar kita suka basa-basi. Bayangkan ya, tiap hari saya membaca posting-an misalnya “hari ini hujan”, “sekarang panas”, “lagi makan soto”, “ikut kuis xyz”, belum lagi yang aneh-aneh yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Masih mending kalau promosi sesuatu, sehingga ada tambahan info, atau informasi berharga lainnya. Jadi saya kebanjiran informasi yang tidak bermanfaat bagi saya.

Satu ‘teman’ saya bilang, “jangan berteman dengan teman sekantor”, he he he, takut ketahuan seharian fesbuk-an melulu, padahal di kantor dilarang. Satu teman lain yang bekerja di bidang IT bilang “di kantor saya semua dilarang, sudah saya blokir ….. kecuali utk saya sendiri hehehehe”. Ada lagi teman lain, dosen nih, “silahkan blokirrrr, fesbuk jalan terus”, buktinya ketika nguji skripsi dia sempat fesbukan, mungkin dia sangu modem sendiri, atau mbolongi blokiran. (ini kerjaan lama saya nih …..)

Ada lagi, satu teman, tiba-tiba saja dia beli modem, lalu fesbukan dari rumah, karena di kantor tidak bisa. Dan tiap malam sekarang dia OL terussssss. Saya bayangkan, keluarganya akan dinomorsekiankan, he he hehe. Semoga saja pasangannya tidak marah-marah ….tersaingi laptop.

Jadi, saya mau keluar dari facebook.

Selamat tinggal teman-2 facebook saya, sampai jumpa lagi.
(artinya …. nanti saya kembali ikut facebook lagi he he he he).